Jakarta, iNBrita.com – Perkembangan belanja online mengubah cara pemilik mobil membeli suku cadang.
Dulu, konsumen harus datang langsung ke pusat sparepart untuk mencari komponen kendaraan. Kini, mereka cukup membuka smartphone, memilih barang, membayar, lalu menunggu pesanan tiba di rumah.
Setelah itu, pemilik kendaraan tinggal membawa komponen tersebut ke bengkel untuk memasangnya.
Perubahan kebiasaan konsumen itu ikut memengaruhi aktivitas pedagang suku cadang di lantai lima Mal Atrium Senen, Jakarta Pusat.
Pusat sparepart yang selama ini menjadi salah satu lokasi berburu komponen kendaraan di Jakarta tersebut kini menghadapi tantangan baru. Pedagang harus berhadapan dengan persaingan harga, biaya iklan digital, potongan marketplace, hingga penjual komponen rekondisi.
Pedagang Sparepart Hadapi Perang Harga Online
Egy, pengelola toko Jaya Abadi yang fokus menjual suku cadang Nissan dan Datsun, merasakan langsung perubahan tersebut.
Ia pernah mencoba menjual produknya melalui platform online. Namun, persaingan harga membuatnya kesulitan mempertahankan keuntungan.
Menurut Egy, selisih harga hanya Rp5.000 bisa membuat konsumen berpindah ke toko lain.
“Dulu sempat main online, cuma kalah saing. Sekarang tahu sendiri, beda harga Rp5.000 saja pembeli langsung berpaling. Padahal kita ada modal packaging dan modal usaha yang besar,” ujar Egy kepada Kompas.com, Senin (28/9/2026).
Kondisi tersebut membuat pedagang sulit mengikuti perang harga yang terjadi di marketplace.
Jika satu toko menjual barang seharga Rp200.000, pedagang lain bisa menawarkan produk serupa dengan harga Rp180.000. Penjual berikutnya kemudian kembali memangkas harga untuk menarik pembeli.
Egy menilai pola tersebut sulit dipertahankan oleh toko yang harus menanggung biaya operasional dan modal barang.
Pedagang Soroti Peredaran Suku Cadang Rekondisi
Selain perang harga, Egy juga menyoroti peredaran komponen rekondisi di platform digital.
Ia mengaku menemukan penjual yang menawarkan barang bekas atau komponen yang sudah diperbaiki kembali kepada konsumen.
“Di online itu kita enggak tahu, ada saja yang nakal. Ada yang pakai barang-barang rebuild atau servisan, barang sudah rusak diperbaiki lalu dijual lagi,” katanya.
Menurut Egy, kondisi tersebut membuat persaingan semakin sulit bagi pedagang yang menjual barang sesuai spesifikasi dan kondisi yang jelas.
Persaingan juga semakin ketat ketika sejumlah importir memilih menjual produknya langsung kepada konsumen melalui platform digital.
Pedagang toko fisik akhirnya harus bersaing dengan pemasok yang memiliki akses barang lebih besar.
Biaya Iklan Marketplace Ikut Menggerus Keuntungan
Tantangan serupa dirasakan Alan, pemilik toko Sentral Motor yang fokus menjual suku cadang BMW dan Mercedes-Benz.
Alan memilih tetap memanfaatkan penjualan online, terutama untuk produk fast moving yang memiliki permintaan tinggi.
Namun, strategi tersebut tidak serta-merta meningkatkan keuntungan.
Potongan marketplace dan biaya promosi justru mengurangi margin yang diperoleh pedagang.
“Saya juga main online, jual barang-barang fast moving yang memang banyak laku. Cuma ya keluhannya sama, potongan aplikasinya gede, ditambah lagi biaya iklan yang naik terus,” kata Alan.
Pedagang harus mengeluarkan biaya tambahan agar produknya muncul lebih mudah di hadapan calon pembeli.
Semakin ketat persaingan, semakin besar pula kebutuhan untuk melakukan promosi.
Konsumen Kini Lebih Sering Belanja Lewat Smartphone
Perubahan perilaku konsumen juga terlihat dari jumlah pengunjung bursa sparepart.
Alan mengatakan konsumen kini semakin jarang datang langsung ke toko.
Mereka lebih sering menghubungi pedagang melalui smartphone, termasuk menggunakan WhatsApp untuk menanyakan ketersediaan dan harga barang.
“Sekarang orang sudah jarang yang datang langsung. Semua bertransaksi lewat handphone, lewat WhatsApp. Jarang sekali yang mau menyempatkan datang ke toko,” ujarnya.
Kemudahan tersebut membuat konsumen tidak perlu menghabiskan waktu dan biaya perjalanan hanya untuk mencari komponen kendaraan.
Namun, kemudahan transaksi digital juga membuat pusat sparepart fisik kehilangan sebagian aktivitas yang sebelumnya menghidupkan kawasan tersebut.
Berburu Sparepart di Toko Fisik Punya Pengalaman Berbeda
Meski belanja online menawarkan kepraktisan, toko fisik tetap memiliki pengalaman yang sulit digantikan oleh layar smartphone.
Pembeli dapat melihat langsung bentuk komponen, memeriksa kondisinya, berdiskusi dengan pedagang, hingga melakukan tawar-menawar.
Konsumen juga bisa mendapatkan rekomendasi dari pedagang yang memiliki pengalaman menangani berbagai jenis kendaraan.
Pada kondisi tertentu, pembeli bahkan dapat langsung meminta pemasangan komponen di lokasi.
Karena itu, keberadaan bursa sparepart fisik tidak hanya berkaitan dengan aktivitas jual beli.
Tempat tersebut juga menjadi ruang interaksi antara pemilik kendaraan, mekanik, pedagang, dan pencinta otomotif.
Bursa Sparepart Perlu Beradaptasi dengan Perubahan Zaman
Perkembangan marketplace membuat pedagang sparepart menghadapi perubahan besar dalam menjalankan bisnis.
Sebagian pedagang memilih masuk ke pasar digital, sementara lainnya tetap mengandalkan pelanggan lama dan transaksi langsung.
Egy, misalnya, kini lebih memilih mempertahankan pelanggan yang sudah mengenal tokonya daripada terus mengikuti perang harga di marketplace.
“Sekarang jalani saja yang ada, pelihara pelanggan lama yang sudah biasa belanja,” ungkapnya.
Di tengah perubahan pola belanja tersebut, bursa sparepart seperti Atrium Senen masih memiliki peluang untuk bertahan dengan mengandalkan pengalaman, pelayanan langsung, kepercayaan pelanggan, serta keahlian dalam menyediakan komponen kendaraan.
Bagi konsumen, mengunjungi toko fisik juga bisa menjadi pilihan ketika mereka membutuhkan kepastian mengenai kondisi dan kecocokan suku cadang.
Perubahan teknologi pada akhirnya tidak hanya mengubah cara konsumen membeli sparepart, tetapi juga memaksa pedagang konvensional mencari cara baru agar tetap mampu bersaing.
(VVR*)









