Jakarta, iNBrita.com – Nilai tukar rupiah masih menghadapi tekanan dari perkembangan konflik Iran-Amerika Serikat, kenaikan harga minyak dunia, dan arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Dari dalam negeri, pasar juga mencermati pengesahan APBN 2027. Pemerintah dan DPR menetapkan asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp17.500 per dolar AS dalam anggaran tersebut.
Rupiah Melemah Tipis
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah kembali melemah pada perdagangan Selasa (29/9/2026).
Rupiah sempat mengalami tekanan cukup besar sebelum akhirnya menutup perdagangan dengan pelemahan tipis.
“Pada perdagangan pasar hari ini rupiah ditutup melemah tipis 3 point sebelumnya sempat melemah 40 point di level Rp17.981 dari penutupan sebelumnya di level Rp17.978,” tutur Ibrahim, Selasa (29/9/2026).
Ibrahim memperkirakan rupiah masih bergerak fluktuatif pada perdagangan berikutnya. Ia juga melihat potensi pelemahan masih membayangi mata uang Garuda.
“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.980 – Rp18.030,” ucapnya.
Konflik Iran-AS Tekan Rupiah
Ibrahim menilai pasar valuta asing masih perlu mencermati perkembangan konflik Iran dan Amerika Serikat.
Pelaku pasar juga mengikuti upaya diplomasi untuk mengakhiri perang serta pembahasan mengenai lalu lintas maritim di Selat Hormuz.
Perkembangan tersebut dapat memengaruhi pasar keuangan karena konflik di Timur Tengah berpotensi mengganggu pasokan minyak dunia.
Reuters melaporkan harga minyak Brent kembali menembus level 100 dolar AS per barel. Ketidakpastian konflik dan proses negosiasi menjadi salah satu faktor yang mendorong perhatian pasar terhadap harga minyak.
Kenaikan harga energi juga dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global.
Pasar Menunggu Kebijakan The Fed
Selain konflik geopolitik, pelaku pasar kini menunggu arah kebijakan The Fed.
Ekspektasi kenaikan suku bunga kembali menguat seiring kenaikan harga energi dan meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi.
Reuters mencatat peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober telah berada di atas 70 persen pada 29 September 2026.
Pasar juga menunggu sejumlah data penting dari Amerika Serikat yang akan keluar pekan ini.
Data tersebut mencakup indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE), ISM Purchasing Managers’ Index (PMI), dan nonfarm payrolls (NFP).
Pelaku pasar akan menggunakan data tersebut untuk memperkirakan arah kebijakan moneter The Fed berikutnya.
APBN 2027 Tetapkan Rupiah Rp17.500
Dari dalam negeri, pemerintah dan DPR telah menyepakati sejumlah asumsi makroekonomi dalam APBN 2027.
Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen dan inflasi sebesar 2,5 persen.
Sementara itu, pemerintah dan DPR menetapkan asumsi nilai tukar rupiah sebesar Rp17.500 per dolar AS.
Kesepakatan tersebut menjadi salah satu dasar pemerintah dalam menyusun kebijakan fiskal pada 2027.
Pemerintah dan DPR juga menetapkan defisit APBN sebesar 2,4 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
Dalam APBN 2027, pemerintah menargetkan pendapatan negara sekitar Rp3.435,1 triliun. Sementara itu, belanja negara mencapai Rp4.106,2 triliun.
Pemerintah Dorong Investasi dan Ekspor
Pemerintah berharap target pertumbuhan ekonomi 6 persen dapat tercapai melalui peningkatan investasi dan penciptaan nilai tambah di dalam negeri.
Untuk mendukung target tersebut, pemerintah memperkuat kebijakan ekspor dan mengoptimalkan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA).
Pemerintah juga mengembangkan bursa komoditas sebagai bagian dari strategi untuk memperkuat perekonomian nasional.
Dengan kondisi global yang masih penuh ketidakpastian, pergerakan rupiah akan bergantung pada perkembangan konflik Iran-AS, harga minyak dunia, kebijakan The Fed, serta data ekonomi Amerika Serikat dan Indonesia.
(VVR*)









