Jakarta, iNBrita.com – Salat dhuha termasuk ibadah sunnah yang memiliki banyak keutamaan. Umat Islam melaksanakannya sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki yang Allah berikan. Rasulullah SAW secara rutin menunaikan salat dhuha dan mewasiatkannya kepada umatnya.
Umat Islam melaksanakan salat dhuha pada pagi hari, mulai setelah matahari terbit hingga sebelum masuk waktu Zuhur. Waktu terbaiknya terjadi ketika matahari sudah cukup terik. Rasulullah SAW bersabda, “Salat Awwabiin dilakukan ketika anak unta kepanasan.” (HR Muslim).
Imam Ahmad juga meriwayatkan sabda Rasulullah SAW, “Salat Awwabiin dilakukan ketika anak unta mulai kepanasan pada waktu dhuha.” (HR Ahmad).
Umat Islam menunaikan salat dhuha minimal dua rakaat tanpa batas maksimal. Rasulullah SAW kadang melaksanakan dua, empat, delapan, bahkan lebih, dan mengucapkan salam setiap dua rakaat. Ummu Hani’ binti Abu Thalib meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW melaksanakan delapan rakaat salat dhuha pada hari penaklukan Makkah.
Umat Islam melaksanakan salat dhuha secara sendiri, bukan berjamaah. Cara melakukannya yaitu membaca niat, membaca doa iftitah, membaca surah Asy-Syam pada rakaat pertama, dan membaca surah Al-Lail pada rakaat kedua. Setelah itu, pelaku salat melakukan rukuk, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, kemudian tasyahud akhir dan salam.
Setelah menunaikan salat, umat Islam membaca doa dhuha untuk memohon kelancaran rezeki. Berikut doanya:
Allahumma innadh dhuha-a dhuha-uka, wal bahaa-a bahaa-uka, wal jamaala jamaaluka…
Artinya: “Ya Allah, Engkau pemilik waktu dhuha, keindahan, kekuatan, dan kekuasaan. Jika rezekiku berada di langit, turunkanlah; jika berada di bumi, keluarkanlah; jika sulit, mudahkanlah; jika haram, sucikanlah; dan jika jauh, dekatkanlah.”
Dengan melaksanakan salat dhuha, umat Islam meneladani sunnah Rasulullah SAW serta memperkuat rasa syukur dan ikhtiar dalam mencari keberkahan rezeki setiap hari.
(VVR*)












