Sukses Raih Omzet Puluhan Juta
Banyuwangi, iNBrita.com — Kelompok Tani Sinar Cabe di Sumbermulyo, Banyuwangi, berhasil meraih keuntungan hingga Rp30 juta per bulan dari usaha budidaya buah naga. Ketua kelompok, Sumartini, menegaskan bahwa mereka tidak memperoleh hasil tersebut secara instan.
Peralihan ke Pertanian Organik
Para petani mulai menanam buah naga sejak 2013. Pada 2016, mereka beralih ke sistem organik. Mereka ingin menghasilkan buah yang lebih sehat bagi konsumen sekaligus menjaga keberlanjutan pertanian.
Masa Sulit dan Inovasi Petani
Pada 2017–2018, para petani menghadapi masa sulit. Harga buah naga grade A hanya berkisar Rp1.000 hingga Rp2.000 per kilogram. Buah grade B dan C tidak laku dijual. Untuk mengatasi kondisi itu, petani mengolah buah busuk menjadi pupuk cair organik.
Sebelumnya, kelompok ini menanam cabai merah besar. Namun, harga cabai yang tidak stabil membuat usaha tersebut sulit bertahan. Berbeda dengan cabai, tanaman buah naga cukup ditanam sekali dan dapat dipanen berulang kali.
Pendampingan dan Perluasan Pasar
Seiring waktu, kelompok tani mendapat pendampingan dari Yayasan Astra–Yayasan Dharma Bhakti Astra (YDBA). Pendampingan ini membantu mereka memahami pasar dan memperluas jangkauan penjualan hingga ke pasar internasional.
Kini, kelompok yang beranggotakan 30 petani tersebut mampu menembus pasar ekspor ke Eropa dan Singapura. Mereka juga memasok buah ke supermarket dan hotel.
Peningkatan Ekspor Buah Naga
Pada 2023, mereka mengekspor 1,7 ton buah naga ke Eropa melalui Nusa Fresh. Pada periode 2023–2024, mereka mengirim 2,4 ton ke Singapura. Selanjutnya, pada 2025–2026, mereka mengekspor 11,8 ton ke Singapura melalui Agro Resources Indonesia.
Posisi Tawar Petani Semakin Kuat
Perubahan terbesar tidak hanya terjadi pada akses pasar, tetapi juga pada posisi tawar petani. Kini, petani dapat menentukan harga berdasarkan biaya produksi dan keuntungan. Buah naga organik memiliki nilai jual lebih tinggi, sekitar Rp5.000 per kilogram dibandingkan buah konvensional. Selain itu, buah organik juga memiliki masa simpan lebih lama.
Pengembangan Produk Olahan
Kelompok tani mengembangkan produk olahan untuk meningkatkan nilai tambah. Mereka mengolah buah cacat ringan menjadi sale buah naga kering melalui kerja sama dengan PT Oreng Osing. Petani melakukan proses pengeringan, sedangkan mitra menangani proses penggorengan.
Dukungan Program dan Pelatihan
Ketua Yayasan Astra-YDBA, Rahmat Samulo, menjelaskan bahwa pendampingan tersebut mendukung Program Desa Sejahtera Astra untuk meningkatkan perekonomian masyarakat. Melalui Pusat Pendampingan UMKM (PPU), petani mendapatkan pelatihan mental dan teknis.
Pelatihan ini membantu petani meningkatkan kualitas, efisiensi biaya, dan ketepatan distribusi sesuai standar pasar modern, baik di dalam maupun luar negeri. Selain itu, program ini membuka akses pasar agar petani dapat terlibat dalam rantai pasok produk buah naga dan turunannya.
(VVR*)









