iNBrita.com – Para ahli iklim dunia memperingatkan bahwa El Nino pada 2026 berpotensi menjadi salah satu yang terkuat sejak pencatatan dimulai pada 1950. Fenomena ini dapat meningkatkan suhu global dan memperparah dampak perubahan iklim.
Dikutip dari NDTV, Jumat (9/10/2026), Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga memperingatkan potensi kekuatan El Nino kali ini. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menilai fenomena tersebut dapat memperburuk pemanasan global akibat aktivitas manusia.
WMO menjelaskan bahwa Samudra Pasifik akan melepaskan panas dalam jumlah besar. Akibatnya, banyak wilayah di dunia berpotensi mengalami suhu yang lebih tinggi dari biasanya.
Peta Iklim Menunjukkan Pemanasan Global
Ahli meteorologi Ryan Maue turut menyoroti perkembangan El Nino tahun ini. Ia membagikan peta iklim global yang menunjukkan dominasi warna merah di berbagai wilayah.
Maue menilai El Nino dapat mencapai kekuatan maksimum hingga musim dingin. Kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan suhu di berbagai belahan dunia.
“El Nino berlanjut pada ‘kekuatan maksimum’ hingga musim dingin dengan pemanasan planet meningkat di mana-mana KECUALI Amerika Serikat,” tulis Maue melalui akun X miliknya.
Selain itu, Maue sependapat dengan WMO mengenai kemungkinan El Nino bertahan hingga Februari 2027.
Ilmuwan Mencatat Anomali Suhu yang Tinggi
Ilmuwan iklim Zeke Hausfather juga memperingatkan peningkatan kekuatan El Nino. Menurut dia, fenomena tahun ini terus bergerak menuju tingkat yang belum pernah tercatat sebelumnya.
Hausfather menyebut anomali suhu di wilayah Nino 3.4 telah mencapai 3,4 derajat Celsius di atas normal. Angka tersebut, menurut pernyataannya, melampaui peristiwa El Nino sebelumnya yang pernah tercatat.
Sementara itu, pakar cuaca Leon Simons menggunakan istilah “El Nino super-duper” untuk menggambarkan fenomena tersebut.
Pernyataan para ahli ini menambah perhatian terhadap perkembangan El Nino. Sebab, peningkatan suhu laut dapat memengaruhi kondisi cuaca di berbagai negara.
Suhu Laut Pasifik Berpotensi Pecahkan Rekor
WMO memperkirakan suhu permukaan laut akan melampaui rata-rata di sebagian besar wilayah dunia pada akhir 2026.
Secara khusus, badan tersebut menyoroti wilayah Pasifik tropis bagian tengah dan timur. Kawasan ini menjadi pusat perkembangan El Nino.
WMO memproyeksikan anomali suhu permukaan laut di kawasan tersebut dapat mencapai 3,7 derajat Celsius di atas normal pada Oktober hingga Desember 2026. Angka itu setara dengan sekitar 6,7 derajat Fahrenheit.
El Nino sendiri merupakan fase hangat dari siklus El Nino-Southern Oscillation (ENSO). Siklus alami ini memengaruhi suhu laut dan pola cuaca di berbagai wilayah dunia.
Ketika El Nino menguat, suhu rata-rata global cenderung meningkat. Selain itu, fenomena ini dapat mengubah pola curah hujan dan memicu cuaca ekstrem.
El Nino Berpotensi Memicu Kekeringan dan Hujan Lebat
Dampak El Nino tidak selalu sama di setiap wilayah. Sebagian daerah berpotensi mengalami kekeringan berkepanjangan. Sebaliknya, wilayah lain dapat menghadapi hujan lebat.
Perubahan pola hujan tersebut dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi. Misalnya, kekeringan dapat mengganggu pasokan air dan produksi pertanian. Sementara itu, hujan ekstrem dapat meningkatkan risiko banjir dan tanah longsor.
Secara alami, El Nino muncul setiap dua hingga tujuh tahun. Namun, para ilmuwan kini menaruh perhatian besar terhadap kekuatan fenomena yang berkembang pada 2026.
Peneliti Peringatkan Risiko Kematian Tambahan
Selain ancaman cuaca ekstrem, para peneliti juga menyoroti dampak El Nino terhadap kesehatan manusia.
Peneliti Climate Impact Lab dari Universitas Chicago memperkirakan bahwa super El Nino tahun ini berpotensi menyebabkan hingga 451.000 kematian tambahan di seluruh dunia.
Perkiraan tersebut mencakup periode Juni 2026 hingga Februari 2027. Angka ini menunjukkan besarnya potensi dampak kesehatan yang perlu diantisipasi.
Meski demikian, angka tersebut merupakan perkiraan peneliti, bukan jumlah kematian yang telah terjadi. Dampak sebenarnya akan bergantung pada perkembangan kondisi iklim serta kemampuan setiap negara dalam melindungi masyarakat.
Karena itu, perkembangan El Nino perlu terus dipantau. Pemerintah dan masyarakat juga perlu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan kekeringan, hujan ekstrem, serta risiko kesehatan akibat kenaikan suhu.
(VVR*)









