Jakarta, iNBrita.com – Sejumlah pakar pakar UGM menilai lingkungan menilai banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra pada akhir November 2025 merupakan dampak serius dari kerusakan hutan berda di kawasan hulu. Selain dipicu tinggi curah hujan ekstrem, bencana tersebut disebut menjadi semakin parah akibat deforestasi yang berlangsung dalam jangka panjang.
Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi Daerah Aliran Sungai (DAS) Universitas Gadjah Mada (UGM), pakar UGM Dr. Hatma Suryatmojo, mengatakan banjir bandang itu bukan kejadian tunggal, melainkan bagian dari meningkatnya bencana hidrometeorologi selama dua dekade terakhir. Ia menyebut BMKG mencatat curah hujan lebih dari 300 mm per hari saat terjadi puncak kejadian di sejumlah wilayah Sumatra Utara.
Menurut Hatma, hutan yang rusak membuat kawasan hulu kehilangan kemampuan untuk menahan dan menyerap air hujan. Padahal, dalam kondisi utuh, hutan berfungsi sebagai penyangga hidrologi melalui proses intersepsi, infiltrasi, dan evapotranspirasi yang dapat menekan limpasan permukaan.
“Hilangnya tutupan hutan mengakibatkan air hujan tidak lagi terserap optimal karena tanah kehilangan porositas. Limpasan meningkat tajam dan langsung mengalir ke hilir,” ujarnya.
Ia menjelaskan, kerusakan ekosistem juga memicu meningkatkan potensi longsor saat hujan ekstrem. Material longsor yang menutup aliran sungai dapat membentuk bendungan alami yang rentan jebol dan memicu banjir bandang. Sedimentasi akibat erosi turut memicu mempersempit alur sungai dan meningkatkan risiko luapan.
Deforestasi tercatat masif di sejumlah provinsi. Di Aceh, lebih dari 700 ribu hektare hutan hilang dalam kurun 1990–2020. Di Sumatra Utara, tutupan hutan tersisa sekitar 29 persen, termasuk kawasan penting seperti ekosistem Batang Toru yang kini tertekan oleh pembukaan lahan dan aktivitas pertambangan. Sementara itu, Sumatra Barat kehilangan sekitar 740 ribu hektare tutupan pohon sepanjang 2001–2024, dengan laju deforestasi yang terus meningkat.
“Bencana banjir bandang November 2025 merupakan akumulasi kerusakan hutan di hulu DAS. Cuaca ekstrem hanya menjadi pemicu. Daya rusaknya berkaitan langsung dengan kondisi lingkungan yang sudah kritis,” kata Hatma.
Ia menegaskan perlunya pemulihan hutan dan tata kelola DAS secara menyeluruh untuk mencegah kejadian serupa terulang.














