Jakarta, iNBrita.com — Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Teheran akan segera menyerahkan rancangan kesepakatan nuklir kepada Amerika Serikat (AS). Ia menegaskan bahwa timnya akan menuntaskan draf tersebut dalam dua hingga tiga hari ke depan.
Araghchi menjelaskan bahwa ia akan mempresentasikan rancangan kesepakatan itu kepada mitranya di AS sebelum menyerahkannya kepada utusan khusus AS, Steve Witkoff, setelah mendapatkan persetujuan akhir dari atasannya.
Pernyataan ini muncul setelah Presiden AS, Donald Trump, mengancam akan mengambil tindakan militer jika Iran tidak segera mencapai kesepakatan. Trump memberikan waktu maksimal 10 hingga 15 hari bagi Teheran untuk menyetujui solusi terkait program nuklirnya.
Menanggapi hal tersebut, Araghchi membantah adanya ultimatum dari pihak AS. Ia menegaskan bahwa kedua negara saat ini hanya membahas cara untuk mencapai kesepakatan secara cepat. Menurutnya, baik Iran maupun AS sama-sama menginginkan tercapainya kesepakatan dalam waktu singkat.
Trump menyatakan bahwa ia akan memutuskan dalam 10 hingga 15 hari apakah akan melancarkan serangan terhadap Iran. Ia menilai rentang waktu tersebut sudah cukup sebagai batas maksimal bagi Teheran untuk mengambil keputusan.
Dalam pernyataannya kepada wartawan di pesawat kepresidenan Air Force One, Trump menegaskan bahwa Iran tidak boleh terus mengancam stabilitas kawasan dan tidak boleh memiliki senjata nuklir. Ia memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi konsekuensi serius jika gagal mencapai kesepakatan yang substansial.
Di sisi lain, pemerintah Iran secara konsisten menyatakan bahwa mereka menjalankan program nuklir semata-mata untuk tujuan sipil, bukan untuk mengembangkan senjata nuklir.
(Tim*)














