Satelit NASA Jatuh di Sumatra Utara, Ini Faktanya

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 7 November 2026 - 06:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Satelit Swift milik NASA diluncurkan pada 2004 untuk mengamati semburan sinar gamma di alam semesta.(NASA's Goddard Space Flight Center Conceptual Image Lab)

Satelit Swift milik NASA diluncurkan pada 2004 untuk mengamati semburan sinar gamma di alam semesta.(NASA's Goddard Space Flight Center Conceptual Image Lab)

WASHINGTON DC, iNBrita.com  – Satelit teleskop milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Swift, mengakhiri perjalanannya setelah memasuki atmosfer Bumi dan terbakar pada Rabu (4/11). Satelit yang telah menghabiskan dua dekade untuk mengamati ledakan energi terbesar di alam semesta itu memasuki atmosfer di atas wilayah Sumatra Utara, Indonesia.

Angkatan Antariksa Amerika Serikat (US Space Force) mengonfirmasi Swift memasuki kembali atmosfer pada pukul 07.39 waktu setempat di Amerika Serikat atau 12.39 GMT. NASA menyebut satelit tersebut melaju dengan kecepatan sekitar 22 kali kecepatan suara saat memasuki atmosfer di atas Sumatra Utara, sekitar 322 kilometer di utara garis khatulistiwa.

Satelit bernama Neil Gehrels Swift Observatory itu memiliki berat sekitar 1.452 kilogram. NASA memperkirakan panas akibat gesekan dengan atmosfer membakar sebagian besar badan satelit. Meski demikian, sejumlah serpihan masih berpotensi mencapai permukaan Bumi.

NASA memastikan peristiwa jatuhnya satelit tersebut tidak menimbulkan kerusakan maupun korban luka.

Risiko Puing Satelit Jatuh ke Permukaan Bumi Sangat Rendah

Hingga kini, belum ada kepastian mengenai jarak titik masuk kembali satelit ke atmosfer dengan Medan, ibu kota sekaligus kota terbesar di Sumatra Utara yang memiliki sekitar 2,5 juta penduduk. Secara keseluruhan, Sumatra Utara memiliki populasi sekitar 16 juta jiwa.

Sebelum peristiwa tersebut, US Space Force telah memperkirakan kemungkinan puing satelit menghantam kawasan berpenduduk sangat kecil. Lembaga tersebut memperkirakan peluang seseorang mengalami cedera akibat puing satelit hanya satu banding 2.100.

Dean Sladen, insinyur kedirgantaraan dari perusahaan pemasok komponen industri Accu Components yang berbasis di Inggris, menjelaskan bahwa sebagian besar satelit akan terbakar sebelum mencapai permukaan Bumi.

“Hanya segelintir serpihan kecil yang hangus diperkirakan akan mencapai permukaan, tidak ada yang masih bisa dikenali sebagai teleskop,” kata Sladen melalui surat elektronik sebelum satelit memasuki atmosfer.

Sladen menjelaskan bahwa satelit dengan ukuran serupa rutin memasuki kembali atmosfer Bumi. Ia juga menyebutkan bahwa selama hampir 70 tahun penerbangan antariksa, belum ada orang yang meninggal akibat puing-puing satelit yang jatuh.

Meski demikian, Sladen mengingatkan bahwa peningkatan jumlah satelit di luar angkasa dapat memperbesar risiko kecelakaan akibat jatuhnya puing antariksa pada masa mendatang.

Karena itu, ia menilai para pengembang perlu merancang satelit dengan sistem yang memungkinkan wahana tersebut kembali ke Bumi secara aman.

Swift Mengamati Ledakan Energi Alam Semesta Selama Dua Dekade

NASA mengembangkan Swift sebagai teleskop antariksa senilai 500 juta dolar AS atau sekitar Rp9,05 triliun. Misi utamanya mempelajari gamma-ray bursts, yaitu ledakan energi paling intens yang diketahui di alam semesta.

Observatorium tersebut membawa tiga teleskop yang memungkinkan para ilmuwan mengamati berbagai panjang gelombang.

Sejak NASA meluncurkannya pada 2004, Swift telah mengamati ratusan ledakan supernova, lubang hitam yang menghancurkan bintang, semburan sinar-X dari bintang, asteroid, hingga komet.

Seluruh pengamatan tersebut berkontribusi terhadap sekitar 7.000 publikasi ilmiah.

Swift resmi menghentikan operasinya pada 20 Oktober lalu. NASA sebenarnya merancang misi observatorium tersebut hanya untuk berlangsung selama dua tahun. Namun, satelit ini mampu menjalankan tugasnya jauh melampaui target awal.

Dalam beberapa bulan terakhir, Swift mulai mengalami ketidakstabilan orbit karena tidak memiliki sistem penggerak sendiri. Kondisi tersebut akhirnya membuat satelit kembali memasuki atmosfer Bumi.

NASA Gagal Selamatkan Swift Melalui Misi LINK

Sebelum Swift jatuh, NASA sempat berupaya memperpanjang masa operasional observatorium tersebut melalui sebuah misi penyelamatan menggunakan wahana antariksa khusus.

Pada Juli, NASA bekerja sama dengan perusahaan rintisan asal Arizona, Katalyst, meluncurkan wahana bernama LINK. Misi tersebut bertujuan mendekati Swift, mengaitkan diri dengan satelit, kemudian menariknya menuju orbit yang lebih tinggi dan stabil.

Namun, LINK mengalami masalah setelah mencapai luar angkasa. Wahana tersebut mulai berputar tanpa kendali sehingga pengelola misi kesulitan melanjutkan operasi penyelamatan.

Pada pertengahan Agustus, pengelola misi akhirnya membatalkan upaya tersebut. NASA kemudian membiarkan Swift melanjutkan perjalanan hingga kembali memasuki atmosfer Bumi.

Jatuhnya Swift pada Rabu sekaligus mengakhiri perjalanan panjang observatorium antariksa yang selama dua dekade membantu para ilmuwan mempelajari berbagai fenomena energi di alam semesta.

(*)

Follow WhatsApp Channel inbrita.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Serangan Siber Guncang Bank Dunia, Kerugian Capai Triliunan
Menonton Drama, Aplikasi Ini Tawarkan Reward Saldo DANA
10 Aplikasi Penghasil Uang Online, Bisa Cair ke DANA
Honda Perkenalkan CBR1000RR-R Fireblade 2027 Terbaru
Hyundai Neira Meluncur, SUV Listrik Tujuh Penumpang Lokal
Block Pop Penghasil Uang , Begini Cara Mendapatkan DANA
Jadwal Hujan Meteor Taurid dan Leonid November 2026
Begini Cara Klaim Saldo DANA Kaget hingga Rp100 Ribu
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 8 November 2026 - 03:00 WIB

Serangan Siber Guncang Bank Dunia, Kerugian Capai Triliunan

Minggu, 8 November 2026 - 02:00 WIB

Menonton Drama, Aplikasi Ini Tawarkan Reward Saldo DANA

Sabtu, 7 November 2026 - 06:00 WIB

Satelit NASA Jatuh di Sumatra Utara, Ini Faktanya

Sabtu, 7 November 2026 - 00:00 WIB

10 Aplikasi Penghasil Uang Online, Bisa Cair ke DANA

Jumat, 6 November 2026 - 19:00 WIB

Honda Perkenalkan CBR1000RR-R Fireblade 2027 Terbaru

Berita Terbaru

 Prosesi tradisi Mandi Balimau masyarakat Tigo Luhah Semurup di Sungai Batang Merao, Kerinci.

KERINCI

Mandi Balimau Tigo Luhah Semurup Meriah, Ribuan Warga Hadir

Minggu, 8 Nov 2026 - 19:00 WIB

Wali Kota Sungai Penuh Alfin menyampaikan capaian pembangunan daerah dalam Rapat Paripurna Istimewa HUT ke-18 Kota Sungai Penuh, 8 November 2026.

Uncategorized

Rapat Paripurna HUT ke-18, Alfin Ungkap Capaian Pembangunan

Minggu, 8 Nov 2026 - 18:00 WIB

Wali Kota Alfin mendampingi Gubernur Jambi Al Haris menyerahkan bantuan pendidikan dan beasiswa Pro Jambi Cerdas 2026 di Kota Sungai Penuh.

SUNGAI PENUH

Wali Kota Alfin Dukung Beasiswa Pendidikan Jambi 2026

Minggu, 8 Nov 2026 - 16:00 WIB