Jakarta, iNBrita.com – Harga emas dunia melemah tipis pada perdagangan Selasa, 20 Oktober 2026, atau Rabu pagi waktu Jakarta. Investor mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga Amerika Serikat (AS) pada akhir tahun. Selain itu, pasar menantikan keputusan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) pada pekan depan.
Mengutip CNBC, Rabu (21/10/2026), harga emas di pasar spot turun 0,3% menjadi US$ 4.125,90 per ons pada pukul 14.05 EDT atau 18.05 GMT. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember melemah 0,4% dan ditutup pada level US$ 4.142,60 per ons.
Senior Market Strategist StoneX, Bob Haberkorn, menilai inflasi dan kebijakan suku bunga The Fed masih menjadi tantangan utama bagi harga emas. Menurutnya, investor saat ini cenderung memilih obligasi pemerintah AS karena instrumen tersebut menawarkan daya tarik yang lebih besar sebagai aset aman.
Haberkorn juga menyoroti level US$ 4.000 per ons sebagai batas penting bagi pergerakan harga emas. Menurutnya, pasar perlu mencermati kemampuan emas untuk bertahan di atas level tersebut.
Ia menambahkan bahwa arah kebijakan The Fed akan menentukan pergerakan harga emas dalam waktu dekat. Karena itu, investor menunggu pernyataan bank sentral AS untuk memperkirakan arah suku bunga selanjutnya.
Peluang Kenaikan Suku Bunga Tekan Harga Emas
Pada September lalu, The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Langkah tersebut menjadi kenaikan suku bunga pertama sepanjang tahun ini.
Namun, sejumlah pejabat The Fed belakangan menyampaikan komentar yang menunjukkan bahwa bank sentral belum melihat kebutuhan mendesak untuk memperketat kebijakan moneter lebih lanjut. Pernyataan tersebut meredam ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga dalam pertemuan pada 27–28 Oktober 2026.
Meski demikian, pelaku pasar masih memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 92%. Angka tersebut mengacu pada perangkat FedWatch milik CME Group.
Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi terus membebani harga emas. Pasalnya, emas tidak memberikan imbal hasil bunga sehingga investor cenderung melirik instrumen berbunga ketika suku bunga meningkat.
Harga emas kini berada sekitar 26% di bawah rekor tertingginya, yakni US$ 5.594,82 per ons pada Januari. Logam mulia tersebut juga telah terkoreksi sekitar 22% dibandingkan level saat perang di Iran dimulai.
Ketegangan geopolitik dan kekhawatiran terhadap kenaikan harga energi sebelumnya mendorong investor memperhitungkan risiko inflasi yang lebih tinggi. Kondisi tersebut turut memperkuat spekulasi mengenai kemungkinan kenaikan suku bunga.
Meskipun investor secara tradisional menggunakan emas sebagai lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga dapat mengurangi daya tariknya. Berbeda dengan obligasi, emas tidak memberikan pendapatan bunga kepada pemegangnya.
Investor Menanti Data Inflasi AS
Selain memantau kebijakan The Fed, investor juga menunggu rilis data Pengeluaran Konsumsi Pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada pekan depan.
The Fed menggunakan indikator inflasi PCE sebagai salah satu acuan utama dalam menentukan kebijakan moneter. Melalui data tersebut, investor akan menilai apakah tekanan inflasi masih bertahan dan bagaimana perkembangannya dapat memengaruhi keputusan suku bunga.
Sementara itu, Gubernur Bank Sentral Jepang, Kazuo Ueda, menyatakan bahwa inflasi inti Jepang sudah cukup dekat dengan target 2%. Pernyataan tersebut membuka peluang bagi bank sentral Jepang untuk kembali menaikkan suku bunga.
Di pasar logam mulia lainnya, harga perak di pasar spot naik 1,4% menjadi US$ 57,86 per ons. Harga platinum juga menguat 1% ke level US$ 1.656,85 per ons.
Sebaliknya, harga paladium turun 1,3% menjadi US$ 1.105,50 per ons.
(vvr*)









