Rupiah Anjlok, Yield Obligasi Melonjak, Investor Mulai Khawatir

Rupiah melemah ke rekor terendah, sementara kenaikan yield obligasi dan tekanan global membuka tantangan sekaligus peluang baru bagi investor.

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 1 November 2026 - 15:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rupiah melemah terhadap dolar AS, sementara yield obligasi pemerintah Indonesia terus meningkat. (AP Photo/Tatan Syuflana)

Rupiah melemah terhadap dolar AS, sementara yield obligasi pemerintah Indonesia terus meningkat. (AP Photo/Tatan Syuflana)

Jakarta, iNBrita.com – Pasar keuangan Indonesia kembali menghadapi tekanan setelah sempat menguat pada pekan lalu. Kali ini, tekanan tidak hanya menghantam pasar saham, tetapi juga merambah pasar mata uang dan obligasi pemerintah.

Dalam riset yang dirilis pada Minggu (1/11/2026), Ashmore Asset Management Indonesia mencatat rupiah menyentuh rekor terendah pada Rabu pekan ini. Nilai tukar rupiah sempat menyentuh Rp 18.175 per dolar AS. Pada akhir pekan, rupiah bergerak ke level Rp 18.127 per dolar AS, mendekati rekor terendah tersebut.

Tekanan juga menghantam pasar obligasi pemerintah. Imbal hasil atau yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun melonjak ke level 7,71%. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sejak Mei 2020.

Permintaan Obligasi Pemerintah Melemah

Pasar obligasi pemerintah menjadi perhatian utama setelah investor menunjukkan minat yang lebih rendah dalam lelang pada Selasa. Nilai penawaran yang masuk hanya mencapai Rp 31,1 triliun. Angka tersebut turun tajam dibandingkan Rp 64,9 triliun pada lelang dua pekan sebelumnya.

Pemerintah hanya menyerap obligasi senilai Rp 20,65 triliun. Jumlah tersebut berada di bawah target awal sebesar Rp 30 triliun.

Lemahnya permintaan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi. Yield lelang untuk tenor 10 tahun mencapai 7,54%, level tertinggi sejak November 2022. Tekanan berlanjut di pasar sekunder karena investor terus meminta imbal hasil yang lebih tinggi sepanjang pekan.

Bank Indonesia (BI) menjelaskan sejumlah faktor yang menekan rupiah. Pertama, harga minyak dunia yang melampaui US$ 115 per barel meningkatkan risiko fiskal bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak.

Kedua, pasar memperkirakan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga. Ekspektasi tersebut mendorong investor menarik dana dari pasar negara berkembang atau emerging markets.

Selain itu, investor juga mencermati kekhawatiran terkait peninjauan MSCI terhadap saham-saham Indonesia.

Untuk menjaga stabilitas pasar, Bank Indonesia terus melakukan intervensi di pasar valuta asing dan membeli obligasi pemerintah. BI juga menilai pergerakan rupiah masih mengikuti tren sejumlah mata uang negara lain di kawasan regional.

Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury (UST) tenor 10 tahun berakhir pada level 4,94% pada akhir pekan. Namun, selisih imbal hasil atau yield spread antara obligasi pemerintah Indonesia dan AS melebar menjadi sekitar 2,8 poin persentase. Sebelum konflik berlangsung, selisih tersebut masih berada di kisaran 2,5 poin persentase.

Investor Asing Masih Mempertahankan Kepemilikan Obligasi

Kepemilikan investor asing atas obligasi pemerintah yang dapat diperdagangkan masih relatif stabil. Hingga 28 Oktober, investor asing memegang obligasi senilai sekitar Rp 916 triliun.

Sebaliknya, perbankan domestik mengurangi kepemilikan obligasi pemerintah sekitar Rp 10 triliun. Pada periode yang sama, Bank Indonesia justru menambah kepemilikannya sekitar Rp 13 triliun.

Ashmore menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan pasar obligasi lebih banyak berasal dari melemahnya permintaan domestik dan kekhawatiran investor terhadap kondisi Indonesia. Dengan demikian, tekanan tersebut tidak terutama berasal dari aksi investor asing yang menarik modalnya.

Ashmore juga menilai stabilnya kepemilikan investor asing sebagai sinyal positif di tengah gejolak pasar keuangan.

Bagi investor obligasi, kenaikan yield memang berpotensi menekan harga obligasi dalam jangka pendek. Namun, kondisi ini juga membuka peluang bagi investor baru untuk mengunci imbal hasil yang jauh lebih tinggi daripada tingkat inflasi.

The Fed Mempertahankan Suku Bunga

Dari pasar global, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%–4,00%. Meski demikian, sejumlah pejabat bank sentral AS masih membuka peluang pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut.

Dua pejabat The Fed, yakni Gubernur Lisa Cook dan Presiden The Fed Cleveland Beth Hammack, bahkan memilih kenaikan suku bunga dalam keputusan terbaru tersebut.

Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember mencapai sekitar 74%.

Ekonomi AS juga menunjukkan pertumbuhan yang cukup kuat. Produk domestik bruto (PDB) negara tersebut tumbuh 3,4% pada kuartal ketiga.

Namun, sejumlah perusahaan teknologi besar justru mencatatkan kinerja yang beragam. Kondisi tersebut kembali memunculkan keraguan investor terhadap potensi keuntungan dari investasi besar-besaran di sektor kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Kekhawatiran tersebut turut menekan pergerakan pasar saham global. Sementara itu, harga minyak dunia masih bertahan di dekat level tertinggi dalam enam bulan terakhir akibat meningkatnya ketegangan di kawasan Teluk.

Ketegangan di Kawasan Teluk Menekan Harga Minyak

Situasi geopolitik di kawasan Teluk masih menjadi perhatian utama investor global. Militer Iran menyatakan tetap menutup Selat Hormuz bagi kapal komersial yang tidak mengikuti aturan mereka hingga pihak terkait memenuhi persyaratan yang diajukan.

Ketegangan semakin meningkat setelah sebuah kapal tanker terkena ranjau di wilayah sebelah timur Selat Hormuz.

Di tengah situasi tersebut, upaya diplomasi antara sejumlah negara belum menunjukkan perkembangan berarti. Seorang pejabat Iran bahkan menolak gagasan dalam draf kesepakatan yang Qatar susun karena menganggapnya tidak dapat diterima.

Sementara itu, pertemuan di Teheran yang melibatkan Arab Saudi, Turki, dan Pakistan juga berakhir tanpa menghasilkan kesepakatan.

Sejumlah laporan memperkirakan AS tidak akan melancarkan operasi militer besar-besaran sebelum pemilihan umum paruh waktu pada 3 November.

Ketidakpastian tersebut membuat harga minyak dunia tetap tinggi. Pada akhir pekan, minyak mentah Brent bertahan di kisaran US$ 117 per barel. Harga tersebut menjadi level tertinggi dalam sekitar enam bulan terakhir.

Sejumlah Faktor yang Perlu Dicermati Investor

Ashmore menilai tekanan pasar keuangan Indonesia pada pekan ini menunjukkan pergeseran yang perlu investor perhatikan. Setelah sebelumnya menghantam pasar saham, tekanan kini merambah pasar mata uang dan obligasi pemerintah. Kondisi tersebut terjadi ketika imbal hasil obligasi global justru menunjukkan tren penurunan.

Bagi investor obligasi, kenaikan yield saat ini menawarkan peluang untuk memperoleh pendapatan investasi yang lebih menarik. Namun, investor tetap perlu memperhitungkan risiko penurunan harga obligasi akibat volatilitas pasar.

Sementara itu, investor saham perlu lebih selektif dalam memilih perusahaan. Ashmore menyarankan investor untuk mengutamakan saham perusahaan dengan likuiditas tinggi dan fundamental yang kuat agar dapat menghadapi gejolak pasar.

Investor juga perlu menjaga diversifikasi portofolio melalui berbagai wilayah dan kelas aset. Strategi tersebut dapat membantu mengelola risiko ketika pasar keuangan menghadapi ketidakpastian.

Ke depan, terdapat sejumlah agenda penting yang perlu investor cermati:

  1. Pemilihan umum paruh waktu AS: Pemilu pada 3 November berpotensi memengaruhi arah kebijakan politik dan ekonomi AS.

  2. Inflasi Indonesia: Data inflasi Oktober akan memberikan gambaran terbaru mengenai perkembangan harga barang dan jasa di dalam negeri.

  3. Pertumbuhan ekonomi Indonesia: Rilis data PDB kuartal ketiga pada awal November akan menunjukkan kondisi perekonomian nasional.

  4. Perkembangan hubungan AS dan Iran: Investor perlu mencermati respons kedua negara terhadap usulan diplomasi terbaru untuk melihat potensi perubahan harga minyak dunia.

  5. Pertemuan Bank Indonesia: Keputusan BI dalam rapat pada 17–18 November akan menjadi perhatian pasar, terutama terkait kebijakan suku bunga dan stabilitas rupiah.

Dengan mencermati berbagai perkembangan tersebut, investor dapat menyusun strategi investasi secara lebih terukur. Investor juga perlu menjaga keseimbangan portofolio agar mampu menghadapi perubahan kondisi pasar keuangan global maupun domestik.

(vvr*)

Follow WhatsApp Channel inbrita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Rupiah Melemah, Dolar AS Diprediksi Tembus Rp 18.320
Harga Emas Antam Anjlok, Buyback Turun Tajam Akhir Pekan
Harga Minyak Dunia Melonjak, Ketegangan Iran Picu Kekhawatiran
Harga BBM Pertamina 1 November 2026 Terbaru Indonesia
IDX Commodity 20 Resmi Diluncurkan, Ini Daftar Sahamnya
Rekomendasi Saham Hari Ini, IHSG Berpeluang Rebound Jumat
Rupiah Menguat ke Rp18.123, Ini Sentimen Penggerak Dolar
Harga Emas Pegadaian Hari Ini, Antam, UBS, Galeri24
Berita ini 1 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 15:00 WIB

Rupiah Anjlok, Yield Obligasi Melonjak, Investor Mulai Khawatir

Minggu, 1 November 2026 - 13:00 WIB

Rupiah Melemah, Dolar AS Diprediksi Tembus Rp 18.320

Minggu, 1 November 2026 - 10:00 WIB

Harga Minyak Dunia Melonjak, Ketegangan Iran Picu Kekhawatiran

Minggu, 1 November 2026 - 09:00 WIB

Harga BBM Pertamina 1 November 2026 Terbaru Indonesia

Jumat, 30 Oktober 2026 - 17:00 WIB

IDX Commodity 20 Resmi Diluncurkan, Ini Daftar Sahamnya

Berita Terbaru

Sekda Kota Sungai Penuh Alpian menghadiri pelantikan Pengawas, Dewan Hakim, dan Panitera MTQH ke-55 Tingkat Provinsi Jambi Tahun 2026 di Kantor Wali Kota Jambi.

Jambi

Sekda Alpian Hadiri Pelantikan Dewan Hakim MTQH Jambi

Minggu, 1 Nov 2026 - 15:00 WIB

Wakil Wali Kota Sungai Penuh Azhar Hamzah bersama masyarakat mengikuti rangkaian kegiatan HUT ke-18 Kota Sungai Penuh di Lapangan Merdeka.

SUNGAI PENUH

Azhar Hamzah Ajak Warga Hidup Sehat Saat HUT Sungai Penuh

Minggu, 1 Nov 2026 - 14:00 WIB

Pergerakan rupiah menghadapi tekanan dolar AS dan ketidakpastian pasar keuangan.(Foto: Kapanlagi.com/Budy Santoso)

Ekonomi

Rupiah Melemah, Dolar AS Diprediksi Tembus Rp 18.320

Minggu, 1 Nov 2026 - 13:00 WIB

Wali Kota Alfin bersama Wakil Wali Kota Azhar Hamzah melepas ratusan peserta Juara Run 2.0 dalam rangka HUT ke-18 Kota Sungai Penuh.(Foto : Diskominfosta Sungai Penuh

SUNGAI PENUH

Wali Kota Alfin Lepas 500 Peserta Juara Run 2026

Minggu, 1 Nov 2026 - 12:04 WIB