HAIFA, iNBrita.com – Polisi Israel menangkap seorang pria Palestina yang mengenakan kostum Santa Claus saat perayaan Natal di Haifa, Rabu (24/12/2025), menurut Mossawa Center, lembaga pemantau hak sipil warga Palestina di Israel. Aparat menutup acara, menyita sejumlah peralatan, dan menangkap tiga orang: pria berbaju Santa Claus, seorang DJ, dan pedagang kaki lima. Video yang beredar menunjukkan polisi mendorong ketiganya ke tanah dan memborgol mereka di depan pengunjung.
Tuduhan dan Bantahan
Polisi menyatakan bahwa pria berbaju Santa Claus menyerang petugas saat ditangkap. Namun, Mossawa Center membantah tuduhan itu dan menilai polisi menggunakan kekuatan berlebihan. Selain itu, lembaga itu menegaskan bahwa penangkapan dilakukan tanpa dasar hukum yang jelas. Dengan kata lain, aparat melanggar hak warga Palestina yang sedang merayakan Natal. Peristiwa ini terjadi di tengah pembatasan ketat terhadap aktivitas warga Palestina akibat operasi militer Israel yang terus berlanjut di Tepi Barat, Jalur Gaza, dan kota-kota lain.
Perayaan di Bethlehem
Sementara itu, di Bethlehem, kota kelahiran Yesus, suasana Natal tetap meriah. Parade marching band mengelilingi kota sambil memainkan musik, dan anak-anak menyanyikan lagu-lagu Natal di tengah lampu-lampu hias yang menerangi jalanan. Selain itu, jemaat menghadiri misa di Gereja Kelahiran Yesus, yang menjadi pusat kegiatan Natal. Meskipun begitu, ketegangan tetap terasa karena konflik di sekitarnya.
Kondisi di Jalur Gaza
Di sisi lain, Jalur Gaza menghadapi situasi yang jauh lebih sulit. Lebih dari 70.000 orang tewas sejak konflik meletus, dan sebagian besar infrastruktur mengalami kerusakan parah akibat serangan udara Israel. Meski demikian, komunitas Kristen tetap merayakan Natal pertama mereka sejak gencatan senjata yang rapuh mulai berlaku. Bahkan, meski serangan Israel masih berlangsung, warga berusaha mempertahankan tradisi keagamaan mereka dengan aman.
Kontras Suasana Natal
Perbedaan ini menunjukkan kontras yang tajam antara wilayah yang relatif aman seperti Bethlehem dan kawasan konflik seperti Gaza. Sementara masyarakat di kota-kota seperti Haifa dan Bethlehem dapat merayakan Natal dengan musik, lampu, dan kebersamaan, warga Gaza harus menyeimbangkan perayaan dengan risiko serangan yang tinggi. Oleh karena itu, Mossawa Center menekankan pentingnya perlindungan hak sipil dan kebebasan beragama bagi semua warga Palestina, terutama saat merayakan hari raya keagamaan.
(tim)














