Jakarta, iNBrita.com – Banyak orang menganggap mobil listrik hanya mampu bertahan selama 10 tahun. Anggapan ini membuat sebagian konsumen khawatir, terutama saat mempertimbangkan daya tahan baterai mobil listrik.
Namun, riset yang terbit dalam jurnal Nature Energy menunjukkan hasil berbeda. Baterai mobil listrik berpotensi bertahan antara 10 hingga 20 tahun. Pola penggunaan dan pengelolaan suhu turut menentukan usia pakainya.
Penurunan kapasitas baterai juga berlangsung secara bertahap. Artinya, mobil listrik tidak langsung berhenti beroperasi setelah mencapai usia 10 tahun. Angka tersebut sering merujuk pada masa garansi atau kapasitas baterai yang tersisa sekitar 70 hingga 80 persen.
Riset Ungkap Usia Pakai Mobil Listrik
Pada 2024, para peneliti menerbitkan studi berjudul The Closing Longevity Gap Between Battery Electric Vehicles and Internal Combustion Vehicles in Great Britain. Penelitian ini menganalisis data lebih dari 29 juta kendaraan di Inggris selama periode 2005 hingga 2022.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kesenjangan usia pakai antara mobil listrik dan mobil bermesin pembakaran semakin menyempit. Temuan ini sekaligus menunjukkan bahwa perkiraan usia baterai mobil listrik selama ini cenderung konservatif.
Sebagai perbandingan, mobil bensin rata-rata mampu menempuh jarak hingga 320.000 kilometer sebelum pemiliknya perlu melakukan perbaikan mesin besar. Sementara itu, baterai mobil listrik generasi terbaru juga berpotensi mencapai jarak tempuh serupa dengan kapasitas yang masih memadai.
Meski demikian, pemilik tetap perlu merawat baterai agar kinerjanya bertahan lebih lama.
Suhu Memengaruhi Ketahanan Baterai
Suhu menjadi salah satu faktor penting yang menentukan usia baterai mobil listrik. Paparan panas atau dingin ekstrem dapat mempercepat penurunan kinerja baterai.
Karena itu, produsen menggunakan sistem pendingin cair atau liquid cooling system untuk menjaga temperatur baterai. Sistem ini membantu baterai mempertahankan suhu kerja yang sesuai, terutama saat pengemudi menghadapi kemacetan atau memarkir mobil di tempat panas.
Selain suhu, kebiasaan mengisi daya juga memengaruhi kesehatan baterai. Pemilik yang terlalu sering menggunakan pengisian cepat DC (DC fast charging) berpotensi meningkatkan paparan panas pada baterai.
Sebaliknya, pemilik dapat menggunakan pengisian AC di rumah untuk memenuhi kebutuhan harian. Cara ini membantu mengurangi ketergantungan pada pengisian cepat, meskipun dampaknya tetap bergantung pada kondisi baterai dan sistem pengisian kendaraan.
Cara Merawat Baterai Mobil Listrik
Pemilik mobil listrik dapat melakukan beberapa langkah sederhana untuk menjaga kesehatan baterai. Pertama, hindari membiarkan kapasitas baterai mencapai 0 persen terlalu sering. Selain itu, jangan terus-menerus mengisi baterai hingga 100 persen jika kebutuhan perjalanan tidak mengharuskannya.
Untuk pemakaian sehari-hari, pemilik dapat menjaga kapasitas baterai di kisaran 20 hingga 80 persen. Kebiasaan ini membantu mengurangi tekanan pada baterai dalam kondisi penggunaan tertentu.
Secara umum, baterai mobil listrik memiliki siklus pengisian dan pengosongan sekitar 1.500 hingga 3.000 kali. Namun, jumlah siklus tersebut dapat berbeda menurut jenis baterai, suhu, pola pengisian, dan kondisi pemakaian.
Pemilik juga sebaiknya menghindari parkir terlalu lama di bawah terik matahari. Jika tersedia, pilih tempat parkir yang teduh agar baterai tidak terus-menerus terpapar suhu tinggi.
Untuk pengisian daya di rumah, pemilik dapat memprioritaskan penggunaan wallbox sesuai rekomendasi produsen. Penggunaan fast charging tetap bermanfaat saat perjalanan jauh, tetapi pemilik sebaiknya menyesuaikan frekuensinya dengan kebutuhan.
Selain itu, lakukan pemeriksaan berkala di bengkel resmi. Pemilik juga perlu memperbarui perangkat lunak kendaraan sesuai rekomendasi produsen. Pembaruan tersebut dapat meningkatkan kinerja sistem manajemen baterai atau Battery Management System (BMS).
Garansi Baterai Mobil Listrik di Indonesia
Di Indonesia, konsumen juga mendapatkan perlindungan melalui ketentuan garansi baterai mobil listrik. Peraturan Menteri Perindustrian Nomor 15 Tahun 2025 mengatur kewajiban garansi baterai minimal delapan tahun atau 160.000 kilometer untuk mobil listrik yang tercakup dalam ketentuan tersebut.
Garansi ini memberikan perlindungan bagi konsumen selama memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku. Karena itu, calon pembeli sebaiknya memeriksa cakupan garansi, batas jarak tempuh, serta ketentuan perawatan sebelum memilih kendaraan.
Pada akhirnya, usia baterai mobil listrik tidak hanya bergantung pada lamanya pemakaian. Suhu, kebiasaan mengisi daya, perawatan rutin, dan teknologi baterai turut menentukan daya tahannya.
Dengan perawatan yang tepat, pemilik dapat membantu memperlambat penurunan kapasitas baterai. Mobil listrik pun berpeluang tetap beroperasi dalam jangka panjang, meskipun daya jelajahnya berkurang seiring bertambahnya usia.
(vvr*)









