Jakarta, iNBrita.com – Mike Satterlee, pengusaha muda berusia 19 tahun asal Clifton Park, New York, berhasil mengembangkan bisnis 3D printing setelah meluncurkan CruiseCup, pendingin minuman kaleng yang viral di media sosial. Hanya dalam sehari, ia menerima ratusan pesanan. Akibatnya, ia membutuhkan waktu sekitar enam minggu untuk memenuhi seluruh permintaan pelanggan.
Satterlee mengoperasikan sekitar 60 printer 3D di gudang seluas 278,7 meter persegi. Namun, lonjakan pesanan CruiseCup mendorongnya untuk membeli lebih banyak mesin agar dapat meningkatkan kapasitas produksi.
Mengutip CNBC Make It, Minggu (18/10/2026), CruiseCup mampu menampung dua kaleng minuman berukuran 340 gram. Selain itu, pengguna dapat memasukkan dan mengambil kaleng melalui bagian atas maupun bawah produk.
Satterlee mempromosikan CruiseCup melalui Instagram. Unggahannya menarik perhatian banyak pengguna hingga mendorong lonjakan pesanan. Pada bulan yang sama, bisnis tersebut menghasilkan keuntungan sebesar US$ 100.000 atau sekitar Rp 1,8 miliar. Angka ini melampaui keuntungan bulanan dari bisnis-bisnis yang pernah ia jalankan sebelumnya.
Bisnis CruiseCup Raup Pendapatan Rp 14,5 Miliar
Satterlee berhasil mempertahankan momentum popularitas CruiseCup dan mengubahnya menjadi peluang bisnis jangka panjang. Sepanjang 2025, ia mencatat pendapatan kotor sebesar US$ 808.000 atau sekitar Rp 14,5 miliar melalui situs web dan TikTok Shop. Ia juga memperoleh pendapatan tambahan dari penjualan di Amazon.
Bisnis 3D printing menawarkan peluang bagi pengusaha pemula karena mereka dapat memulainya dengan modal yang relatif terjangkau. Bahkan, tren penjualan produk hasil teknologi ini terus meningkat.
Juru bicara Shopify mengungkapkan bahwa penjualan produk hasil 3D printing melalui platform tersebut meningkat 112% selama periode Oktober 2025 hingga September 2026.
Bangun Bisnis Berbekal Jiwa Entrepreneurship
Meskipun CruiseCup menghasilkan keuntungan besar, Satterlee hanya mengambil sebagian kecil dari pendapatannya untuk kebutuhan pribadi. Ia menggunakan sekitar US$ 500 hingga US$ 1.500 atau Rp 9 juta hingga Rp 27 juta setiap bulan. Karena masih tinggal bersama orang tuanya, ia dapat mengalokasikan sebagian besar keuntungan untuk mengembangkan bisnis.
Satterlee menginvestasikan kembali pendapatannya untuk membeli printer 3D tambahan, menjalankan iklan di media sosial, dan merancang produk baru. Ia mengelola bisnisnya secara penuh waktu bersama seorang karyawan.
Saat ini, ia menjual pendingin kaleng dengan berbagai ukuran dan bahan. Namun, perjalanan bisnisnya tidak dimulai dari CruiseCup. Sebelumnya, ia pernah menjual limun dan membuat losion antipasir secara mandiri.
Satterlee mulai mengenal teknologi 3D printing ketika mengikuti kelas desain dan gambar untuk produksi di sekolah menengah atas. Pada September 2022, ia menggunakan tabungan dari hadiah Natal, hadiah ulang tahun, dan hasil bisnis sebelumnya untuk membeli printer 3D seharga US$ 500 atau sekitar Rp 9 juta.
Pada Juni 2023, ia meluncurkan bisnis 3D printing pertamanya dengan nama Solefully. Melalui bisnis tersebut, ia membuat dan menjual aksesori yang dapat dipasang pada sepatu Crocs.
Solefully mencatat penjualan sekitar US$ 250.000 atau Rp 4,5 miliar pada 2024. Keberhasilan itu memungkinkan Satterlee menyewa gudang untuk menampung printer yang terus bertambah. Sejak November 2024, ia membayar biaya sewa gudang sebesar US$ 3.600 atau sekitar Rp 64,9 juta per bulan.
Pilih Fokus Bisnis daripada Melanjutkan Kuliah
Beberapa bulan sebelum lulus SMA, Satterlee menilai penjualan Solefully sudah cukup menjanjikan untuk menopang kehidupannya. Karena itu, ia memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah dan memilih mengembangkan bisnis sebagai pekerjaan utamanya.
Selanjutnya, ia mulai bereksperimen dengan berbagai produk baru. Dari eksperimen tersebut, ia menemukan bahwa adaptor tempat gelas mobil multifungsi menarik lebih banyak perhatian di media sosial. Produk itu juga menawarkan margin keuntungan yang lebih tinggi daripada aksesori sepatu.
Seiring waktu, CruiseCup memberikan keuntungan yang lebih besar daripada Solefully. Oleh karena itu, Satterlee menutup bisnis Solefully pada Juni 2025 dan memusatkan perhatiannya pada pengembangan produk pendingin kaleng.
Dua bulan kemudian, ia merancang CruiseCup setelah melihat produk serupa yang mengharuskan pengguna mengeluarkan kedua kaleng untuk mengambil minuman dari salah satunya. Ia kemudian mengembangkan desain yang menawarkan akses lebih praktis. Berdasarkan dokumen yang tersedia, Satterlee telah mengajukan dua permohonan paten untuk desain CruiseCup.
Gunakan 160 Printer untuk Meningkatkan Produksi
Meskipun sejumlah teman SMA-nya memilih melanjutkan kuliah, Satterlee tetap fokus menjalankan CruiseCup. Kini, ia mengoperasikan 160 printer 3D untuk memproduksi produk berbahan plastik di New York.
Selain memproduksi sendiri, ia bekerja sama dengan produsen di China untuk menyediakan CruiseCup berbahan baja tahan karat. Ia menemukan mitra manufaktur tersebut melalui internet.
Satterlee juga menyiapkan sejumlah rencana untuk memperluas bisnisnya. Ia ingin menambahkan teknologi cetak UV sebagai alternatif sablon dan menghadirkan lebih banyak produk perlengkapan minuman.
Selain itu, ia berencana merekrut lebih banyak tenaga pemasaran. Langkah tersebut diharapkan dapat membantu CruiseCup memasuki pasar ritel dan menjangkau lebih banyak pelanggan.
Nikmati Pekerjaan dengan Membangun Produk Sendiri
Satterlee mengaku menikmati setiap proses dalam menjalankan bisnisnya. Ia merasa antusias ketika bangun setiap pagi karena dapat kembali mengembangkan produk dan menjalankan ide-ide baru.
“Setiap hari saya bangun, saya antusias untuk bekerja,” ujar Satterlee.
Ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak menganggap aktivitas tersebut sebagai beban pekerjaan.
“Saya senang melakukannya dan senang membuat sesuatu. Karena itu, pekerjaan ini tidak terasa memberatkan. Saya justru menikmatinya,” tambahnya.
(vvr*)









