Jakarta, iNBrita.com – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada akhir perdagangan Senin (2/11/2026). Mata uang Indonesia tersebut melemah 9 poin atau 0,05 persen ke level Rp18.156 per dolar Amerika Serikat (AS), berdasarkan data Bloomberg.
Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, menilai ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pergerakan mata uang. Investor masih mencermati perkembangan hubungan Amerika Serikat dan Iran yang berpotensi memicu konflik lebih luas.
Menurut Ibrahim, Presiden AS Donald Trump memilih membuka ruang diplomasi sebelum mengambil keputusan terkait kemungkinan tindakan militer terhadap Iran. Sikap tersebut disampaikan Trump kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
“Presiden Trump menyampaikan kepada Netanyahu bahwa ia memilih memberikan waktu untuk diplomasi sebelum memutuskan tindakan militer,” kata Ibrahim, Senin (2/11/2026).
Keputusan Trump tersebut memunculkan kekhawatiran di pihak Israel. Netanyahu dikabarkan mendesak Washington agar segera mengambil tindakan militer terhadap Teheran.
Sementara itu, Iran masih membuka peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Pejabat Iran dan Qatar bahkan telah melakukan pembicaraan selama tiga hari berturut-turut untuk mencari jalan keluar dari ketegangan tersebut.
Teheran menyatakan kesiapannya mengikuti proses diplomasi, meskipun tetap memperkuat pertahanan untuk menghadapi kemungkinan serangan. Qatar juga berusaha menjadi penengah dengan mengusulkan pembukaan kembali jalur pelayaran Selat Hormuz.
Situasi tersebut membuat investor cenderung menahan keputusan investasi sambil menunggu perkembangan berikutnya. Ancaman serangan militer AS terhadap Iran masih menjadi perhatian karena berpotensi memperluas konflik di kawasan Timur Tengah.
Kebijakan Suku Bunga The Fed Ikut Menekan Rupiah
Selain faktor geopolitik, arah kebijakan moneter Amerika Serikat juga memengaruhi pergerakan rupiah.
Sejumlah pejabat Federal Reserve (The Fed) memberikan sinyal perlunya pengetatan kebijakan moneter. Presiden The Fed Dallas, Lorie Logan, menyampaikan pandangan mengenai kemungkinan dua kali kenaikan suku bunga.
Presiden The Fed St. Louis, Alberto Musalem, juga mendukung penambahan suku bunga dalam waktu dekat. Menurutnya, kebijakan moneter yang berlaku saat ini masih belum cukup ketat.
Sinyal kenaikan suku bunga tersebut berpotensi meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar AS. Kondisi ini dapat mendorong investor mengalihkan dana ke pasar Amerika Serikat dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Pelaku pasar selanjutnya akan memperhatikan sejumlah indikator ekonomi AS. Data Purchasing Managers’ Index (PMI) sektor manufaktur dan jasa dari Institute for Supply Management (ISM) untuk Oktober menjadi salah satu perhatian.
Selain itu, investor juga menunggu laporan ketenagakerjaan AS, terutama data Non-Farm Payroll (NFP), untuk melihat kondisi pasar tenaga kerja dan memperkirakan arah kebijakan The Fed.
Surplus Perdagangan Indonesia Beri Harapan Positif
Dari dalam negeri, kondisi perdagangan internasional memberikan dukungan bagi fundamental ekonomi Indonesia.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 mengalami surplus sebesar 3,36 miliar dolar AS.
Surplus tersebut berasal dari nilai ekspor yang mencapai 27,59 miliar dolar AS, sementara impor tercatat sebesar 24,23 miliar dolar AS.
Ibrahim menjelaskan bahwa kenaikan harga minyak turut memengaruhi kinerja perdagangan Indonesia. Kondisi tersebut meningkatkan nilai impor sehingga perlu menjadi perhatian pemerintah dan pelaku pasar.
“Kinerja ekspor impor dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak yang mengerek nilai impor Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan ekspor,” ujar Ibrahim.
Menurutnya, surplus perdagangan dapat memperkuat fundamental ekonomi nasional dan memberikan sentimen positif bagi rupiah.
Meski demikian, investor tetap perlu memperhatikan perkembangan ekspor, impor, serta pergerakan modal asing. Pasalnya, surplus perdagangan tidak selalu langsung mendorong penguatan mata uang domestik apabila tekanan eksternal masih berlangsung.
Inflasi Oktober Masih Terkendali
Indikator ekonomi domestik lainnya juga menunjukkan perkembangan yang perlu dicermati. Inflasi Indonesia pada Oktober 2026 tercatat sebesar 0,22 persen secara bulanan atau month-to-month (mtm).
Angka tersebut menunjukkan kenaikan harga barang dan jasa masih berada dalam kondisi relatif terkendali.
Ibrahim menilai perkembangan inflasi dan surplus perdagangan dapat menjadi faktor pendukung bagi perekonomian Indonesia. Namun, pergerakan rupiah dalam waktu dekat masih sangat bergantung pada perkembangan konflik Timur Tengah, kebijakan suku bunga AS, serta arus modal internasional.
Dengan berbagai sentimen tersebut, pelaku pasar diperkirakan masih berhati-hati dalam menentukan arah investasi. Pergerakan dolar AS dan perkembangan geopolitik global akan menjadi faktor penting yang memengaruhi nilai tukar rupiah pada perdagangan selanjutnya.









