Jakarta, iNBrita.com — Nilai tukar rupiah berada di posisi Rp17.962 per dolar AS pada perdagangan Rabu (24/6) pagi. Posisi ini menunjukkan rupiah melemah sebesar 103 poin atau 0,58 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Pelemahan tersebut terjadi di tengah tekanan eksternal yang masih kuat.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia menunjukkan arah yang bervariasi terhadap dolar AS. Yuan China mencatat penguatan sebesar 0,03 persen. Sebaliknya, peso Filipina melemah 0,34 persen, sementara ringgit Malaysia turun 0,07 persen. Dolar Singapura juga mengalami pelemahan tipis sebesar 0,03 persen. Yen Jepang turun 0,01 persen, sedangkan won Korea Selatan terdepresiasi 0,11 persen. Dolar Hong Kong bergerak stabil tanpa perubahan berarti.
Di sisi lain, mata uang negara maju juga menunjukkan pergerakan campuran. Dolar Kanada menguat sebesar 0,02 persen. Sementara itu, euro Eropa melemah 0,05 persen. Poundsterling Inggris turun 0,01 persen, dan franc Swiss terkoreksi sebesar 0,01 persen.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah masih menghadapi tekanan dari penguatan dolar AS. Ia menjelaskan bahwa pelaku pasar global cenderung menghindari risiko atau menerapkan strategi risk off. Kondisi ini muncul akibat kekhawatiran terhadap tingginya suku bunga global yang bertahan lebih lama.
Lukman menambahkan bahwa sentimen negatif tersebut masih mendominasi pasar keuangan global. Akibatnya, investor memilih aset yang lebih aman seperti dolar AS. Pilihan ini kemudian menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Meski begitu, Lukman melihat adanya sentimen positif yang dapat membantu menahan tekanan terhadap rupiah. Ia menyebut keputusan MSCI yang tetap mempertahankan status Indonesia sebagai emerging market sebagai kabar baik bagi pasar. Status ini dapat menjaga kepercayaan investor terhadap pasar ekuitas domestik.
Untuk perdagangan hari ini, Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp17.800 hingga Rp17.950 per dolar AS. Ia juga mengingatkan pelaku pasar untuk tetap mencermati dinamika global yang dapat memengaruhi pergerakan nilai tukar.
(VVR*)









