Sungai Penuh, iNBrita.com – Pemerintah Kota Sungai Penuh terus memperkuat program lingkungan untuk mengejar predikat Kota Adipura pada 2028. Pemkot tidak hanya membangun fasilitas fisik, tetapi juga meningkatkan sanitasi, mengubah perilaku masyarakat, dan menggerakkan warga menjaga kebersihan lingkungan.
Wali Kota Sungai Penuh Alfin, SH, mendorong jajarannya menyiapkan berbagai program pendukung target tersebut. Menindaklanjuti arahan itu, Bapperida Kota Sungai Penuh mengkaji sejumlah program yang dapat meningkatkan kualitas lingkungan sekaligus memperkuat kesiapan daerah menghadapi penilaian Adipura.
Kabid Perekonomian, Sumber Daya Alam, Infrastruktur dan Kewilayahan Bapperida Kota Sungai Penuh, Efa Marni, ST, MT, M.Eng, mengatakan pihaknya telah menyusun sejumlah program strategis sesuai arahan wali kota.
“Kami menindaklanjuti arahan Wali Kota Sungai Penuh dengan melakukan kajian dan menyusun beberapa program yang mendukung target tersebut,” ujar Efa saat ditemui, Jumat (21/8/2026).
Pemkot Fokus Tingkatkan Sanitasi Lingkungan
Efa menjelaskan, Pemkot Sungai Penuh menempatkan peningkatan sanitasi sebagai salah satu program prioritas karena sektor tersebut berkaitan langsung dengan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Program itu juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama penyediaan air minum, peningkatan akses sanitasi, dan penguatan kualitas kesehatan masyarakat.
Selain meningkatkan sarana sanitasi, Pemkot Sungai Penuh mengajak masyarakat menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Pemerintah juga menguatkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) dan Program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM).
“Pemkot Sungai Penuh juga menargetkan deklarasi Kota Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) atau Open Defecation Free (ODF). Kami menyiapkan langkah tersebut untuk mengejar penghargaan STBM dari Kementerian Kesehatan pada 2027,” jelas Efa.
Sandaran Galeh Jadi Percontohan
Pada 2026, Pemkot Sungai Penuh memilih Desa Sandaran Galeh, Kecamatan Kumun Debai, sebagai lokasi percontohan Program Sanitasi Sehat Terpadu.
Melalui program tersebut, pemerintah akan mengajak masyarakat menguras dan membersihkan saluran irigasi serta mengelola sampah dan air limbah yang berada di kawasan tersebut.
Tumpukan sampah selama ini mengganggu aliran air dan mencemari lingkungan. Selain itu, sampah juga menimbulkan bau tidak sedap serta membuka peluang berkembangnya berbagai sumber penyakit.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah akan menerapkan skema Padat Karya Tunai Desa (PKTD). Melalui skema ini, masyarakat tidak hanya membantu memperbaiki lingkungan dan infrastruktur desa, tetapi juga memperoleh kesempatan kerja dan tambahan pendapatan.
Pemerintah juga mengajak warga terlibat langsung dalam setiap tahapan kegiatan. Dengan cara itu, masyarakat dapat membangun rasa memiliki dan meningkatkan tanggung jawab bersama dalam menjaga kebersihan lingkungan.
Pemerintah Libatkan Lintas Sektor
Efa mengatakan Pemkot Sungai Penuh akan menjalankan Program Sanitasi Sehat Terpadu secara bersama-sama dengan berbagai pihak. Pemerintah daerah akan menggerakkan organisasi perangkat daerah (OPD), pemerintah desa, dan unsur masyarakat untuk menyukseskan program tersebut.
“Sebagai koordinator, kami melibatkan Dinas PUPR, DLH, Dinas Kesehatan, Kominfo, kecamatan, pemerintah desa, Kaum Empat Jenis, pers, dan LSM lingkungan,” ungkap Efa.
Menurut Efa, kerja sama lintas sektor akan memperkuat pelaksanaan program. Pemerintah tidak ingin pembangunan sarana sanitasi berhenti pada pembangunan fisik. Karena itu, pemerintah juga mendorong edukasi dan perubahan perilaku masyarakat agar berlangsung secara konsisten.
Melalui program tersebut, Pemkot Sungai Penuh ingin membangun budaya hidup bersih dan sehat di tengah masyarakat. Pada saat yang sama, pemerintah memperkuat kesiapan daerah menghadapi penilaian Adipura.
Dengan pengelolaan sanitasi yang lebih baik, keterlibatan masyarakat, serta kerja sama lintas sektor, Pemkot Sungai Penuh terus mengejar target meraih predikat Kota Adipura pada 2028.
(eny)









