Krisis Timur Tengah: Serangan AS-Israel ke Iran dan Dampaknya
1. Serangan Gabungan AS-Israel
Jakarta, iNBrita.com — Sabtu pagi (29 Februari 2026), Israel melancarkan serangan besar-besaran ke Iran setelah sebelumnya memantau lokasi pejabat senior dan fasilitas rudal di Teheran. Sekitar 200 jet tempur menghantam lebih dari 500 target. Beberapa jam kemudian, Presiden AS Donald Trump mengumumkan keterlibatan AS dalam operasi militer untuk menghilangkan “ancaman yang akan segera terjadi”.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyatakan bahwa serangan membunuh pejabat senior Iran dan memperingatkan serangan lebih lanjut dalam beberapa hari mendatang.
2. Kematian Ayatollah Khamenei
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa serangan membunuh Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dan beberapa anggota keluarganya. Akibatnya, Teheran menetapkan masa berkabung selama 40 hari dan libur nasional tujuh hari. Sementara itu, Trump menyebut Khamenei “salah satu orang paling jahat dalam sejarah” dan menegaskan bahwa AS akan terus melancarkan serangan.
3. Respons Oposisi Iran
Reza Pahlavi, putra mendiang Shah Iran yang tinggal di Washington, menyatakan kematian Khamenei menandai akhir Republik Islam. Ia juga menekankan kesiapan untuk memimpin transisi demokratis di Iran, dengan menyusun konstitusi baru melalui referendum dan menggelar pemilihan umum bebas, sehingga warga Iran dapat menentukan masa depan mereka.
4. Balasan Iran dan Kerusakan Regional
Garda Revolusi Iran menembakkan rudal ke Israel, pangkalan AS di Teluk, dan negara-negara Arab sebagai balasan langsung terhadap serangan gabungan.
Israel: rudal Iran menewaskan 1 orang dan melukai 21 lainnya.
UEA: rudal Iran menewaskan 2 orang di Abu Dhabi dan melukai 4 orang di Dubai.
Arab Saudi, Bahrain, dan Qatar: pasukan Iran meledakkan fasilitas di ibu kota masing-masing.
Irak: serangan udara AS menewaskan 2 anggota kelompok pro-Iran.
Selanjutnya, Garda Revolusi menutup Selat Hormuz karena situasi keamanan yang memburuk, sehingga pasokan minyak global terancam.
5. Dampak Penerbangan dan Wilayah Udara
Negara-negara menutup wilayah udara mereka: Iran, Israel, Qatar, Irak, UEA, Suriah, Yordania, dan Kuwait. Selain itu, maskapai global menangguhkan ribuan penerbangan, termasuk Emirates, Qatar Airways, Delta, Air India, Garuda Indonesia, dan Lufthansa, sehingga perjalanan udara regional terhenti sementara.
6. Pemimpin Baru Iran
Presiden Iran Masoud Pezeshkian, kepala kehakiman Gholamhossein Mohseni Ejei, dan pejabat tinggi lain memimpin periode transisi. Serangan itu juga membunuh Kepala Pasukan Garda Revolusi Mohammad Pakpour dan penasihat tinggi Ali Shamkhani, yang semakin mempercepat restrukturisasi kepemimpinan.
7. Reaksi Dunia
PBB mengadakan pertemuan darurat, dan Sekretaris Jenderal Antonio Guterres memperingatkan bahwa aksi militer dapat memicu eskalasi tak terkendali. Negara-negara Teluk mengecam serangan Iran, sementara Rusia mengecam AS dan Israel karena “menciptakan petualangan berbahaya”. Sebagai respons, OPEC+ (Arab Saudi, Rusia, Irak, UEA, Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, Oman) menggelar pertemuan darurat untuk menyesuaikan produksi minyak agar pasar tetap stabil.
8. Dampak Harga Minyak
Blokade Selat Hormuz berisiko menaikkan harga minyak global. Para analis memperkirakan Brent bisa mencapai US$100 per barel jika Iran menutup jalur itu untuk jangka panjang, karena 20% produksi minyak dunia melewati Selat Hormuz.
(tim)














