Jakarta, iNBrita.com – Arab Saudi membuka peluang pasar bagi pelaku ekonomi kreatif dan pengusaha komoditas unggulan Indonesia. Selain menjadi tujuan utama warga negara Indonesia (WNI) di Timur Tengah, Arab Saudi juga menjadi salah satu pasar ekspor Indonesia.
Data Kementerian Luar Negeri (Kemlu) menunjukkan jumlah WNI di kawasan Timur Tengah mencapai 188.218 orang pada 2024. Dari jumlah tersebut, sebanyak 88.657 WNI tinggal di Arab Saudi.
WNI di Arab Saudi terdiri atas pekerja migran, pelajar, serta jamaah yang menjalankan ibadah haji dan umrah.
Komunitas Indonesia tersebut dapat membantu pelaku usaha membangun jaringan di Arab Saudi. Namun, pelaku usaha tetap perlu menyesuaikan produk dengan kebutuhan konsumen dan karakteristik pasar setempat.
GEKRAFS Dorong Pelaku Ekonomi Kreatif
Ketua Umum DPP Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) Kawendra Lukistian mendorong pelaku ekonomi kreatif Indonesia memperkuat kolaborasi bisnis di Arab Saudi.
“Arab Saudi memiliki peluang yang besar, dan kita ingin pelaku kreatif Indonesia mampu membangun kolaborasi dan membuka akses bisnis yang berkelanjutan,” ujar Kawendra pada Kamis (24/9/2026).
Kawendra menyampaikan pernyataan tersebut saat mengukuhkan GEKRAFS Dewan Perwakilan Luar Negeri (DPLN) Arab Saudi periode 2026–2029.
GEKRAFS membentuk DPLN Arab Saudi untuk memperluas jaringan organisasi di luar negeri. Organisasi tersebut juga dapat membuka peluang kerja sama antara pelaku ekonomi kreatif Indonesia dan mitra bisnis di Arab Saudi.
Dalam pengukuhan tersebut, GEKRAFS menetapkan Isradi F Syafruddin sebagai Ketua DPLN Arab Saudi.
Isradi akan menjalankan tugas bersama Zukri Abdul Hamid sebagai Wakil Ketua. H.M. Sami’an menjabat Sekretaris, sedangkan Ulil Amry menjadi Bendahara.
Kawendra berharap DPLN Arab Saudi dapat menghubungkan pelaku ekonomi kreatif Indonesia dengan mitra lokal.
“DPLN Arab Saudi harus menjadi jembatan yang menghubungkan talenta, produk, karya, dan pelaku usaha Indonesia dengan mitra lokal dari Arab Saudi,” katanya.
Diaspora Indonesia Buka Peluang Kolaborasi
Sekretaris Jenderal GEKRAFS Temi Sumarlin mengatakan DPLN Arab Saudi dapat memperluas ruang kolaborasi bagi pelaku ekonomi kreatif Indonesia.
Menurut Temi, diaspora Indonesia juga dapat membantu pelaku usaha memperkenalkan produk dan layanan kreatif kepada konsumen Arab Saudi.
“Kami berharap kehadiran DPLN GEKRAFS Arab Saudi dapat memperkuat konsolidasi organisasi sekaligus membuka lebih banyak ruang kolaborasi bagi pelaku ekonomi kreatif Indonesia,” katanya.
Pelaku usaha juga perlu memperhatikan daya saing produk. Selain itu, mereka harus memenuhi aturan dan kebutuhan pasar Arab Saudi.
BPS Petakan Komoditas Indonesia
Peluang pasar Arab Saudi tidak hanya berasal dari sektor ekonomi kreatif. Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat sejumlah komoditas Indonesia yang sudah memiliki pangsa pasar di negara tersebut.
Minyak sawit menjadi salah satu komoditas utama Indonesia di Arab Saudi. BPS mencatat nilai impor komoditas tersebut mencapai US$706,47 juta dengan pangsa pasar 38,29 persen.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan Indonesia juga memasok berbagai komoditas lain ke Arab Saudi.
Komoditas tersebut meliputi kayu dan barang dari kayu, kopi, teh dan rempah-rempah. Indonesia juga mengekspor kertas dan produk turunannya, olahan daging dan ikan, biji serta buah yang mengandung minyak, dan alas kaki.
“Untuk minyak sawit atau minyak nabati, Indonesia menguasai pangsa pasar sekitar 38 persen yang jauh di atas Malaysia, Ukraina maupun Oman. Indonesia menjadi salah satu pemasok utama untuk komoditas ini,” ujar Amalia dalam konferensi pers di Kantor Pusat BPS, Jakarta Pusat, Kamis (6/8).
BPS mencatat nilai ekspor kayu dan barang dari kayu Indonesia ke Arab Saudi mencapai US$146,86 juta. Komoditas tersebut menguasai pangsa pasar sebesar 8,08 persen.
Sementara itu, ekspor kopi, teh, dan rempah-rempah mencapai US$122,13 juta. Komoditas tersebut memiliki pangsa pasar sebesar 6,61 persen.
Indonesia juga mencatat ekspor kertas dan produk turunannya sebesar US$103,61 juta. Komoditas tersebut menguasai pangsa pasar 5,92 persen.
Untuk kelompok olahan daging, ikan, krustasea, dan moluska, Indonesia mencatat nilai ekspor sebesar US$78,35 juta. Komoditas tersebut memiliki pangsa pasar 19,60 persen.
Indonesia juga mengekspor biji dan buah yang mengandung minyak senilai US$66,88 juta. Komoditas tersebut memiliki pangsa pasar 7,27 persen.
Sementara itu, ekspor alas kaki mencapai US$59,28 juta dengan pangsa pasar 5,30 persen.
Indonesia Naik ke Peringkat 18
Indonesia masih berada di luar 10 besar negara pemasok barang ke Arab Saudi. Meski begitu, posisi Indonesia meningkat dalam dua dekade terakhir.
Pada 2005, Indonesia menempati peringkat ke-24 sebagai negara asal impor Arab Saudi. Saat itu, nilai ekspor Indonesia mencapai US$517,61 juta dengan pangsa pasar 0,90 persen.
Pada 2025, Indonesia naik ke peringkat ke-18. Nilai ekspor Indonesia ke Arab Saudi juga meningkat menjadi US$3,43 miliar.
“Dalam 20 tahun peringkat ini bisa kita naikkan. Pada tahun 2005 Indonesia berada di peringkat ke-24, sedangkan pada tahun 2025 posisi Indonesia sudah meningkat menjadi pemasok terbesar ke-18 untuk pasar Arab Saudi. Tapi belum menjadi 10 besar,” ujar Winny.
Menurutnya, Indonesia masih memiliki peluang untuk meningkatkan posisi di pasar Arab Saudi.
BPS mencatat China menjadi pemasok terbesar bagi Arab Saudi. Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, dan India menyusul setelah China.
Amalia mengatakan Indonesia dapat mempelajari strategi negara lain untuk meningkatkan penetrasi pasar Arab Saudi.
Indonesia juga dapat melihat peluang dari kebutuhan masyarakat yang berkaitan dengan ibadah haji dan umrah.
“Pengalaman China dan India ini bisa menjadi pembelajaran berharga bagi Indonesia. Potensi pasar haji dan umrah sangat besar dan peluang ini bisa kita raih ke depan,” ujar Winny.
Indonesia Hadapi Persaingan Komoditas
Indonesia menghadapi pesaing berbeda pada setiap kelompok komoditas. BPS mencatat China, Thailand, dan Finlandia menjadi pesaing Indonesia untuk produk kayu.
Pada komoditas kopi, teh, dan rempah-rempah, Indonesia bersaing dengan Etiopia, India, dan Guatemala.
Persaingan juga terjadi pada produk alas kaki. China menguasai 52,33 persen pasar impor Arab Saudi. Vietnam menyusul dengan pangsa 15,93 persen, sedangkan Italia menguasai 11,56 persen.
Indonesia memiliki pangsa pasar alas kaki sebesar 5,30 persen di Arab Saudi.
Untuk kelompok olahan daging, ikan, krustasea, dan moluska, Indonesia menguasai pangsa pasar 19,60 persen.
Thailand masih memiliki pangsa pasar lebih besar dengan angka 27,79 persen. Sementara itu, Malaysia menguasai pangsa pasar sebesar 9,74 persen.
Data tersebut menunjukkan posisi Indonesia berbeda pada setiap kelompok komoditas. Karena itu, pelaku usaha perlu menyesuaikan strategi dengan permintaan dan tingkat persaingan setiap produk.
Produk Haji dan Umrah Punya Peluang
Indonesia tidak hanya dapat mengandalkan komoditas pangan untuk memperluas pasar di Arab Saudi.
Pelaku usaha juga dapat mengembangkan perlengkapan ibadah, pakaian, alas kaki, dan produk oleh-oleh.
Produk tersebut dapat menyasar kebutuhan masyarakat serta jamaah haji dan umrah.
Pelaku ekonomi kreatif Indonesia juga dapat memanfaatkan jaringan diaspora untuk memperkenalkan produk ke pasar Arab Saudi.
Dengan kolaborasi antara pelaku usaha, diaspora, dan mitra lokal, Indonesia dapat memperluas akses bisnis sekaligus mengenalkan lebih banyak produk unggulan ke pasar Arab Saudi.
(VVR*)









