Jakarta, iNBrita.com – Jutaan warga Delhi menghadapi krisis air bersih akibat pencemaran amonia di Sungai Yamuna. Meskipun pemerintah mengklaim telah memulihkan pasokan air, warga melaporkan air yang mengalir masih keruh dan berbau tajam.
Ravinder Kumar, warga Sharma Enclave, mengatakan pihak berwenang hanya menyediakan air satu jam setiap tiga hari. “Mandi jadi sulit. Kadang airnya hitam. Kami hanya bisa mandi setiap empat sampai lima hari,” ujarnya, Senin (2/2/2026), mengutip CNN.
Limbah industri mencemari Sungai Yamuna, sehingga air yang menjadi sumber sekitar 40% pasokan Delhi tidak bisa diolah dengan aman. Dewan Air Delhi mencatat gangguan pasokan memengaruhi sekitar 43 kawasan dan menimpa dua juta penduduk. Beberapa wilayah, dengan total lebih dari 600.000 penduduk, tidak menerima air selama beberapa hari.
Meski pemerintah menyatakan pasokan normal pada 24 Januari, warga menemukan air yang tersisa berwarna kuning dan berbau seperti telur busuk. Shashi Bala, warga Sharma Enclave, menyebut, “Kesehatan semua orang menurun. Semua terasa kotor.”
Sejak abad ke-17, Sungai Yamuna membentuk peradaban Delhi. Kini, hanya 2% aliran sungai yang melewati kota menghasilkan 76% polusi sungai. Polusi menurunkan kadar oksigen hingga nol, membunuh kehidupan air, sementara busa putih beracun menutupi permukaan sungai sebagai tanda nyata krisis.
Aktivis menurunkan diri ke bantaran sungai untuk membersihkan sampah plastik, pakaian bekas, dan patung ritual. Namun mereka mengakui upaya itu tidak menyelesaikan masalah utama, yaitu limbah industri dan pengelolaan kota yang buruk. Pertumbuhan kota yang tidak terencana memperburuk situasi. Permukiman ilegal tanpa jaringan pipa dan sistem pembuangan memadai membuat limbah rumah tangga dan industri meresap ke tanah, mencemari air tanah.
Pemerintah Delhi berjanji meningkatkan kapasitas pengolahan limbah menjadi 1.500 juta galon per hari dan membangun jaringan pembuangan di seluruh permukiman ilegal pada 2028. Namun bagi warga miskin seperti Raja Kamat di Raghubir Nagar, janji itu terasa jauh. Ia menceritakan air sempat mati lima hari, dan ketika kembali mengalir, airnya hitam dan hanya tersedia 30 menit sehari.
Bhagwanti, warga berusia 70 tahun, menggambarkan kerasnya krisis air: “Tidak ada fasilitas pembersihan. Tidak ada air. Rasanya mereka tidak peduli apakah kami hidup atau mati.”
(vvr)














