Jakarta, iNBrita.com — Departemen Kehakiman Amerika Serikat merilis jutaan dokumen terkait kasus Jeffrey Epstein. Dokumen itu memuat foto, video, serta riwayat percakapan email. Isinya menyinggung berbagai isu global dan tokoh internasional.
BBC melaporkan dokumen tersebut mencantumkan sejumlah nama asal Indonesia. Presiden ke-7 RI Joko Widodo dan mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati muncul dalam beberapa email. Email tersebut membahas perkembangan ekonomi dan pemberitaan dunia.
Dokumen hanya menyebut nama Jokowi dan Sri Mulyani dalam konteks informasi global. Tidak ada catatan yang mengaitkan keduanya secara langsung dengan Epstein.
Dokumen itu juga mencantumkan nama pengusaha Indonesia, seperti Hary Tanoesoedibjo dan Eka Tjipta Widjaja. Namun, dokumen mengaitkan nama mereka dengan urusan bisnis dan properti. Kaitan tersebut berhubungan dengan mantan Presiden AS Donald Trump.
ABC Australia menyebut nama Hary Tanoesoedibjo dalam catatan percakapan antara Confidential Human Source dan FBI. Percakapan itu membahas status Hary sebagai miliarder. Dokumen juga menyinggung keterlibatannya dalam pengembangan hotel bermerek Trump.
Salah satu dokumen menuduh Hary membeli properti Trump di Beverly Hills. Dokumen tersebut menyebut harga pembelian lebih tinggi dari nilai pasar.
ABC Indonesia telah menghubungi Hary Tanoesoedibjo untuk meminta tanggapan. Hingga artikel terbit, ABC belum menerima jawaban.
Laporan yang sama juga menyebut Eka Tjipta Widjaja. Dokumen mencatat ia membeli properti mewah Trump di Beverly Hills. Nilai pembelian mencapai sekitar US$ 9,5 juta dan dibayar tunai.
Hingga kini, tidak ada bukti hubungan langsung antara tokoh Indonesia tersebut dengan Jeffrey Epstein. Dokumen tidak menunjukkan keterlibatan dalam jaringan kejahatan seksual.
Sebagian besar nama hanya muncul dalam memo ekonomi dan catatan bisnis. Oleh karena itu, pencantuman nama tidak otomatis menunjukkan keterlibatan pidana.
(vvr)














