Teheran ,iNBrita.com — 6 Maret 2026 – Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan gelombang serangan militer ke Iran sejak akhir Februari, menewaskan lebih dari 1.200 orang, termasuk warga sipil dan pejabat militer tinggi. Yayasan Martir dan Urusan Veteran Iran melaporkan korban terus bertambah setiap hari.
Media resmi Iran, Press TV, menyebut AS dan Israel menarget sistem pertahanan, pangkalan militer, dan pusat komando Teheran. Namun, sebagian besar serangan menghantam sekolah, rumah sakit, fasilitas olahraga, permukiman padat, bahkan situs bersejarah di ibu kota dan kota-kota lain.
Dalam gelombang serangan pertama, mereka menewaskan Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran, beserta sejumlah komandan militer berpangkat tinggi. Warga menggelar pemakaman massal untuk para korban di Teheran dan kota-kota lain.
Para pejabat Iran mengecam serangan AS dan Israel yang menimpa wilayah sipil dan warisan budaya. Mereka menilai tindakan itu melanggar hukum kemanusiaan internasional dan merupakan kejahatan perang.
Sebagai balasan, Iran menembakkan rudal dan drone ke target-target di Israel serta pangkalan militer AS di negara-negara Teluk. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menegaskan negaranya harus membela diri, sambil tetap menghormati kedaulatan negara lain.
Konflik ini mendorong ketegangan besar di Timur Tengah, mengancam keamanan maritim di Selat Hormuz, dan menimbulkan kekhawatiran internasional terhadap eskalasi yang lebih luas.
(eny)














