Jakarta, iNBrita.com – Perusahaan material baterai asal China, CNGR Advanced Material Co, tengah membidik 80 persen saham PT Gunbuster Nickel Industry (GNI). Rencana akuisisi ini berpotensi memperbesar kapasitas bisnis CNGR sekaligus memperkuat posisinya dalam industri pengolahan nikel di Indonesia.
Mengutip laporan Bloomberg, CNGR sedang merundingkan pembelian mayoritas saham GNI. Sejumlah sumber yang mengetahui proses negosiasi tersebut menyebutkan bahwa transaksi berpeluang terealisasi setelah GNI menyelesaikan restrukturisasi utangnya pada awal tahun depan.
Meski demikian, kedua pihak masih melanjutkan pembicaraan dan belum memastikan tercapainya kesepakatan.
CNGR Bidik Mayoritas Saham GNI
CNGR berupaya memperluas bisnis pengolahan nikelnya melalui rencana pembelian 80 persen saham GNI. Langkah tersebut akan memberikan peluang bagi perusahaan China itu untuk memperbesar skala operasional sekaligus memperluas jaringan bisnisnya di Indonesia.
Jika transaksi berhasil, CNGR berpotensi menjadi pesaing yang semakin kuat bagi Tsingshan Holding Group Co. Perusahaan asal China tersebut telah mengembangkan bisnis pengolahan nikel berskala besar di Indonesia.
Namun, CNGR masih perlu menunggu perkembangan restrukturisasi utang GNI sebelum merealisasikan rencana pengambilalihan tersebut.
Industri Nikel Indonesia Hadapi Tekanan
Indonesia memegang peranan penting dalam industri nikel dunia. Negara ini menyumbang lebih dari 60 persen pasokan nikel global dan memasok bahan baku untuk industri baja tahan karat serta baterai kendaraan listrik.
Meski memiliki sumber daya nikel yang besar, industri pengolahan dalam negeri menghadapi berbagai tantangan. Pembatasan kuota pertambangan dan perubahan permintaan pasar menekan kegiatan produksi sejumlah perusahaan smelter.
Kondisi tersebut mendorong beberapa fasilitas pengolahan mengurangi kapasitas produksi hingga menghentikan operasional. Tekanan terhadap industri juga meningkatkan tantangan keuangan bagi perusahaan yang menanggung beban utang besar.
GNI Jalani Restrukturisasi Utang
GNI turut menghadapi tekanan bisnis di tengah kondisi industri nikel yang menantang. Pada Juni lalu, pengadilan di Indonesia menetapkan perusahaan tersebut dalam proses penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU).
Sebelum menghadapi persoalan utang tersebut, GNI telah memangkas produksinya pada tahun sebelumnya. Restrukturisasi keuangan kini menjadi salah satu faktor penting yang dapat menentukan kelanjutan rencana akuisisi oleh CNGR.
CNGR menyatakan terus mengevaluasi peluang strategis untuk mengembangkan bisnisnya di industri nikel global.
“Sebagai perusahaan yang terlibat secara mendalam dalam industri nikel global, CNGR terus mengevaluasi berbagai potensi peluang strategis dalam kegiatan bisnis sehari-hari,” kata CNGR melalui tanggapan tertulis kepada Bloomberg.
Meski demikian, CNGR menolak memberikan komentar khusus mengenai rencana pembelian saham GNI karena perusahaan tersebut masih menjalani proses PKPU. Sementara itu, manajemen GNI belum menanggapi permintaan konfirmasi terkait kabar akuisisi tersebut.
Kapasitas Produksi GNI Capai 1,8 Juta Ton
GNI mengoperasikan fasilitas pengolahan nikel berskala besar di Pulau Sulawesi. Presiden Joko Widodo yang saat itu menjabat sebagai kepala negara meresmikan pabrik tersebut pada 2021.
Kehadiran fasilitas itu sempat mencerminkan pesatnya pertumbuhan industri hilirisasi nikel Indonesia. Namun, GNI kemudian menghadapi tekanan akibat kelebihan kapasitas produksi di sektor pengolahan nikel serta sejumlah persoalan operasional.
GNI memiliki kapasitas produksi sekitar 1,8 juta ton nickel pig iron (NPI) per tahun. Material tersebut menjadi salah satu bahan baku penting dalam pembuatan baja tahan karat.
Kapasitas tersebut menempatkan GNI dalam jajaran smelter NPI independen terbesar di Indonesia.
Selain menghadapi persoalan bisnis, fasilitas GNI juga pernah mengalami sejumlah kecelakaan kerja, termasuk insiden yang menimbulkan korban jiwa. Peristiwa tersebut turut menyoroti pentingnya penerapan standar keselamatan kerja di kawasan industri nikel.
Masalah Jiangsu Delong Ikut Membayangi GNI
Persoalan keuangan GNI juga berkaitan dengan tekanan yang melanda kelompok usaha Jiangsu Delong Nickel Industry Co. Perusahaan asal China tersebut sebelumnya menjadi salah satu pemain penting dalam industri baja tahan karat global sebelum mengalami kebangkrutan.
Masalah keuangan dalam kelompok usaha itu memengaruhi sejumlah perusahaan afiliasi dan mendorong proses restrukturisasi bisnis.
Situasi tersebut menambah tantangan bagi GNI dalam mempertahankan kegiatan operasional dan menyelesaikan kewajiban keuangannya.
CNGR Perluas Jaringan Smelter di Indonesia
CNGR telah lebih dahulu memperkuat bisnis pengolahan nikelnya di Indonesia melalui kepemilikan saham pengendali di sejumlah fasilitas. Salah satunya adalah PT Nadesico Nickel Industry yang beroperasi tidak jauh dari kawasan GNI.
Jika berhasil mengakuisisi 80 persen saham GNI, CNGR berpeluang memperbesar kapasitas produksi sekaligus memperluas jaringan fasilitas pengolahan nikelnya di Indonesia.
Langkah tersebut juga dapat memperkuat posisi CNGR dalam rantai pasok bahan baku untuk industri baterai kendaraan listrik dan baja tahan karat.
Meski demikian, perusahaan masih harus menunggu penyelesaian restrukturisasi utang GNI dan mencapai kesepakatan final dengan pihak terkait. Kedua faktor tersebut akan menentukan apakah rencana akuisisi ini dapat terlaksana sesuai perkiraan.









