Jakarta, iNBrita.com – Iran menegaskan tidak melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat (AS). Pemerintah Iran juga menolak laporan tentang adanya pembicaraan di tengah konflik Timur Tengah yang terus berlangsung.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menyampaikan pernyataan tersebut kepada kantor berita resmi IRNA. Ia menjelaskan bahwa dalam beberapa hari terakhir, sejumlah “negara sahabat” telah menyampaikan pesan yang menunjukkan permintaan AS untuk membuka negosiasi guna mengakhiri perang. Namun, Iran langsung merespons pesan itu sesuai dengan posisi prinsipnya.
Baghaei menegaskan bahwa Iran telah memberikan peringatan keras terkait potensi serangan terhadap infrastruktur vital negara. Ia menyatakan bahwa angkatan bersenjata Iran akan memberikan respons tegas, cepat, dan efektif terhadap setiap serangan yang menargetkan fasilitas energi.
Ia juga membantah adanya negosiasi atau dialog dengan AS selama 24 hari terakhir sejak pecahnya konflik yang ia sebut sebagai “perang yang dipaksakan”.
Selain itu, Baghaei memastikan bahwa posisi Iran terkait Selat Hormuz dan syarat untuk mengakhiri perang tidak mengalami perubahan.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan pada Senin (23/3) bahwa pembicaraan terbaru dengan Iran berlangsung “produktif”.
Konflik kawasan terus meningkat sejak AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari. Serangan tersebut telah menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal ke Israel serta menargetkan Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS. Serangan ini menyebabkan korban jiwa, merusak infrastruktur, serta mengganggu pasar global dan penerbangan internasional.
(VVR*)














