Jakarta, iNBrita.com – Ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berpotensi memberi dampak besar bagi ekonomi AS. Seiring meningkatnya konflik, harga energi global naik, sehingga daya beli masyarakat tertekan dan stabilitas ekonomi terganggu.
Akibatnya, harga minyak Brent mencapai level tertinggi sejak Juli 2024. Dengan kondisi ini, harga bensin di SPBU AS diperkirakan naik dalam beberapa hari, menurut John Canavan dari Oxford Economics. Tren kenaikan harga sebenarnya sudah terlihat sejak Januari, dan pengecer biasanya merespons cepat setiap perubahan geopolitik.
Kenaikan biaya energi menekan rumah tangga dan pengeluaran konsumen, yang menyumbang dua pertiga PDB AS. Selain itu, James Knightley dari ING menyebut biaya energi tinggi memengaruhi tarif penerbangan, transportasi, dan distribusi barang. Dampak ini juga menjadi tekanan politik bagi Presiden Donald Trump, karena harga energi memengaruhi sentimen publik menjelang pemilihan.
Di sisi moneter, Federal Reserve menghadapi dilema: inflasi naik menuntut suku bunga tinggi, tetapi perlambatan ekonomi memberi tekanan untuk pelonggaran kebijakan. John Williams, Presiden Federal Reserve New York, menekankan perlunya memantau durasi dan dampak konflik. Dengan demikian, Knightley menilai risiko inflasi jangka pendek membuat pemangkasan suku bunga sulit, sementara bank sentral harus menyeimbangkan inflasi dan lapangan kerja.














