Jakarta, iNBrita.com – Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat (9/10/2026). Meski demikian, ketegangan geopolitik antara AS dan Iran masih membayangi pergerakan mata uang Indonesia.
Mengutip Antara, rupiah menguat 19 poin atau 0,11% ke level Rp17.896 per dolar AS. Pada perdagangan sebelumnya, rupiah ditutup di posisi Rp17.915 per dolar AS.
Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai ketegangan AS dan Iran menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan rupiah. Pasalnya, pasar mencermati kemungkinan AS kembali melancarkan serangan militer terhadap Iran.
Ketegangan AS-Iran Bayangi Pergerakan Rupiah
Josua menjelaskan bahwa Gedung Putih dikabarkan meminta sejumlah opsi serangan militer terhadap Iran menjelang pemilu sela AS.
Kantor Berita Sputnik melaporkan bahwa Presiden AS Donald Trump bersama tim keamanan nasional membahas beberapa skenario operasi militer berskala besar terhadap Iran. Mereka mempertimbangkan pelaksanaan operasi tersebut dalam beberapa pekan mendatang, termasuk sebelum pemilu sela pada 3 November 2026.
Selain itu, NBC News mengutip sejumlah sumber yang menyebut pejabat pemerintahan Trump telah membahas strategi AS terhadap Iran dan Yaman. Mereka menggelar pertemuan di Camp David pada pekan sebelumnya.
Setelah pertemuan itu, militer AS menyiapkan sejumlah opsi operasional baru untuk Trump. Namun, pemerintah AS belum mengambil keputusan akhir mengenai rencana tersebut.
Hingga kini, belum ada kepastian mengenai waktu pelaksanaan operasi militer berskala besar itu. Karena itu, pelaku pasar terus mencermati perkembangan hubungan AS dan Iran.
Ekspektasi Suku Bunga The Fed Tekan Rupiah
Selain ketegangan geopolitik, ekspektasi kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) juga memengaruhi pergerakan rupiah. Pasar memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama.
Josua menilai kenaikan harga minyak dunia dapat memperbesar tekanan inflasi. Kondisi tersebut berpotensi mendorong The Fed mempertahankan kebijakan moneter ketat atau kembali menaikkan suku bunga.
Risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) September 2026 menunjukkan bahwa mayoritas anggota The Fed memperkirakan bank sentral masih berpeluang menaikkan suku bunga pada tahun ini. Namun, mereka belum memastikan waktu kenaikan tersebut.
Gubernur The Fed, Christopher Waller, juga menyebut bank sentral mungkin perlu menaikkan suku bunga lagi untuk mengembalikan inflasi ke target. Meski demikian, ia menegaskan bahwa The Fed tetap memiliki fleksibilitas dalam menentukan arah kebijakan.
Menurut Josua, pasar memperkirakan peluang sebesar 78% bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga pada Oktober 2026. Sementara itu, peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada Desember 2026 mencapai sekitar 69%.
Rupiah Melemah pada Penutupan 8 Oktober 2026
Pada perdagangan sebelumnya, rupiah justru melemah terhadap dolar AS. Mata uang Indonesia itu kehilangan 28 poin atau 0,16% dan berakhir di level Rp17.915 per dolar AS pada Kamis (8/10/2026).
Posisi tersebut turun dari penutupan perdagangan sebelumnya yang mencapai Rp17.866 per dolar AS.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, menilai ancaman serangan militer AS terhadap Iran turut menekan rupiah. Ia juga menyoroti kenaikan indeks dolar AS (DXY), imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury (UST), serta harga minyak mentah dunia.
Lukman menyampaikan penilaian tersebut kepada Antara pada Kamis (8/10/2026). Menurutnya, kenaikan berbagai indikator itu mencerminkan meningkatnya tekanan terhadap mata uang Indonesia.
Sputnik sebelumnya melaporkan bahwa pemerintah AS meminta Departemen Perang menyusun sejumlah skenario serangan terhadap Iran menjelang pemilu paruh waktu Kongres pada November 2026.
Sementara itu, The Atlantic mengutip dua pejabat pemerintahan yang menyebut Komando Pusat AS (CENTCOM) tengah menyusun rencana operasi. Namun, pemerintah AS belum menetapkan keputusan akhir mengenai pelaksanaan serangan maupun sasaran operasinya.
Ketegangan tersebut juga berkaitan dengan kepentingan politik Trump menjelang pemilu paruh waktu. Laporan yang beredar menyebut Trump ingin menekan harga bensin sekaligus menjaga dukungan politiknya.
Kepercayaan Konsumen Indonesia Ikut Membebani Rupiah
Selain faktor eksternal, kondisi ekonomi domestik juga memengaruhi pergerakan rupiah. Lukman menyoroti penurunan indeks kepercayaan konsumen Indonesia pada September 2026.
Berdasarkan data yang ia sampaikan, indeks tersebut turun dari 118,5 pada bulan sebelumnya menjadi 118,1 pada September 2026. Penurunan ini turut menambah tekanan terhadap rupiah.
Di sisi lain, Bank Indonesia mencatat pergerakan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang berbeda dari posisi sebelumnya. Pada Jumat (9/10/2026), kurs JISDOR tercatat sebesar Rp17.890 per dolar AS, naik dari Rp17.880 per dolar AS pada hari sebelumnya.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pasar masih mencermati kombinasi faktor global dan domestik. Ketegangan AS-Iran, arah kebijakan suku bunga The Fed, harga minyak dunia, serta kepercayaan konsumen akan tetap menjadi perhatian pelaku pasar dalam menilai pergerakan rupiah.
(VVR*)









