Harga Emas Antam Turun Rp17.000 pada 9 September 2026
Jakarta, iNBrita.com – Harga emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam) kembali turun pada perdagangan Rabu (9/9/2026). Harga emas Antam hari ini melemah Rp17.000 per gram dibandingkan perdagangan sebelumnya.
Mengutip laman resmi Logam Mulia, Antam menetapkan harga emas sebesar Rp2.610.000 per gram. Pada perdagangan sebelumnya, harga emas Antam masih berada di level Rp2.627.000 per gram.
Harga buyback Antam juga ikut turun. Antam memangkas harga beli kembali emas sebesar Rp20.000 menjadi Rp2.460.000 per gram.
Harga Buyback Emas Antam
Harga buyback menunjukkan nilai yang akan diterima pemilik emas ketika menjual kembali emas batangan kepada Antam. Sementara itu, harga jual menunjukkan nilai yang harus dibayar konsumen ketika membeli emas dari Antam.
Harga emas Antam dapat berubah sewaktu-waktu. Pergerakan tersebut mengikuti kondisi pasar dan berbagai faktor ekonomi global.
Antam sebelumnya mencatat harga emas tertinggi sepanjang sejarah atau all-time high pada Kamis (29/1/2026). Saat itu, harga emas Antam mencapai Rp3.168.000 per gram, sedangkan harga buyback berada di level Rp2.989.000 per gram.
Rincian Harga Emas Antam Hari Ini
Berikut daftar harga emas Antam pada Rabu (9/9/2026):
- 0,5 gram: Rp1.355.500
- 1 gram: Rp2.610.000
- 2 gram: Rp5.170.000
- 3 gram: Rp7.737.000
- 5 gram: Rp12.865.000
- 10 gram: Rp25.650.000
- 25 gram: Rp63.960.000
- 50 gram: Rp127.755.000
- 100 gram: Rp255.360.000
- 250 gram: Rp638.090.000
- 500 gram: Rp1.275.900.000
- 1.000 gram: Rp2.550.600.000
Harga Emas Dunia Ikut Melemah
Di pasar global, harga emas juga mengalami tekanan pada perdagangan Selasa (8/9/2026) atau Rabu pagi waktu Jakarta.
Harga emas melemah setelah kenaikan harga minyak dunia meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi. Kondisi tersebut juga mendorong pasar memperkirakan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada September.
Investor kini menunggu sejumlah data ekonomi Amerika Serikat (AS). Data tersebut dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter The Fed.
Mengutip CNBC, Rabu (9/9/2026), harga emas spot turun 0,4% menjadi US$4.385,85 per ons pada pukul 14.16 waktu setempat (ET). Sebelumnya, harga emas sempat mencapai US$4.442,70 per ons.
Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Desember turun 1% menjadi US$4.431 per ons.
Analis Senior StoneX, Daniel Pavilonis, menilai peluang kenaikan suku bunga masih membatasi pergerakan emas.
“Pergerakan emas tertahan dalam kisaran tertentu karena dibatasi oleh tingginya kemungkinan kenaikan suku bunga, yang terus menghambat momentum pasar,” ujar Pavilonis.
Harga Minyak Picu Kekhawatiran Inflasi
Kenaikan harga minyak dunia turut menekan pasar emas. Harga minyak mentah Brent bahkan mendekati US$100 per barel.
Brent sempat mencapai US$99,46 per barel, level tertinggi sejak 24 Juli. Kenaikan tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi peningkatan inflasi.
Pasar juga mencermati ketegangan geopolitik di Timur Tengah setelah kelompok Houthi di Yaman menyerang fasilitas energi Arab Saudi. Iran juga mengancam Amerika Serikat dengan perang ekonomi.
Kondisi tersebut meningkatkan perhatian investor terhadap risiko inflasi dan kebijakan suku bunga.
Investor Menanti Data Ekonomi AS
Investor terus mencermati sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat. Pasar sebelumnya menerima laporan lapangan kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan.
Selain itu, investor menunggu data Consumer Price Index (CPI) atau Indeks Harga Konsumen serta Producer Price Index (PPI) atau Indeks Harga Produsen.
Wakil Presiden dan Ahli Strategi Logam Zaner Metals, Peter Grant, mengatakan kenaikan harga minyak meningkatkan kekhawatiran inflasi. Kondisi itu juga memperkuat ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga pada September.
Harga emas spot sebelumnya sempat turun hingga 2,4% pada Jumat. Penurunan itu terjadi setelah data menunjukkan pertumbuhan lapangan kerja AS meningkat tajam pada Agustus.
Data tersebut juga menunjukkan tingkat pengangguran tetap berada di angka 4,1%. Kondisi itu menunjukkan pasar tenaga kerja AS masih cukup kuat.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sekitar 60% pada pertemuan kebijakan The Fed. Angka tersebut meningkat dari sekitar 50% sebelum data ketenagakerjaan AS dirilis.
Data Inflasi Jadi Perhatian Pasar
Amerika Serikat akan merilis data indeks harga produsen pada Kamis. Selanjutnya, pemerintah AS akan merilis data indeks harga konsumen pada Jumat.
Investor akan menggunakan kedua data tersebut untuk menilai arah inflasi dan kebijakan suku bunga The Fed.
Emas selama ini menjadi salah satu aset yang sering digunakan investor sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Namun, kenaikan suku bunga dapat mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil.
Selain emas, sejumlah logam mulia lainnya juga bergerak bervariasi.
Harga perak naik tipis 0,2% menjadi US$66,30 per ons. Platinum menguat 1% menjadi US$1.844,58 per ons, sedangkan paladium turun 2,6% menjadi US$1.351,75 per ons.
(VVR*)









