Jakarta, iNBrita.com — Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian meminta pemerintah mengevaluasi pelaksanaan Latihan Dasar Militer (Latsarmil) Komponen Cadangan (Komcad) setelah seorang ASN meninggal dunia saat mengikuti pelatihan tersebut.
Tito mengatakan pemerintah perlu memperhatikan kondisi kesehatan setiap peserta sejak proses seleksi hingga pelaksanaan latihan. Ia juga mengingatkan ASN yang memiliki riwayat penyakit agar tidak memaksakan diri mengikuti Komcad jika kondisi fisiknya tidak memungkinkan.
“Kalau memang merasa memiliki penyakit, jangan dipaksakan untuk ikut,” ujar Tito di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta Pusat, Rabu (30/9/2026).
Tito menyampaikan pernyataan itu setelah ASN Kementerian Ekonomi Kreatif, Vanreko Varkas Bagaskara, meninggal dunia ketika mengikuti Latsarmil Komcad ASN K/L Gelombang 2 Tahun 2026 di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta.
Menurut Tito, kondisi kesehatan yang sudah dimiliki seseorang sebelum mengikuti pelatihan bisa menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Meski demikian, ia menegaskan bahwa setiap calon peserta Komcad harus menjalani pemeriksaan kesehatan sebelum mengikuti program tersebut.
Tito juga mengingatkan bahwa masyarakat, termasuk ASN, mengikuti Komcad secara sukarela. Karena itu, ia meminta calon peserta mempertimbangkan kondisi kesehatan dan kemampuan fisiknya sebelum mendaftar.
Pemerintah, lanjut Tito, perlu menjadikan peristiwa tersebut sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki proses rekrutmen sekaligus pelaksanaan latihan.
“Ini menjadi bahan evaluasi, baik dalam rangka rekrutmen maupun materi pelatihannya,” kata Tito.
Vanreko Kehilangan Kesadaran Saat Latihan
Vanreko mulai mengalami gangguan kesehatan ketika mengikuti rangkaian Latsarmil pada Jumat (25/9/2026).
Kepala RSAU dr. Esnawan Antariksa, Kolonel Kes dr. Iman Fathurrohman, menjelaskan bahwa Vanreko mengeluhkan pandangan gelap dan pusing sekitar pukul 09.30 WIB.
Saat itu, Vanreko baru menyelesaikan sesi pertama latihan dan hendak mengikuti sesi berikutnya. Kondisinya kemudian memburuk hingga ia kehilangan kesadaran.
Tim kesehatan yang berjaga di lokasi langsung memberikan pertolongan pertama. Petugas menemukan tekanan darah Vanreko turun dan suhu tubuhnya meningkat.
Kondisi tersebut mengarah pada dugaan heatstroke akibat paparan cuaca dan kelelahan fisik. Tim medis kemudian melakukan pendinginan, memberikan cairan melalui infus, serta memberikan terapi oksigen.
Petugas selanjutnya membawa Vanreko ke IGD RSAU dr. Esnawan Antariksa untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Kondisi Vanreko Terus Memburuk
Setelah tiba di rumah sakit, tim dokter spesialis langsung memeriksa dan menangani Vanreko. Tim medis memantau kondisi hemodinamik, fungsi organ, serta kebutuhan bantuan pernapasannya.
Namun, kondisi Vanreko kembali memburuk pada Sabtu (26/9/2026) dini hari. Sekitar pukul 04.30 WIB, ia mengalami kejang berulang dan mengalami penurunan kesadaran.
Tim medis kemudian merujuk Vanreko ke RSPAD Gatot Soebroto menggunakan ambulans berstandar ICU. Tim medis dan personel POM AU turut mendampingi proses rujukan tersebut.
Vanreko tiba di IGD RSPAD Gatot Soebroto sekitar pukul 11.30 WIB. Dokter kemudian melakukan CT scan kepala dan memberikan perawatan intensif di ruang ICU.
Tim medis gabungan dari Pusdikkes, RSAU dr. Esnawan Antariksa, dan RSPAD Gatot Soebroto terus melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan Vanreko.
Namun, kondisi Vanreko tidak kunjung membaik. Setelah menjalani perawatan intensif, Vanreko akhirnya meninggal dunia.
Peristiwa tersebut kini mendorong pemerintah untuk mengevaluasi proses seleksi kesehatan peserta serta materi dan pelaksanaan latihan Komcad agar aspek keselamatan peserta mendapat perhatian lebih besar.
(eny)









