Jakarta, iNBrita.com – Ganda putri Indonesia masih mencari pasangan terbaik pada tahun ini. Pelatih kembali merombak dua dari empat pasangan yang sebelumnya juga mengalami perubahan pada musim lalu.
Empat pemain tersebut meliputi Apriyani Rahayu, Siti Fadia Silva Ramadhanti, Amallia Cahaya Pratiwi, dan Lanny Tria Mayasari. Kini, Apriyani berpasangan dengan Lanny, sementara Fadia kembali dipasangkan dengan Tiwi.
Pelatih menguji dua pasangan baru tersebut di Indonesia Masters 2026 yang berlangsung di Istora GBK pada Selasa (20/1) hingga Minggu (25/1/2026).
Meski hasil turnamen ini belum menjadi patokan utama, pelatih tetap menjadikannya bahan evaluasi awal untuk menentukan masa depan ganda putri Indonesia.
Proses Pencarian Pasangan Terbaik
Fadia memahami bahwa pelatih melakukan perombakan pasangan sebagai bagian dari upaya menemukan kombinasi terbaik.
“Pelatih mungkin belum menemukan pasangan terbaik dari percobaan sebelumnya. Saya pernah berpasangan dengan Kak Apri, Lanny dengan Tiwi, lalu sekarang kami dipasangkan kembali secara berbeda. Pelatih menilai kombinasi ini yang terbaik saat ini. Kami juga sudah berkomunikasi, jadi keputusan ini datang dari kesepakatan bersama,” ujar Fadia saat ditemui di Istora GBK.
Fadia menilai pelatih tetap memasang target dalam setiap perubahan. Pelatih memberi kesempatan yang sama kepada semua pemain untuk berkembang.
“Kami memaksimalkan kondisi yang ada sekarang. Saat bermain dengan Tiwi, kami memilih menikmati prosesnya. Target kami tentu juara, tetapi kami paham semua butuh proses. Karena itu, kami fokus menjalani setiap tahap dengan baik,” kata Fadia.
Apriyani Siap Hadapi Risiko Atlet Profesional
Sementara itu, Apriyani mengakui bahwa pemain tidak pernah merasa nyaman jika harus terus berganti pasangan. Namun, ia menyadari kondisi tersebut sebagai bagian dari risiko menjadi atlet profesional.
“Tidak ada pemain yang ingin terus dipecah-pecah. Lanny pernah berpasangan dengan Fadia, lalu dengan saya. Saya juga pernah berpasangan dengan Fadia, kemudian dengan Febi, dan sekarang dengan Lanny. Situasi seperti ini memang membuat pemain tidak nyaman,” ujar Apri.
Meski begitu, Apriyani menegaskan bahwa atlet profesional harus siap menghadapi segala kondisi.
“Sebagai atlet profesional, kami harus siap dengan kebutuhan pelatih, kebutuhan tim, dan kebutuhan di lapangan. Kami tidak bisa menolak kondisi ini karena itu bagian dari risiko profesi,” lanjutnya.
Apri menilai pelatih selalu mengambil keputusan demi mendapatkan kombinasi terbaik.
“Pelatih melihat kondisi kami dan menilai kecocokan di lapangan. Jika pelatih menilai kombinasi tertentu tidak bisa berjalan, maka kami mengikuti arahannya. Kami menganggap pelatih sebagai orang tua di sini,” ucap Apri.
Target Enam Bulan ke Depan
Apriyani juga memastikan bahwa pelatih selalu melibatkan pemain dalam komunikasi sebelum melakukan perubahan.
“Pelatih selalu mengajak kami berdiskusi. Semua sudah dibicarakan dan dipertimbangkan. Kami sepakat bahwa ini jalan terbaik,” katanya.
Seperti Fadia, Apriyani juga menerima target khusus bersama Lanny untuk enam bulan ke depan, terutama dalam hal pencapaian turnamen.
“Kami sudah menerima jadwal dan target dari pelatih, lalu berupaya mencapainya. Sebagai atlet, kami siap menghadapi tekanan dan tantangan,” tutup Apri.
(Ven*)














