Jakarta, iNBrita.com – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan pelemahan hingga penutupan perdagangan saham pada Kamis (29/10/2026). Tekanan pasar meningkat seiring dengan pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh Rp 18.136. Selain itu, seluruh sektor saham mencatatkan penurunan.
Berdasarkan data RTI, IHSG merosot 3,49% ke level 5.098,05 pada penutupan perdagangan Kamis. Indeks LQ45 juga melemah 4,48% ke posisi 515,28. Seluruh indeks saham acuan berakhir di zona merah.
Saham Berkapitalisasi Besar Tekan IHSG
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji, menjelaskan bahwa saham-saham berkapitalisasi besar menjadi salah satu sumber utama tekanan terhadap IHSG. Sejumlah saham yang membebani indeks antara lain BBCA, ASII, BBRI, TLKM, dan BREN.
Dari pasar global, bursa saham Asia bergerak beragam pada Kamis (29/10/2026). Kinerja perusahaan teknologi global yang bervariasi memicu kekhawatiran investor terhadap besarnya investasi kecerdasan buatan (AI), tingginya utang, serta risiko pembiayaan.
Saham Samsung Electronics melemah lebih dari 5% setelah perusahaan mencatatkan laba operasional kuartal III di bawah ekspektasi pasar. Sementara itu, Alphabet anjlok 10% dalam perdagangan setelah jam bursa. Sebaliknya, Microsoft dan Oracle mencatatkan kinerja positif.
Nafan juga menyoroti kebijakan moneter Amerika Serikat dan risiko utang global. The Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan sambil menunggu data inflasi terbaru. Pada saat yang sama, Moody’s memperingatkan risiko pembiayaan kembali utang akibat tingginya suku bunga.
“Dari sisi makroekonomi, The Fed mempertahankan suku bunga acuan sembari menunggu data inflasi lebih lanjut, sedangkan Moody’s memperingatkan risiko pembiayaan kembali utang akibat suku bunga tinggi,” kata Nafan dalam keterangan kepada Liputan6.com.
Selain faktor ekonomi, ketegangan geopolitik terkait Iran turut menekan sentimen investor. Kondisi tersebut mendorong harga minyak bertahan di atas US$ 100 per barel. Sejumlah bursa saham di Korea Selatan, Hong Kong, Shanghai, Taiwan, dan Indonesia juga mengalami pelemahan.
Dari dalam negeri, Nafan menilai pelaku pasar masih mencermati reformasi tata kelola pasar modal yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama self-regulatory organization (SRO). Ketidakpastian selama proses perubahan tersebut membuat investor cenderung menerapkan strategi wait and see.
IHSG Sempat Menguat Sebelum Anjlok
Sepanjang perdagangan Kamis, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 5.320,89. Namun, tekanan jual membawa indeks turun hingga menyentuh level terendah sekaligus penutupan di 5.098,05.
Data perdagangan mencatat 624 saham mengalami penurunan. Sebaliknya, sebanyak 98 saham menguat dan 70 saham bergerak stagnan.
Pelaku pasar mencatatkan 1.325.313 kali transaksi dengan volume mencapai 23,3 miliar saham. Nilai transaksi harian mencapai Rp 11,3 triliun. Sementara itu, nilai tukar dolar AS berada di kisaran Rp 18.136.
Seluruh Sektor Saham Melemah
Seluruh sektor saham mencatatkan pelemahan pada perdagangan Kamis. Sektor industri memimpin koreksi dengan penurunan 4,64%.
Di sisi lain, sektor barang baku melemah 4,53%, sedangkan sektor infrastruktur turun 4,24%. Sektor energi turut terkoreksi 3,29% dan sektor konsumen siklikal kehilangan 2,55%.
Sementara itu, sektor teknologi turun 2,40%. Sektor keuangan dan properti masing-masing melemah 2,22%. Adapun sektor konsumen nonsiklikal terkoreksi 2,19%, diikuti sektor kesehatan yang turun 1,89%.
Berbeda dari sektor lainnya, transportasi mencatatkan penurunan paling tipis sebesar 0,70%.
Saham DEWA, GGRM, dan ERAA Tertekan
Sejumlah saham mengalami tekanan jual pada perdagangan Kamis. Tiga di antaranya adalah DEWA, GGRM, dan ERAA yang sama-sama berakhir di zona merah.
Saham DEWA Turun 5,83%
Harga saham DEWA merosot 5,83% ke Rp 226 per saham. Pada awal perdagangan, saham ini sempat menguat empat poin ke Rp 244 per saham.
Selama sesi berlangsung, DEWA menyentuh level tertinggi Rp 250 dan level terendah Rp 224 per saham.
Investor memperdagangkan 6.270.299 saham DEWA dengan frekuensi 17.440 kali transaksi. Nilai transaksi harian saham tersebut mencapai Rp 146,1 miliar.
Saham GGRM Melemah 1,08%
Saham GGRM terkoreksi 1,08% ke Rp 16.025 per saham. Saat pembukaan, harganya sempat naik 50 poin ke Rp 16.250 per saham.
Dalam perdagangan hari itu, GGRM mencapai harga tertinggi Rp 16.450 dan harga terendah Rp 16.000 per saham.
Pelaku pasar mencatatkan 1.040 kali transaksi dengan volume 6.788 saham GGRM. Nilai transaksi harian saham ini mencapai Rp 10,9 miliar.
Saham ERAA Anjlok 6,36%
Berbeda dari GGRM, saham ERAA mengalami penurunan lebih dalam, yakni 6,36% ke Rp 515 per saham. Saham ini dibuka stagnan di Rp 550 per saham.
Sepanjang sesi perdagangan, ERAA sempat menyentuh level tertinggi Rp 555 sebelum merosot ke level terendah Rp 515 per saham.
Data perdagangan mencatat volume saham ERAA sebanyak 1.370.479 saham dengan frekuensi 4.926 kali transaksi. Nilai transaksi hariannya mencapai Rp 71,3 miliar.
(vvr*)









