Bangun Rumah di Bekas Sawah Bisa Berisiko, Ini Penjelasan Ahli
Jakarta, iNBrita.com — Banyak orang bermimpi membangun rumah di tengah hamparan sawah. Selain itu, mereka menginginkan suasana yang tenang, udara sejuk, dan pemandangan hijau karena hal tersebut terasa lebih nyaman dibandingkan tinggal di perkotaan yang padat.
Namun demikian, para ahli meminta masyarakat mempertimbangkan kondisi tanah sebelum membangun rumah di lahan bekas sawah atau rawa. Mereka menegaskan bahwa jenis tanah ini tidak selalu aman untuk konstruksi bangunan.
Tanah Sawah Memiliki Daya Dukung Rendah
Kontraktor Taufiq Hidayat menjelaskan bahwa tanah bekas sawah memiliki tekstur halus, lembek, dan mudah berubah bentuk. Akibatnya, tanah tersebut memberikan daya dukung yang rendah dan mudah bergeser.
Selain itu, pergerakan tanah ini dapat merusak struktur bangunan yang berdiri di atasnya. Dalam kondisi ekstrem, tanah yang tidak stabil bahkan bisa merobohkan bangunan.
“Tanah bekas sawah atau rawa biasanya mudah bergeser. Karena itu, kami harus menganalisis kondisi tanah dengan benar agar bangunan tetap aman,” ujar Taufiq.
Pemilik Rumah Harus Memilih Pondasi yang Tepat
Selanjutnya, para ahli teknik sipil menghitung beban bangunan sejak awal pembangunan, terutama untuk rumah bertingkat seperti dua lantai. Perhitungan ini menentukan jenis pondasi yang paling sesuai dengan kondisi tanah.
Taufiq menjelaskan bahwa kontraktor menggunakan beberapa jenis pondasi untuk lahan bekas sawah, seperti tiang pancang, pondasi cakar ayam, dan pondasi telapak. Dengan demikian, perencana harus menentukan pondasi berdasarkan hasil analisis tanah, bukan perkiraan.
Pengembang Wajib Melakukan Uji Tanah (Sondir)
Sebelum membangun, pengembang melakukan uji tanah atau sondir untuk mengetahui kekuatan lapisan tanah. Tes ini juga menunjukkan kedalaman tanah keras yang dapat menopang bangunan.
Jika pengembang mengabaikan uji ini, maka bangunan berisiko mengalami kerusakan serius. Misalnya, dinding retak, struktur melemah, hingga bangunan turun tidak merata.
“Kalau tanah bergerak tidak stabil, maka retakan muncul di banyak bagian struktur. Kalau penurunan terjadi bersamaan, rumah bisa ambles,” jelasnya.
Lahan Bekas Sawah Bisa Menghasilkan Air Berkualitas Rendah
Selain masalah struktur, lahan bekas sawah juga sering menghasilkan air tanah dengan kualitas kurang baik. Kandungan lumpur dan material organik di dalam tanah mempengaruhi kualitas air tersebut.
Di samping itu, kedalaman tertentu belum tentu langsung menghasilkan air bersih karena kondisi geologi setiap lokasi berbeda.
“Terkadang air di kedalaman tertentu masih terkontaminasi bekas rawa atau sawah. Namun di kedalaman lain bisa lebih baik, meski tidak selalu,” tambah Taufiq.
Kesimpulan
Dengan demikian, pembangunan rumah di lahan bekas sawah tetap memungkinkan, tetapi pengembang harus melakukan kajian teknis secara menyeluruh. Mereka perlu melakukan uji tanah, memilih pondasi yang tepat, dan menghitung struktur secara profesional agar bangunan tetap aman dan tahan lama.
(eny)









