Jakarta, iNBrita.com — Pertama-tama, keluarga mengidentifikasi pria yang tewas ditembak petugas imigrasi di Minneapolis, Amerika Serikat, sebagai Alex Pretti. Pretti berusia 37 tahun dan bekerja sebagai perawat ICU di Rumah Sakit Veteran Affairs Minneapolis.
Selain itu, orang-orang terdekat mengenalnya sebagai sosok aktif, ramah, dan pecinta alam. Ia gemar bersepeda gunung serta sering menghabiskan waktu di luar ruangan bersama anjing kesayangannya, Joule, yang meninggal sekitar setahun lalu.
Awal Keterlibatan dalam Aksi Protes
Selanjutnya, Pretti mulai ikut aksi protes setelah Renee Good (37) tewas ditembak petugas Imigrasi dan Bea Cukai AS (ICE) di dalam mobilnya pada awal Januari 2026. Sejak saat itu, ia turun ke jalan untuk menyuarakan kritik terhadap kebijakan imigrasi pemerintah AS.
Versi Resmi Pemerintah Dipertanyakan
Namun demikian, keterangan resmi pemerintah menuai pertanyaan. Departemen Keamanan Dalam Negeri AS menyatakan seorang petugas melepaskan tembakan untuk membela diri. Mereka menuduh Pretti membawa senjata api dan melawan saat petugas berusaha melucuti senjatanya.
Sebaliknya, keluarga, sejumlah saksi mata, dan beberapa pejabat membantah klaim tersebut. Bahkan, berbagai video yang beredar tidak menunjukkan bukti bahwa Pretti mengancam petugas atau menggunakan senjata apa pun.
Kekecewaan terhadap Kebijakan Pemerintah
Di sisi lain, keluarga mengatakan Pretti kecewa terhadap kebijakan keras Presiden AS Donald Trump terkait imigrasi di Minneapolis. Tak hanya itu, ia juga vokal menentang pencabutan aturan perlindungan lingkungan.
“Dia membenci ketika orang-orang merusak alam tanpa tanggung jawab,” ujar ibunya, Susan Pretti, kepada Associated Press.
“Dia mencintai negara ini, tetapi membenci apa yang dilakukan orang-orang terhadapnya.”
Dukacita dari Keluarga dan Warga
Sementara itu, ungkapan duka mengalir dari warga dan kerabat. Mereka meletakkan bunga dan pesan belasungkawa di depan rumah Pretti serta di lokasi penembakan.
Lebih lanjut, adik perempuannya, Micayla Pretti, menyebut Alex sebagai “pahlawanku”.
“Ia hanya ingin menolong siapa pun,” tulis Micayla.
“Melalui pekerjaannya dan kepeduliannya pada penelitian kanker, ia telah menyentuh banyak kehidupan.”
Tanggapan Pejabat Negara Bagian
Dalam pernyataan terpisah, Gubernur Minnesota Tim Walz menggambarkan Pretti sebagai pekerja berdedikasi yang merawat para veteran. Menurutnya, Pretti juga menggunakan hak Amandemen Pertama secara damai saat ikut aksi protes.
Tidak Memiliki Rekam Kriminal
Lebih jauh, keluarga menegaskan Pretti tidak pernah berurusan dengan hukum, kecuali beberapa tilang lalu lintas. Sejalan dengan itu, catatan pengadilan menunjukkan ia tidak memiliki rekam kriminal.
Sebelumnya, orang tua Pretti juga sempat mengingatkan putranya agar berhati-hati saat mengikuti demonstrasi.
“Kami bilang boleh ikut demo, tetapi jangan bertindak bodoh,” kata ayahnya, Michael Pretti.
Soal Kepemilikan Senjata
Adapun terkait senjata, keluarga mengonfirmasi Pretti memiliki pistol dan izin resmi membawa senjata di Minnesota. Meski demikian, mereka tidak mengetahui apakah ia membawa senjata tersebut pada hari kejadian.
Sementara itu, Kepala Polisi Minneapolis Brian O’Hara menyebut Pretti tercatat sebagai pemilik senjata api yang sah.
Bantahan atas Tuduhan Terorisme
Setelah itu, keluarga mengecam narasi yang melabeli Pretti sebagai teroris domestik. Mereka menilai, tuduhan tersebut sebagai kebohongan yang menyakitkan dan tidak berdasar.
“Tolong ungkapkan kebenaran tentang putra kami. Dia orang baik,” tulis keluarga dalam pernyataan resmi.
Latar Belakang dan Kehidupan Pribadi
Sebagai informasi, Pretti lahir di Illinois dan besar di Green Bay, Wisconsin. Sejak muda, ia aktif dalam berbagai olahraga, menjadi anggota pramuka, dan bernyanyi di Paduan Suara Anak Laki-Laki Green Bay.
Kemudian, ia lulus dari Universitas Minnesota pada 2011, sempat bekerja sebagai peneliti, lalu kembali menempuh pendidikan untuk menjadi perawat terdaftar.
Kenangan dari Rekan dan Tetangga
Di tengah duka, rekan kerjanya, Dr. Dmitri Drekonja, mengenang Pretti sebagai pribadi hangat dan menyenangkan.
“Melihat dia dilabeli teroris itu sangat menyakitkan,” katanya.
Akhirnya, para tetangga juga menggambarkan Pretti sebagai sosok pendiam dan berhati tulus.
“Saya tidak pernah membayangkan dia membawa senjata,” ujar Sue Gitar.
Hingga kini, warga terus berdatangan ke tugu peringatan sementara di lokasi penembakan untuk mengenang Alex Pretti.
(Tim*)














