Bentrokan Pendukung Trump dan Demonstran “No Kings” Terjadi di Florida
Jakarta, iNBrita.com — Sekitar 50 pendukung Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, melakukan adu argumen dengan demonstran gerakan “No Kings” di West Palm Beach pada Sabtu (28/3) waktu setempat. Selanjutnya, aparat kepolisian memisahkan kedua kelompok untuk mencegah eskalasi konflik.
Gerakan “No Kings” menggelar aksi sebagai bagian dari demonstrasi nasional yang menyoroti berbagai isu. Para demonstran mengkritik konflik internasional, kenaikan harga kebutuhan pokok dan bahan bakar, serta kebijakan pemerintahan Trump.
Namun demikian, sejumlah pendukung Trump datang ke lokasi aksi dan menyuarakan dukungan mereka. Mereka menggunakan megafon dan mikrofon untuk menyampaikan pesan pro Donald Trump . Selain itu, beberapa pendukung mengenakan atribut serta mengibarkan simbol kelompok Proud Boys.
Gelombang Protes Nasional
Secara bersamaan, demonstran “No Kings” menggelar aksi di berbagai wilayah Amerika Serikat. Aksi tersebut berlangsung dari Atlanta hingga San Diego, bahkan warga di Alaska ikut bergabung. Di New York City, puluhan ribu orang turun ke jalan.
Aktor peraih Oscar, Robert De Niro, juga hadir dalam aksi tersebut. Ia menyampaikan kritik keras terhadap Trump dan menyebutnya sebagai ancaman serius bagi kebebasan serta keamanan nasional.
Di sisi lain, penyelenggara mengklaim sedikitnya 8 juta orang berpartisipasi dalam lebih dari 3.300 kegiatan di seluruh 50 negara bagian. Meski demikian, otoritas setempat belum merilis data resmi jumlah peserta secara nasional.
Gerakan Oposisi yang Menguat
Lebih lanjut, aksi ini menjadi bagian dari rangkaian protes yang telah berlangsung beberapa kali dalam kurang dari satu tahun terakhir. Gerakan “No Kings” kini berkembang menjadi salah satu oposisi paling vokal terhadap pemerintahan Trump sejak ia memulai masa jabatan keduanya pada Januari 2025.
Seorang demonstran di Atlanta, Marc McCaughey (36), menyatakan bahwa mereka turun ke jalan karena merasa nilai-nilai konstitusi sedang terancam.
“Tidak ada negara yang bisa berjalan tanpa persetujuan rakyat. Oleh karena itu, kami merasa situasi saat ini tidak normal dan tidak baik-baik saja,” ujarnya.
(eny)














