Jakarta, iNBrita.com – Sejumlah analis Wall Street mulai kehilangan optimisme terhadap prospek harga emas setelah logam mulia tersebut merosot di bawah level US$ 3.900 per troy ounce. Sebaliknya, investor ritel masih mempertahankan optimisme meskipun harga emas mengalami tekanan jual yang cukup besar.
Survei Emas Mingguan Kitco News terbaru menunjukkan mayoritas analis memperkirakan harga emas akan kembali melemah pada pekan ini. Mereka menilai sejumlah faktor ekonomi dan geopolitik berpotensi menekan pergerakan logam mulia, termasuk pemilihan umum paruh waktu atau midterm elections di Amerika Serikat (AS).
Mengutip Kitco, Senin (2/11/2026), sebanyak 16 analis mengikuti Survei Emas Kitco News pada pekan lalu. Hasil survei menunjukkan bahwa optimisme para analis terhadap kenaikan harga emas hampir sepenuhnya menghilang setelah logam mulia tersebut gagal mempertahankan posisinya di atas US$ 3.900.
Hanya satu analis atau sekitar 6% responden yang memperkirakan harga emas akan menguat pada pekan ini. Sebaliknya, sebanyak 10 analis atau 63% memprediksi harga emas akan kembali turun. Sementara itu, lima analis lainnya atau 31% memperkirakan harga emas bergerak mendatar atau belum menunjukkan arah yang jelas.
Berbeda dengan analis Wall Street, investor ritel masih menunjukkan optimisme terhadap prospek emas. Jajak pendapat Kitco mencatat 184 suara dari investor ritel yang mengikuti survei tersebut.
Sebanyak 98 investor atau 53% responden memperkirakan harga emas akan menguat pada pekan ini. Sementara itu, 56 investor atau 30% memprediksi harga emas masih akan melemah. Adapun 30 investor lainnya atau 16% memperkirakan harga emas bergerak konsolidasi.
Analis Prediksi Harga Emas Kembali Melemah
Direktur Pelaksana Bannockburn Global Forex, Marc Chandler, menilai daya tarik emas mulai memudar setelah logam mulia tersebut mengalami penurunan harga. Ia mengingatkan bahwa harga emas sempat mendekati US$ 4.700 pada akhir Agustus lalu.
Chandler juga menyoroti posisi harga emas yang kini berada di bawah batas bawah Bollinger Bands, yakni dua standar deviasi di bawah rata-rata pergerakan selama 20 hari.
Meski demikian, Chandler belum melihat indikasi aksi jual besar-besaran di pasar emas. Namun, ia memperingatkan bahwa harga emas berpotensi turun lebih dalam jika terus mencetak level terendah baru sepanjang tahun ini.
“Jika harga terus turun hingga mencapai level terendah baru tahun ini, saya menduga emas bisa jatuh ke kisaran US$ 3.750-US$ 3.850,” tutur Chandler.
Head of Currency Strategy InvestingLive, Adam Button, juga memperkirakan harga emas akan melemah pada pekan ini. Menurutnya, pasar menghadapi sejumlah risiko penting, mulai dari pemilihan umum paruh waktu di AS hingga potensi meningkatnya ketegangan geopolitik terkait Iran.
Button mengkhawatirkan kemungkinan Presiden Donald Trump mengambil langkah keras yang dapat memperburuk konflik geopolitik. Kondisi tersebut berpotensi memicu perubahan sentimen dan meningkatkan aksi penghindaran risiko di pasar keuangan.
“Saya khawatir Trump mungkin bereaksi keras dan meningkatkan eskalasi, yang dapat memicu sentimen penghindaran risiko yang signifikan di pasar,” ujarnya.
Chief Market Strategist SIA Wealth Management juga menunjukkan sikap pesimistis terhadap prospek harga emas. Ia menilai penurunan harga yang menembus level US$ 4.000 menjadi sinyal teknikal penting bagi pelaku pasar.
“Secara teknikal, penembusan harga ke bawah level US$ 4.000 merupakan sinyal yang signifikan,” katanya.
Analis FxPro, Alex Kuptsikevich, turut memperkirakan harga emas akan melanjutkan pelemahannya. Ia menjelaskan bahwa emas telah bergerak dalam tren penurunan selama hampir 2,5 bulan. Selama periode tersebut, harga emas terus membentuk garis resistensi melalui serangkaian titik tertinggi lokal yang semakin rendah.
Kuptsikevich mencatat bahwa harga emas spot per troy ounce merosot hingga US$ 3.940 pada Jumat pekan lalu. Penurunan tersebut membawa emas ke level terendah sejak November tahun sebelumnya sekaligus menembus area dukungan di bawah US$ 4.000.
Padahal, area tersebut sebelumnya mampu menahan tekanan jual pada Juni dan Juli.
Kenaikan Harga Minyak Berpotensi Menekan Emas
Kuptsikevich menjelaskan bahwa harga emas telah mengalami koreksi sebesar 61,8% dari keseluruhan kenaikan yang berlangsung sejak titik terendah empat tahun lalu hingga mencapai puncaknya pada Januari dan Februari.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa harga emas telah memasuki batas bawah koreksi berdasarkan perhitungan teknikal.
Ia juga mengingatkan bahwa investor tidak selalu mengandalkan emas sebagai aset lindung nilai ketika pasar mengalami tekanan jual. Dalam kondisi tertentu, harga emas justru bergerak searah dengan pasar saham.
Kuptsikevich menilai emas baru berpeluang kembali menguat setelah bank sentral memberikan sinyal pelonggaran kebijakan moneter.
“Meskipun emas umumnya dianggap sebagai aset safe haven, dalam situasi aksi jual seperti ini, emas justru cenderung bergerak searah dengan pasar ekuitas. Emas baru akan kembali naik setelah ada sinyal dari bank sentral bahwa kebijakan moneter mulai melonggar,” ujarnya.
Ia menambahkan, keputusan Federal Reserve (The Fed), European Central Bank (ECB), dan Bank of Japan yang tidak menaikkan suku bunga pada pekan lalu justru memperkuat ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember.
Pada saat yang sama, harga minyak mulai mendekati batas atas kisaran perdagangan tahun ini. Kuptsikevich menilai kenaikan harga minyak dapat memperbesar tekanan inflasi dan memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter bank sentral.
Menurutnya, hubungan berlawanan antara harga minyak dan emas yang sempat terlihat empat tahun lalu kini kembali muncul. Ketika harga minyak meningkat, harga emas justru mengalami tekanan.
Kondisi tersebut membuat FxPro harus mengevaluasi kembali proyeksi harga emas yang sebelumnya mereka susun sejak awal tahun. Dalam skenario awal tersebut, mereka memperkirakan harga emas berpotensi turun hingga US$ 3.300 per troy ounce.
Data Ekonomi AS dan Pemilu Jadi Perhatian Pasar
Selain perkembangan harga minyak dan kebijakan bank sentral, investor juga akan mencermati sejumlah agenda ekonomi penting pada pekan ini. Pemilihan umum paruh waktu di Amerika Serikat dan laporan ketenagakerjaan nonfarm payrolls (NFP) Oktober menjadi dua agenda utama yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar keuangan.
Pasar akan mengawali pekan dengan mencermati publikasi data ISM Manufacturing Purchasing Managers’ Index (PMI) Oktober pada Senin pagi. Data tersebut dapat memberikan gambaran mengenai kondisi aktivitas manufaktur AS.
Selanjutnya, pada Selasa, investor akan menerima laporan Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) yang mengukur jumlah lowongan pekerjaan di AS. Pada hari yang sama, pelaku pasar juga akan memusatkan perhatian pada pelaksanaan pemilihan umum paruh waktu AS.
Memasuki Rabu, pasar kembali mendapatkan sejumlah indikator ketenagakerjaan dan aktivitas ekonomi. Investor akan mencermati laporan private nonfarm payrolls dari ADP serta data ISM Services PMI yang menggambarkan perkembangan sektor jasa AS.
Pada Kamis, pelaku pasar akan mengamati keputusan kebijakan moneter Bank of England (BoE). Selain itu, investor juga akan mencermati laporan mingguan klaim tunjangan pengangguran AS untuk mendapatkan gambaran terbaru mengenai kondisi pasar tenaga kerja.
Pekan ini akan berakhir pada Jumat dengan publikasi laporan nonfarm payrolls Oktober. Data tersebut menjadi salah satu indikator penting yang dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga The Fed.
Setelah itu, investor juga akan mencermati survei awal sentimen konsumen yang dirilis University of Michigan. Hasil survei tersebut dapat memberikan gambaran mengenai tingkat kepercayaan konsumen terhadap kondisi ekonomi AS.
Rangkaian agenda ekonomi dan perkembangan geopolitik tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas pasar sepanjang pekan ini. Investor pun akan mencermati setiap data terbaru untuk menentukan arah pergerakan harga emas selanjutnya.
(vvr*)









