Jakarta, iNBrita.com — November 2026 menghadirkan dua fenomena astronomi menarik yang dapat dinikmati para pencinta langit malam. Hujan meteor Taurid dan Leonid akan menghiasi langit dengan karakteristik yang berbeda. Taurid berpotensi menampilkan kilatan bola api yang terang, sedangkan Leonid menawarkan meteor yang melesat dengan kecepatan sangat tinggi.
Southern Taurids akan mencapai puncak aktivitas pada malam 4-5 November 2026. Selanjutnya, Northern Taurids menyusul pada 11-12 November. Sementara itu, hujan meteor Leonid diperkirakan mencapai puncaknya pada malam 16-17 November 2026.
Masyarakat dapat menyaksikan ketiga periode puncak tersebut tanpa menggunakan teleskop. Namun, pengamat perlu memilih lokasi yang tepat dan memperhatikan kondisi cuaca agar dapat menikmati fenomena ini secara maksimal.
Taurid, Hujan Meteor yang Berpotensi Menghasilkan Bola Api
Hujan meteor Taurid muncul setiap tahun ketika bumi melintasi aliran debu dan serpihan material yang ditinggalkan komet Encke atau 2P/Encke.
Mengutip Space.com, komet Encke memiliki diameter sekitar 4,8 kilometer dan membutuhkan waktu sekitar 3,3 tahun untuk mengelilingi matahari satu kali.
Selama mengitari matahari, komet tersebut melepaskan debu, es, dan batuan ke ruang angkasa. Material itu kemudian membentuk jalur puing yang setiap tahun dilintasi bumi.
Para astronom membagi Taurid menjadi dua kelompok, yakni Southern Taurids dan Northern Taurids. Southern Taurids aktif mulai 20 September hingga 20 November 2026. Sementara itu, Northern Taurids berlangsung pada 20 Oktober hingga 10 Desember 2026.
Kedua kelompok meteor ini tampak berasal dari arah rasi bintang Taurus. Para astronom menyebut titik asal semu tersebut sebagai titik radian.
Ketika bumi melintasi jalur puing komet, partikel-partikel kecil memasuki atmosfer dengan kecepatan sekitar 104.607 kilometer per jam. Interaksi antara partikel dan atmosfer menghasilkan panas serta cahaya yang kemudian terlihat seperti bintang jatuh.
Taurid memiliki keistimewaan karena dapat menghasilkan fireball atau bola api. Meteor berukuran relatif besar dapat menciptakan kilatan cahaya yang jauh lebih terang daripada meteor biasa. Bahkan, beberapa bola api mampu menyaingi kecerlangan planet Venus.
Pada 2026, Southern Taurids menawarkan dua periode puncak aktivitas. Pengamat telah melewati puncak pertama pada 14 Oktober, sedangkan puncak berikutnya berlangsung pada malam 4-5 November.
Dalam kondisi pengamatan yang ideal, Southern Taurids dapat menghadirkan sekitar lima meteor setiap jam. Periode ini juga memberikan peluang bagi pengamat untuk menyaksikan bola api yang terang.
Setelah Southern Taurids, Northern Taurids akan mencapai puncak pada malam 11-12 November 2026. Intensitasnya diperkirakan sekitar lima meteor per jam.
Meskipun tidak menghasilkan meteor dalam jumlah besar, Northern Taurids tetap menarik perhatian karena berpotensi menampilkan kilatan terang dan jejak cahaya panjang.
Pengamat dapat menyaksikan Taurid dari hampir seluruh wilayah dunia, kecuali kawasan Kutub Selatan. Waktu terbaik untuk mengamatinya berlangsung sekitar tengah malam ketika rasi Taurus naik cukup tinggi di langit tenggara.
Leonid Menghadirkan Meteor dengan Kecepatan Luar Biasa
Selain Taurid, November 2026 juga menghadirkan hujan meteor Leonid. Fenomena ini muncul ketika bumi melewati jalur debu dan serpihan material yang berasal dari komet 55P/Tempel-Tuttle.
NASA memperkirakan Leonid akan aktif mulai 6 hingga 30 November 2026. Hujan meteor ini akan mencapai puncak aktivitas pada malam 16-17 November.
Leonid memiliki karakteristik utama berupa kecepatan meteor yang sangat tinggi. Partikel komet dapat memasuki atmosfer bumi dengan kecepatan sekitar 69,7 kilometer per detik atau lebih dari 250.000 kilometer per jam.
Kecepatan tersebut membuat Leonid terkadang menghasilkan kilatan cahaya yang terang dan beragam warna. Selain itu, meteor ini juga berpeluang menciptakan bola api yang meninggalkan jejak cahaya di langit malam.
Leonid juga menawarkan fenomena menarik bernama earthgrazers. Fenomena ini terjadi ketika meteor melintasi atmosfer dengan sudut yang sangat landai sehingga pengamat melihatnya seolah-olah menyentuh cakrawala.
Lintasan yang panjang membuat earthgrazers tampak seperti garis cahaya yang membentang di langit. Dalam kondisi tertentu, meteor tersebut juga dapat memperlihatkan warna yang beragam.
Meskipun memiliki karakteristik menarik, Leonid diperkirakan tidak menghasilkan banyak meteor pada 2026. Pengamat yang memilih lokasi dengan langit gelap kemungkinan hanya dapat melihat kurang dari tiga meteor setiap jam.
Untuk menemukan arah kemunculannya, pengamat dapat mencari rasi bintang Leo. Rasi tersebut menjadi titik radian Leonid. Namun, pengamat sebaiknya tidak hanya memusatkan pandangan pada satu titik karena meteor dapat melintas di berbagai bagian langit.
Leonid juga menyimpan sejarah menarik dalam dunia astronomi. Hujan meteor ini pernah menghasilkan badai meteor yang menghadirkan ratusan hingga ribuan meteor setiap jam.
Siklus sekitar 33 tahun memengaruhi peningkatan aktivitas tersebut. Periode ini mengikuti waktu yang dibutuhkan komet 55P/Tempel-Tuttle untuk menyelesaikan satu kali orbit mengelilingi matahari.
Cara Mengamati Hujan Meteor Taurid dan Leonid
Pengamat tidak membutuhkan teleskop atau teropong untuk menikmati Taurid dan Leonid. Mata telanjang sudah cukup untuk melihat meteor selama pengamat memilih lokasi dan waktu yang mendukung.
Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan untuk menyaksikan fenomena tersebut.
1. Cari lokasi dengan langit gelap
Pilih tempat yang jauh dari pusat kota, kawasan industri, dan lampu jalan. Cahaya buatan dapat mengurangi kemampuan mata dalam menangkap meteor yang redup.
Area terbuka seperti lapangan, perbukitan, atau kawasan pedesaan dapat menjadi pilihan selama pengamat tetap memperhatikan keselamatan dan kondisi lingkungan.
2. Tentukan waktu pengamatan
Luangkan waktu mulai tengah malam hingga menjelang fajar untuk mengamati hujan meteor. Sesuaikan jadwal dengan periode puncak masing-masing fenomena.
Pengamat dapat menyaksikan Southern Taurids pada 4-5 November, Northern Taurids pada 11-12 November, dan Leonid pada 16-17 November 2026.
3. Biarkan mata beradaptasi dengan kegelapan
Berikan waktu sekitar 20-30 menit agar mata menyesuaikan diri dengan kondisi gelap. Hindari membuka layar ponsel atau menatap sumber cahaya terang selama proses tersebut.
Jika membutuhkan penerangan, gunakan senter bercahaya merah agar mata tetap mampu menangkap cahaya meteor yang redup.
4. Siapkan perlengkapan sebelum mengamati
Bawalah jaket, selimut, minuman hangat, dan kursi lipat agar tubuh tetap nyaman selama pengamatan.
Pengamat juga dapat membawa alas untuk berbaring. Posisi tersebut membantu pengamat memandang area langit yang lebih luas tanpa harus terus-menerus menggerakkan kepala.
5. Periksa kondisi cuaca
Pantau prakiraan cuaca sebelum berangkat ke lokasi pengamatan. Pilih malam dengan langit cerah agar awan tidak menghalangi pandangan.
Hujan dan awan tebal dapat menghambat pengamatan meskipun hujan meteor sedang mencapai puncak aktivitasnya.
6. Amati area langit yang luas
Jangan hanya mengarahkan pandangan ke titik radian. Meskipun meteor tampak berasal dari rasi Taurus atau Leo, lintasannya dapat menjangkau berbagai bagian langit.
Dengan mengamati area yang lebih luas, pengamat memiliki peluang lebih besar untuk melihat meteor yang melintas.
Geminid dan Ursid Menutup Kalender Hujan Meteor 2026
Setelah Taurid dan Leonid menghiasi langit November, masyarakat masih memiliki kesempatan untuk menikmati fenomena hujan meteor pada Desember 2026.
Mengutip CNN International, Geminid diperkirakan mencapai puncak aktivitas pada malam 13-14 Desember. Selanjutnya, Ursid akan menyusul pada malam 21-22 Desember 2026.
Kedua fenomena tersebut dapat menjadi agenda menarik bagi pencinta astronomi menjelang pergantian tahun. Dengan memilih lokasi yang minim polusi cahaya dan memperhatikan kondisi cuaca, masyarakat dapat menikmati keindahan hujan meteor secara langsung tanpa peralatan khusus.
(eny)









