Jakarta, iNBrita.com – Harga emas dunia melemah 1% pada perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026, atau Jumat pagi waktu Jakarta. Kenaikan inflasi Amerika Serikat (AS) mendorong pelemahan tersebut. Kondisi ini memperkuat ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve (The Fed) akan menaikkan suku bunga pada Desember 2026.
Mengutip CNBC, Jumat (30/10/2026), harga emas di pasar spot turun 1% menjadi US$4.026,12 per ons. Sementara itu, harga emas berjangka AS untuk pengiriman Desember melemah 0,3% ke posisi US$4.037,60 per ons.
Dengan penurunan tersebut, emas kembali mencatatkan pelemahan bulanan selama dua bulan berturut-turut. Selain itu, prospek kenaikan suku bunga AS turut mengurangi minat investor terhadap logam mulia.
Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, David Meger, menjelaskan bahwa inflasi AS yang masih tinggi menjadi faktor utama tekanan terhadap harga emas.
Menurut Meger, inflasi yang melampaui target The Fed mendorong pelaku pasar memperkirakan kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember. Bahkan, laporan PCE terbaru belum mampu menghilangkan kekhawatiran investor terhadap tekanan inflasi.
Inflasi AS Meningkat, Pasar Antisipasi Kenaikan Suku Bunga
Biro Analisis Ekonomi Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) meningkat 0,5% pada September 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan kenaikan 0,3% pada Agustus.
Kenaikan harga bensin dan sejumlah barang lainnya mendorong peningkatan inflasi tersebut. Akibatnya, konsumen harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Sebelumnya, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga pada Rabu. Keputusan tersebut sesuai dengan perkiraan pasar. Bank sentral AS itu juga menunda perubahan kebijakan suku bunga hingga setelah pemilihan umum paruh waktu AS pada pekan berikutnya.
Namun, pelaku pasar tetap memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember. Berdasarkan perangkat FedWatch milik CME Group, peluang kenaikan suku bunga mencapai sekitar 83%.
Ekspektasi tersebut menekan harga emas karena kenaikan suku bunga meningkatkan biaya peluang dalam memegang logam mulia. Investor cenderung mempertimbangkan instrumen lain yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi.
Selain kebijakan moneter AS, pasar energi juga menjadi perhatian investor. Pergerakan harga energi dapat memengaruhi prospek inflasi dan arah harga logam mulia.
Meger mengatakan bahwa investor perlu mencermati perkembangan pasar energi karena sektor tersebut menjadi salah satu sumber kekhawatiran inflasi.
Ia juga menilai perkembangan konflik di Timur Tengah dapat memengaruhi harga energi. Eskalasi maupun meredanya konflik berpotensi mengubah pergerakan harga energi dan memberikan dampak besar terhadap pasar logam.
Investor Pantau Pemilihan Umum AS dan Kebijakan ECB
Selain perkembangan inflasi dan suku bunga, investor juga mencermati pemilihan umum paruh waktu AS yang berlangsung pada 3 November 2026.
Hasil pemilihan tersebut berpotensi memengaruhi arah kebijakan fiskal AS. Perubahan kebijakan juga dapat memengaruhi sentimen investor di pasar keuangan global.
Sementara itu, Bank Sentral Eropa (ECB) mengumumkan bahwa Presiden Christine Lagarde akan mengundurkan diri dari jabatannya pada 7 Februari.
ECB juga memutuskan mempertahankan suku bunga. Namun, bank sentral tersebut memperingatkan bahwa kenaikan biaya energi dapat meningkatkan risiko inflasi di kawasan Eropa.
Harga Perak, Platinum, dan Paladium Ikut Melemah
Pelemahan tidak hanya terjadi pada emas. Sejumlah logam mulia lainnya juga mencatatkan penurunan harga pada perdagangan Kamis.
Harga perak di pasar spot turun 2,7% menjadi US$52,54 per ons. Sementara itu, harga platinum melemah 3,7% ke posisi US$1.486,47 per ons.
Harga paladium juga terkoreksi 0,7% menjadi US$1.003,58 per ons.
Dengan penurunan tersebut, perak, platinum, dan paladium turut mencatatkan pelemahan bulanan selama dua bulan berturut-turut.
Perkembangan inflasi AS, arah kebijakan suku bunga The Fed, serta pergerakan harga energi global kini menjadi sejumlah faktor penting yang memengaruhi pasar logam mulia.
(vvr*)









