WASHINGTON DC, iNBrita.com – Satelit teleskop milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Swift, mengakhiri perjalanannya setelah memasuki atmosfer Bumi dan terbakar pada Rabu (4/11). Satelit yang telah menghabiskan dua dekade untuk mengamati ledakan energi terbesar di alam semesta itu memasuki atmosfer di atas wilayah Sumatra Utara, Indonesia.
Angkatan Antariksa Amerika Serikat (US Space Force) mengonfirmasi Swift memasuki kembali atmosfer pada pukul 07.39 waktu setempat di Amerika Serikat atau 12.39 GMT. NASA menyebut satelit tersebut melaju dengan kecepatan sekitar 22 kali kecepatan suara saat memasuki atmosfer di atas Sumatra Utara, sekitar 322 kilometer di utara garis khatulistiwa.
Satelit bernama Neil Gehrels Swift Observatory itu memiliki berat sekitar 1.452 kilogram. NASA memperkirakan panas akibat gesekan dengan atmosfer membakar sebagian besar badan satelit. Meski demikian, sejumlah serpihan masih berpotensi mencapai permukaan Bumi.
NASA memastikan peristiwa jatuhnya satelit tersebut tidak menimbulkan kerusakan maupun korban luka.
Risiko Puing Satelit Jatuh ke Permukaan Bumi Sangat Rendah
Hingga kini, belum ada kepastian mengenai jarak titik masuk kembali satelit ke atmosfer dengan Medan, ibu kota sekaligus kota terbesar di Sumatra Utara yang memiliki sekitar 2,5 juta penduduk. Secara keseluruhan, Sumatra Utara memiliki populasi sekitar 16 juta jiwa.
Sebelum peristiwa tersebut, US Space Force telah memperkirakan kemungkinan puing satelit menghantam kawasan berpenduduk sangat kecil. Lembaga tersebut memperkirakan peluang seseorang mengalami cedera akibat puing satelit hanya satu banding 2.100.
Dean Sladen, insinyur kedirgantaraan dari perusahaan pemasok komponen industri Accu Components yang berbasis di Inggris, menjelaskan bahwa sebagian besar satelit akan terbakar sebelum mencapai permukaan Bumi.
“Hanya segelintir serpihan kecil yang hangus diperkirakan akan mencapai permukaan, tidak ada yang masih bisa dikenali sebagai teleskop,” kata Sladen melalui surat elektronik sebelum satelit memasuki atmosfer.
Sladen menjelaskan bahwa satelit dengan ukuran serupa rutin memasuki kembali atmosfer Bumi. Ia juga menyebutkan bahwa selama hampir 70 tahun penerbangan antariksa, belum ada orang yang meninggal akibat puing-puing satelit yang jatuh.
Meski demikian, Sladen mengingatkan bahwa peningkatan jumlah satelit di luar angkasa dapat memperbesar risiko kecelakaan akibat jatuhnya puing antariksa pada masa mendatang.
Karena itu, ia menilai para pengembang perlu merancang satelit dengan sistem yang memungkinkan wahana tersebut kembali ke Bumi secara aman.
Swift Mengamati Ledakan Energi Alam Semesta Selama Dua Dekade
NASA mengembangkan Swift sebagai teleskop antariksa senilai 500 juta dolar AS atau sekitar Rp9,05 triliun. Misi utamanya mempelajari gamma-ray bursts, yaitu ledakan energi paling intens yang diketahui di alam semesta.
Observatorium tersebut membawa tiga teleskop yang memungkinkan para ilmuwan mengamati berbagai panjang gelombang.
Sejak NASA meluncurkannya pada 2004, Swift telah mengamati ratusan ledakan supernova, lubang hitam yang menghancurkan bintang, semburan sinar-X dari bintang, asteroid, hingga komet.
Seluruh pengamatan tersebut berkontribusi terhadap sekitar 7.000 publikasi ilmiah.
Swift resmi menghentikan operasinya pada 20 Oktober lalu. NASA sebenarnya merancang misi observatorium tersebut hanya untuk berlangsung selama dua tahun. Namun, satelit ini mampu menjalankan tugasnya jauh melampaui target awal.
Dalam beberapa bulan terakhir, Swift mulai mengalami ketidakstabilan orbit karena tidak memiliki sistem penggerak sendiri. Kondisi tersebut akhirnya membuat satelit kembali memasuki atmosfer Bumi.
NASA Gagal Selamatkan Swift Melalui Misi LINK
Sebelum Swift jatuh, NASA sempat berupaya memperpanjang masa operasional observatorium tersebut melalui sebuah misi penyelamatan menggunakan wahana antariksa khusus.
Pada Juli, NASA bekerja sama dengan perusahaan rintisan asal Arizona, Katalyst, meluncurkan wahana bernama LINK. Misi tersebut bertujuan mendekati Swift, mengaitkan diri dengan satelit, kemudian menariknya menuju orbit yang lebih tinggi dan stabil.
Namun, LINK mengalami masalah setelah mencapai luar angkasa. Wahana tersebut mulai berputar tanpa kendali sehingga pengelola misi kesulitan melanjutkan operasi penyelamatan.
Pada pertengahan Agustus, pengelola misi akhirnya membatalkan upaya tersebut. NASA kemudian membiarkan Swift melanjutkan perjalanan hingga kembali memasuki atmosfer Bumi.
Jatuhnya Swift pada Rabu sekaligus mengakhiri perjalanan panjang observatorium antariksa yang selama dua dekade membantu para ilmuwan mempelajari berbagai fenomena energi di alam semesta.
(*)









