Jakarta, iNBrita.com – Indonesia menyimpan banyak makam kuno yang merekam perjalanan sejarah Islam di Nusantara. Situs-situs tersebut tidak hanya menjadi tempat peristirahatan tokoh masa lalu, tetapi juga memberikan gambaran tentang perkembangan agama, budaya, dan perdagangan.
Sejumlah makam kuno memiliki nilai sejarah penting karena berkaitan dengan tokoh berpengaruh dan pusat perdagangan pada zamannya. Misalnya, Barus di Sumatera Utara menjadi tempat persinggahan pedagang dari berbagai negara. Sementara itu, Gresik dan Madiun di Jawa Timur menyimpan peninggalan yang berkaitan dengan penyebaran Islam.
Melalui peninggalan tersebut, masyarakat dapat menelusuri perjalanan Islam di berbagai wilayah Indonesia. Berikut lima makam kuno yang menyimpan jejak penting sejarah Islam di Nusantara.
1. Makam Tuan Ambar, Sumatera Utara
Makam Tuan Ambar berada di kawasan Barus, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Situs ini menjadi salah satu peninggalan budaya Islam yang memiliki nilai sejarah penting.
Menurut informasi dari laman Cagar Budaya Sumatera Utara, Barus pernah berkembang sebagai bandar perdagangan internasional. Pedagang dari Arab, Persia, India, dan berbagai wilayah Asia singgah di kawasan tersebut.
Aktivitas perdagangan itu turut mempertemukan masyarakat setempat dengan berbagai budaya dan kepercayaan. Selain itu, makam Tuan Ambar menyimpan nisan batu dengan bentuk serta ornamen khas.
Bentuk nisan tersebut memperlihatkan perkembangan seni pahat pada masa lampau. Keberadaan makam ini juga menjadi salah satu petunjuk untuk menelusuri perkembangan komunitas Muslim di Barus.
2. Makam Kuncen, Madiun
Makam Kuncen terletak di Desa Kuncen, Kabupaten Madiun, Jawa Timur. Kompleks ini berkaitan dengan sejarah pemerintahan dan perkembangan wilayah Madiun pada masa lalu.
Salah satu tokoh yang dimakamkan di kawasan tersebut adalah Ki Ageng Panembahan Ronggo Jumeno atau Pangeran Timur. Ia memimpin Madiun sebagai bupati pertama pada periode 1568–1586.
Selain makam, kawasan ini juga menyimpan Masjid Kuncen. Menurut riwayat setempat, Pangeran Timur membangun masjid tersebut untuk mendukung kegiatan dakwah Islam.
Keberadaan makam dan masjid dalam satu kawasan memperlihatkan hubungan antara pemerintahan, kehidupan keagamaan, dan perkembangan masyarakat pada masa itu.
Hingga kini, masyarakat tetap menghormati kawasan Kuncen sebagai tempat yang memiliki nilai sejarah dan keagamaan.
3. Makam Siti Fatimah binti Maimun, Gresik
Makam Siti Fatimah binti Maimun berada di Desa Leran, Kabupaten Gresik, Jawa Timur. Situs ini menjadi salah satu peninggalan penting dalam kajian sejarah Islam di Indonesia.
Berdasarkan informasi dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gresik, Siti Fatimah binti Maimun lahir pada 1064 M. Ia kemudian datang ke Jawa untuk menyebarkan ajaran Islam.
Bangunan makamnya menggunakan batu kapur sebagai bahan utama. Selain itu, bentuk cungkupnya memperlihatkan pengaruh arsitektur Hindu-Buddha.
Perpaduan unsur tersebut menunjukkan bahwa perkembangan arsitektur di Jawa melibatkan pertemuan berbagai tradisi budaya. Karena itu, makam ini memiliki nilai penting bagi kajian sejarah dan kebudayaan.
Pemerintah daerah juga memasukkan situs tersebut dalam kawasan cagar budaya. Sumber pemerintah daerah yang menjadi rujukan artikel ini menyebut makam Siti Fatimah binti Maimun sebagai makam Islam tertua di Asia Tenggara.
4. Makam Mbah Wasil, Kediri
Makam Mbah Wasil berada di kawasan Setono Gedong, pusat Kota Kediri, Jawa Timur. Masyarakat mengenal tokoh ini dengan nama Syekh Sulaiman Syamsudin Al-Wasil.
Banyak peziarah mengunjungi makam tersebut untuk melakukan wisata religi. Selain memiliki nilai keagamaan, situs ini juga menarik perhatian masyarakat karena menyimpan kisah sejarah yang beragam.
Sejumlah riwayat menyebutkan bahwa Mbah Wasil hidup pada masa Sri Aji Joyoboyo, sekitar abad ke-10 atau ke-11. Namun, versi lain menghubungkan kehidupannya dengan abad ke-14, yang bertepatan dengan masa Wali Songo.
Perbedaan riwayat tersebut menunjukkan bahwa para peneliti masih perlu menelusuri sumber sejarah untuk memastikan identitas dan masa hidup Mbah Wasil.
Meski demikian, masyarakat Kediri tetap menghubungkan sosoknya dengan penyebaran Islam di wilayah tersebut. Kisah Mbah Wasil pun menjadi bagian dari tradisi sejarah dan wisata religi setempat.
5. Makam Sultan Malik Al-Saleh, Aceh Utara
Makam Sultan Malik Al-Saleh berada di Desa Beuringin, Kecamatan Samudera, Kabupaten Aceh Utara. Ia dikenal sebagai pendiri Kesultanan Samudera Pasai dan wafat pada 1297 M atau 696 H.
Kompleks makam ini memiliki jirat dan nisan berbahan batu pasir atau sandstone. Pengrajin menghiasi bagian nisan dengan kaligrafi serta relief berciri seni Islam.
Prasasti pada nisan tersebut memuat penghormatan kepada Sultan Malik Al-Saleh. Tulisan itu menggambarkannya sebagai sosok yang pemurah dan tekun beribadah.
Keberadaan makam ini membantu masyarakat menelusuri perkembangan Islam di pesisir utara Sumatera. Selain itu, situs tersebut memperlihatkan hubungan antara kekuasaan kerajaan, aktivitas perdagangan, dan penyebaran agama Islam.
Samudera Pasai pernah memegang peranan penting dalam jaringan perdagangan kawasan. Oleh karena itu, makam Sultan Malik Al-Saleh menjadi salah satu peninggalan berharga untuk memahami sejarah kerajaan Islam awal di Nusantara.
Menelusuri Jejak Islam melalui Makam Kuno
Kelima makam tersebut menunjukkan bahwa sejarah Islam di Indonesia berkembang melalui beragam jalur. Perdagangan, pemerintahan, dakwah, dan interaksi budaya ikut membentuk perjalanan Islam di Nusantara.
Setiap situs juga menyimpan ciri khas yang berbeda. Makam Tuan Ambar berkaitan dengan sejarah perdagangan Barus, sedangkan Makam Kuncen merekam perjalanan pemerintahan Madiun.
Sementara itu, makam Siti Fatimah binti Maimun memperlihatkan pertemuan unsur arsitektur. Makam Mbah Wasil menyimpan beragam riwayat sejarah, sedangkan makam Sultan Malik Al-Saleh menandai peran penting Samudera Pasai.
Dengan menjaga dan mempelajari situs-situs tersebut, masyarakat dapat mengenali warisan sejarah Islam sekaligus memahami perkembangan budaya di berbagai daerah Indonesia.
(vvr*)









