Rupiah Menguat ke Rp17.632 per Dolar AS, Pasar Cermati Data Inflasi AS
Jakarta, iNBrita.com – Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (8/9/2026). Rupiah berhasil naik 8 poin atau 0,05% dan mengakhiri perdagangan di level Rp17.632 per dolar AS.
Pergerakan positif rupiah tersebut sejalan dengan penguatan sejumlah mat00a uang Asia. Namun, pasar valuta asing kawasan masih menunjukkan pergerakan yang beragam karena investor terus mencermati perkembangan ekonomi global dan kondisi geopolitik.
Rupiah Menguat Bersama Sejumlah Mata Uang Asia
Beberapa mata uang utama Asia mencatat penguatan terhadap dolar AS. Yen Jepang menguat 0,22%, sedangkan dolar Taiwan naik 0,10%. Won Korea Selatan juga mencatat kenaikan sebesar 0,06%.
Di sisi lain, dolar Hong Kong dan dolar Singapura justru mengalami pelemahan. Masing-masing mata uang tersebut turun 0,02% terhadap dolar AS.
Pergerakan mata uang Asia masih dipengaruhi oleh sentimen global. Investor juga menunggu sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter bank sentral AS atau The Fed.
Pasar Menanti Data PPI dan CPI AS
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pasar masih mencermati perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut dapat meningkatkan ketidakpastian dan mendorong investor mengambil posisi lebih hati-hati.
Selain faktor geopolitik, investor juga menunggu data Indeks Harga Produsen (PPI) AS yang akan terbit pada Kamis. Setelah itu, pasar akan mencermati data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada Jumat.
Menurut Ibrahim, data inflasi AS akan menjadi salah satu penentu arah kebijakan The Fed. Jika inflasi menunjukkan angka lebih tinggi dari perkiraan, pasar dapat meningkatkan ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga.
Ibrahim juga menyebut pasar kini memperhitungkan peluang sekitar 60% terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada pekan depan. Ekspektasi tersebut turut mendapat pengaruh dari laporan nonfarm payrolls AS yang menunjukkan hasil kuat pada pekan sebelumnya.
Cadangan Devisa Indonesia Naik
Dari dalam negeri, Bank Indonesia mencatat cadangan devisa Indonesia mencapai US$146,5 miliar pada akhir Agustus 2026. Angka tersebut meningkat dari posisi akhir Juli 2026 yang mencapai US$145,3 miliar.
Bank Indonesia menjelaskan kenaikan cadangan devisa berasal dari penerimaan pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri pemerintah. BI juga terus menjalankan kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah untuk menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global.
Untuk perdagangan Rabu (9/9/2026), Ibrahim memperkirakan rupiah berpotensi melemah. Ia memproyeksikan rupiah bergerak dalam kisaran Rp17.630 hingga Rp17.670 per dolar AS.
(VVR*)









