Naypyitaw, iNBrita.com — Pasukan junta terus berhadapan dengan kelompok bersenjata etnis minoritas dan gerilyawan pro-demokrasi yang menentang kekuasaan militer.
Tentara Arakan melaporkan kepada AFP bahwa serangan udara pada Selasa (24/2) menimpa pasar di desa Yoe Ngu, Rakhine, menewaskan 17 warga sipil, termasuk pedagang, pembeli, dan anggota keluarga mereka.
Kelompok sukarelawan Asosiasi Pemuda Ponnagyun (PYA) menyebut jumlah korban tewas mencapai 18 orang. Mereka menambahkan bahwa serangan udara memicu kebakaran hebat dan menghancurkan banyak bangunan di sekitar pasar. Beberapa kios dan rumah runtuh, sementara bara api menyebar, mengancam keselamatan warga.
Ketua PYA, Pyae Phyo Naing, yang tiba di lokasi setelah serangan, menggambarkan situasi mengerikan: “Empat atau lima bangunan terbakar dan banyak bangunan hancur.” Ia menambahkan, “Beberapa orang menangis, sementara banyak mayat bergelimpangan di area tersebut.” Naing juga menyebut warga berlari menjauh karena beberapa rumah masih terbakar ketika mereka tiba.
Hingga kini, juru bicara junta belum memberikan pernyataan resmi. Penduduk lokal terus mengevakuasi korban dan memadamkan api. Serangan ini menambah daftar panjang penderitaan warga sipil di Rakhine dan menegaskan eskalasi kekerasan dalam perang sipil yang telah berlangsung bertahun-tahun, meninggalkan trauma mendalam bagi masyarakat yang terjebak di tengah konflik.
(Tim*)














