Jakarta, iNBrita.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali melemah pada penutupan perdagangan Selasa (13/10/2026). Indeks turun 10,171 poin atau 0,17 persen ke level 5.925,97 dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak di rentang 5.828,67 hingga 5.930,08. Indeks membuka perdagangan pada level 5.914,98 dan mencatatkan nilai transaksi sebesar Rp10,54 triliun. IHSG sempat menyentuh level terendah 5.828,67 sebelum mengakhiri perdagangan di zona merah.
Di tengah pelemahan indeks, sebanyak 336 saham mencatatkan kenaikan harga. Sebaliknya, 290 saham mengalami penurunan, sedangkan 168 saham lainnya mempertahankan harga sebelumnya.
Pada Senin (12/10/2026), IHSG merosot 2,59 persen hingga mencapai level 5.936. Kondisi tersebut membuat investor tetap mewaspadai tekanan pasar, meskipun investor asing membukukan pembelian bersih saham Indonesia.
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, mengingatkan investor agar mengantisipasi risiko koreksi lanjutan. Ia menilai IHSG masih berpotensi turun ke kisaran 5.800 apabila indeks gagal menembus level 6.020.
Fanny juga menyarankan investor memanfaatkan penguatan teknikal untuk merealisasikan keuntungan. Ia mengimbau pelaku pasar menerapkan strategi take profit atau mengambil untung ketika harga saham menguat.
Dari pasar global, perkembangan geopolitik di Timur Tengah turut memengaruhi sentimen investor. Serangan kelompok Houthi Yaman terhadap bandara di Arab Saudi menimbulkan kekhawatiran terhadap prospek peningkatan pasokan minyak dunia.
Selain memantau situasi geopolitik, investor global menunggu publikasi sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat (AS). Data inflasi konsumen, inflasi produsen, dan penjualan ritel menjadi perhatian pelaku pasar untuk memperkirakan arah perekonomian AS.
Dari dalam negeri, Tim Analis Phintraco Sekuritas menyoroti rumor mengenai Morgan Stanley Capital International (MSCI). Rumor tersebut memicu kekhawatiran investor dan mendorong pelaku pasar untuk mencermati perkembangan informasi terkait pasar modal Indonesia.
Berbagai sentimen tersebut membuat investor terus memantau pergerakan IHSG. Pelaku pasar juga mencermati perkembangan geopolitik, publikasi data ekonomi AS, dan kejelasan informasi di pasar modal domestik sebelum menentukan strategi investasi berikutnya.
(eny)









