Harga Minyak Tembus US$100, Trump Sebut Kenaikan Itu “Harga Kecil”
JAKARTA, iNBrita.com — Harga minyak dunia melonjak hingga menembus US$100 per barel setelah konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel memicu ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Lonjakan ini menimbulkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menilai kenaikan harga minyak tersebut sebagai konsekuensi kecil demi menjaga keamanan dunia.
Melalui unggahan di platform media sosialnya, Truth Social, Trump menyatakan harga minyak kemungkinan hanya naik sementara. Ia memperkirakan harga akan kembali turun setelah ancaman nuklir Iran berhasil diatasi.
“Harga minyak jangka pendek yang akan turun dengan cepat ketika ancaman nuklir Iran berakhir merupakan harga yang sangat kecil untuk dibayar demi keselamatan dan perdamaian Amerika Serikat serta dunia,” tulis Trump pada Minggu (8/3/2026).
Pemerintah AS Yakin Lonjakan Bersifat Sementara
Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan bahwa lonjakan harga minyak saat ini hanya bersifat sementara. Menurutnya, strategi dominasi energi yang dijalankan pemerintah AS akan membantu menstabilkan pasar energi global dan mengurangi tekanan pada konsumen.
Leavitt juga menyatakan bahwa pemerintah AS segera mengambil langkah untuk menjaga kelancaran pasokan energi dunia di tengah konflik.
Salah satu langkah yang diumumkan pemerintah adalah pemberian asuransi risiko politik bagi kapal kargo dan kapal tanker minyak yang melintasi jalur strategis energi global.
Ancaman Gangguan Pasokan di Selat Hormuz
Konflik yang melibatkan Iran memicu kekhawatiran terhadap keamanan jalur pengiriman minyak di Selat Hormuz. Jalur ini menjadi salah satu rute energi paling penting di dunia karena sekitar 20% perdagangan minyak global melewati kawasan tersebut.
Iran bahkan mengancam akan menyerang kapal tanker minyak yang melintas di wilayah tersebut, sehingga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi.
Akibatnya, harga minyak berjangka Amerika Serikat melonjak sekitar 18% hingga mencapai sekitar US$108 per barel. Pada Minggu malam, harga minyak sempat menyentuh US$110 per barel, level tertinggi sejak Juli 2022.
Analis Prediksi Harga Bisa Tembus US$150
Sejumlah analis memperkirakan harga minyak dapat melonjak lebih tinggi jika gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut. Bahkan, harga minyak berpotensi menembus US$150 per barel apabila jalur tersebut tetap terganggu hingga akhir Maret 2026.
Ekonom dari Peterson Institute for International Economics, Adnan Mazarei, menilai pasar sebenarnya sudah mengantisipasi lonjakan harga minyak ini. Ia menilai penghentian produksi di beberapa negara Teluk serta potensi konflik berkepanjangan mendorong kenaikan harga.
“Pasar memahami bahwa konflik ini tidak akan berakhir dalam waktu dekat,” ujarnya.
Kenaikan harga minyak juga berpotensi meningkatkan biaya berbagai produk turunan penting, termasuk bahan bakar jet dan bahan baku utama dalam produksi pupuk.
(eny)














