Foto Dubes AS Dominasi Menhan Turki Tuai Kritik

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 20 Januari 2026 - 17:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Duta Besar Amerika Serikat Tom Barrack duduk di kursi tengah dalam pertemuan dengan Menteri Pertahanan Turki Yasar Guler dan jajaran militer Turki di kantor Kementerian Pertahanan, Ankara, Jumat (16/1).

Duta Besar Amerika Serikat Tom Barrack duduk di kursi tengah dalam pertemuan dengan Menteri Pertahanan Turki Yasar Guler dan jajaran militer Turki di kantor Kementerian Pertahanan, Ankara, Jumat (16/1).

Ankara, iNBrita.com — Sebuah foto menampilkan Duta Besar Amerika Serikat (AS) Tom Barrack duduk sendirian di kursi tengah saat bertemu Menteri Pertahanan Turki Yasar Guler. Susunan tempat duduk tersebut memicu kehebohan karena pertemuan berlangsung di kantor Kementerian Pertahanan Turki di Ankara.

Susunan Tempat Duduk Picu Kritik Publik

Sejumlah pihak melontarkan kritik terhadap foto itu. Mereka menilai Barrack bersikap layaknya “gubernur kolonial” dan mempertanyakan protokol pertemuan yang menempatkan Duta Besar AS pada posisi paling dominan.

Barrack, yang juga menjabat sebagai Utusan Khusus Presiden AS Donald Trump untuk Suriah, menemui Guler di Ankara pada Jumat (16/1).

Barrack Duduk di Tengah, Pejabat Turki di Samping

Dalam foto yang Kementerian Pertahanan Turki unggah, Barrack duduk sendiri di kursi tengah. Di sisi kanan dan kirinya, Guler duduk bersama jajaran komandan senior Turki, termasuk Kepala Staf Militer.

Foto tersebut segera menyebar luas di media sosial dan memicu gelombang kritik. Banyak warganet menafsirkan posisi duduk itu sebagai simbol dominasi Duta Besar AS yang menempatkan pejabat Turki seolah berada di posisi bawahan.

Politikus Oposisi Sebut Sikap Kolonial

Anggota parlemen Turki dari Partai IYI, Luftu Turkkan, menyampaikan kritik keras melalui media sosial X. Ia mempertanyakan status Barrack dan menyebutnya bertindak seperti gubernur kolonial.

“Tidak ada satu pun pihak yang berhak menggambarkan Turki dalam kondisi tidak berdaya seperti itu,” tegas Turkkan.

Kemenhan Turki Bela Protokol

Pejabat Kementerian Pertahanan Turki membela pengaturan tempat duduk tersebut. Mereka menyatakan bahwa protokol itu tidak dikhususkan untuk Barrack dan telah berlaku bagi sejumlah tamu lain yang berkunjung ke kantor kementerian.

Namun, para pengkritik tetap menolak pembelaan tersebut. Mereka menegaskan bahwa protokol negara bersifat baku dan mengikuti konvensi nasional yang telah ditetapkan.

Mantan Dubes hingga Tokoh AKP Ikut Mengkritik

Wakil Ketua Partai CHP sekaligus mantan Duta Besar Turki untuk AS, Namik Tan, menilai petugas protokol seharusnya memahami dan menerapkan konvensi negara secara profesional.

“Kecuali mereka yang menangani protokol memang tidak memiliki keahlian, seharusnya mereka memahami aturan yang sudah ditetapkan negara,” ujar Tan.

Kritik juga datang dari internal Partai AKP, partai yang didirikan Presiden Recep Tayyip Erdogan. Mantan Ketua Parlemen Turki sekaligus pendiri AKP, Bulent Arinc, menyebut kejadian ini sebagai kesalahan protokol yang sulit dibenarkan.

Arinc menegaskan bahwa meskipun Presiden Trump memberi Barrack tugas khusus, status Barrack tetap sebagai Duta Besar AS dengan kedudukan setara dengan utusan asing lainnya.

“Seorang Duta Besar tidak pantas terlihat memimpin pertemuan dengan Menteri Pertahanan dan para pimpinan militer. Situasi itu tidak sesuai dengan protokol negara,” ujar Arinc.

Ia juga meminta pemerintah segera meninjau ulang praktik tersebut jika hal serupa telah menjadi kebiasaan.

(Ven*)

Follow WhatsApp Channel inbrita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

September 2026 Hadirkan Fenomena Langit yang Memukau
Rumah Hijau Nepal Bertahan di Tengah Banjir Dahsyat
Chelsea Berpeluang Dapat Rp 2,7 Triliun dari Penjualan Striker
Hutan Terluas Dunia Menghadapi Ancaman dan Kerusakan
Aisha Wahab Menang Pemilu Khusus DPR Amerika
Harga Cincin Emas Juara Piala Dunia 2026 Capai Rp196 Juta
Neymar Jadi Sorotan di Piala Dunia 2026 Bersama Brasil
Gerhana Matahari Total Terlama 2027 Ini Wilayah yang Dilintasi
Berita ini 27 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 1 September 2026 - 11:00 WIB

September 2026 Hadirkan Fenomena Langit yang Memukau

Minggu, 30 Agustus 2026 - 12:00 WIB

Rumah Hijau Nepal Bertahan di Tengah Banjir Dahsyat

Kamis, 27 Agustus 2026 - 18:00 WIB

Chelsea Berpeluang Dapat Rp 2,7 Triliun dari Penjualan Striker

Senin, 24 Agustus 2026 - 14:00 WIB

Hutan Terluas Dunia Menghadapi Ancaman dan Kerusakan

Jumat, 21 Agustus 2026 - 18:00 WIB

Aisha Wahab Menang Pemilu Khusus DPR Amerika

Berita Terbaru

ASUS Vivobook S14 OLED (S3407AA) hadir dengan desain tipis dan ringan untuk mendukung aktivitas saat travelling. (Foto: dok. Istimewa/kumparan.com)

Teknologi

ASUS Vivobook S14 OLED: Laptop Ringan untuk Travelling

Jumat, 11 Sep 2026 - 21:00 WIB

Wako Alfin menyerahkan bibit kopi dan kompos kepada masyarakat RKE.

SUNGAI PENUH

Wako Alfin Serahkan Bantuan Bibit Kopi kepada Petani RKE

Jumat, 11 Sep 2026 - 20:00 WIB

Harga perak Antam hari ini turun Rp2.340 menjadi Rp41.860.(Foto : Ilustrasi perak-silver by AI/liputan6.com)

Ekonomi

Harga Perak Antam Hari Ini Turun, Cek Harganya

Jumat, 11 Sep 2026 - 19:00 WIB

Harga emas Antam, Galeri24, dan UBS di Pegadaian mengalami penurunan pada Jumat (11/9/2026).(Foto : Liputan6.com/Angga Yuniar)

Ekonomi

Harga Emas Pegadaian Hari Ini Kompak Turun

Jumat, 11 Sep 2026 - 18:00 WIB

Pengurus Aliansi Merah Putih menyampaikan aspirasi PPPK kepada Kepala BKN Prof. Zudan Arif Fakrullah.(Foto: Dokumentasi AMP for JPNN)

Nasional

AMP Desak PPPK Paruh Waktu Jadi Penuh Waktu

Jumat, 11 Sep 2026 - 17:00 WIB