Jakarta, iNBrita.com — Berbicara tentang tokoh terkaya di dunia, banyak orang langsung mengaitkannya dengan para miliarder teknologi modern. Namun, sejarah mencatat sosok berbeda, yaitu Mansa Musa, seorang raja Muslim saleh dari Afrika.
Mansa Musa memimpin Kekaisaran Mali dan dikenal luas bukan hanya karena kekayaannya, tetapi juga karena kedermawanannya yang luar biasa. Melalui perjalanan hajinya ke Makkah, ia bahkan mengguncang perekonomian dunia pada masanya.
Sosok Mansa Musa, Raja Muslim Terkaya Sepanjang Sejarah
Buku Islamic Finance For Gen Z karya Muhammad Misbakul Munir menyebut Mansa Musa sebagai salah satu raja Muslim terkaya sepanjang sejarah. Ia memerintah Kekaisaran Mali di Afrika Barat pada abad ke-14.
Para sejarawan memperkirakan kekayaan Mansa Musa mencapai sekitar USD 400 miliar jika disesuaikan dengan nilai mata uang saat ini. Ia mulai memerintah pada tahun 1312 dan segera memperkuat posisi Mali sebagai pusat perdagangan internasional.
Mansa Musa membangun hubungan dagang dengan berbagai wilayah di Afrika, Timur Tengah, dan Eropa. Ia mengirim ribuan pedagang ke berbagai negeri sambil membawa kain, garam, emas, dan rempah-rempah.
Perjalanan Ziarah ke Makkah
Perjalanan haji Mansa Musa ke Makkah pada tahun 1324 menjadi kisah paling terkenal dalam hidupnya. Ia berangkat bersama ribuan pengikut yang terdiri dari istri, anak-anak, pengawal, serta hewan ternak.
Dalam perjalanan itu, Mansa Musa membawa sekitar 100.000 pon emas dalam bentuk koin, batangan, dan debu emas. Ia membagikan emas tersebut kepada masyarakat miskin serta para pemimpin politik dan agama yang ia temui di sepanjang perjalanan.
Tindakan dermawan ini memperkenalkan Kekaisaran Mali dan ajaran Islam ke dunia internasional. Selain itu, langkah tersebut memperluas jaringan perdagangan Mali hingga ke luar Afrika.
Peran Mansa Musa dalam Dunia Pendidikan
Sepulang dari Makkah, Mansa Musa membawa sejumlah cendekiawan Muslim terkemuka ke Mali. Rombongan itu mencakup keturunan Rasulullah SAW serta Abu Ishaq al-Sahili, seorang penyair dan arsitek asal Andalusia.
Al-Sahili merancang Masjid Djinguereber yang berdiri pada tahun 1327. Selain membangun masjid, Mansa Musa juga mendirikan sekolah dan perpustakaan di berbagai wilayah kekaisaran.
Melalui kebijakan tersebut, Mansa Musa mendorong kemajuan seni, sastra, dan pendidikan. Timbuktu berkembang menjadi pusat ilmu pengetahuan dunia. Para pelajar dari berbagai penjuru bumi datang untuk belajar di lembaga yang kini dikenal sebagai Universitas Sankore.
Akhir Masa Pemerintahan
Mansa Musa wafat pada tahun 1337 dalam usia 57 tahun. Ia mewariskan kekaisaran kepada anak-anaknya. Namun, para penerusnya gagal menjaga stabilitas dan kejayaan kerajaan seperti yang telah ia bangun.
Kedatangan bangsa Eropa ke Afrika akhirnya mempercepat kemunduran Kekaisaran Mali dan menandai berakhirnya kejayaan kerajaan besar tersebut.
(Tim*)












