Jakarta, iNBrita.com – Di tengah meningkatnya kekhawatiran bahwa kecerdasan buatan (AI) akan menggantikan banyak pekerjaan manusia, sektor keamanan siber atau cybersecurity justru membuka peluang kerja semakin besar.
Perusahaan-perusahaan global kini berlomba mencari ahli keamanan digital untuk menghadapi ancaman kebocoran data dan serangan siber yang semakin kompleks. Bahkan, kebutuhan talenta cybersecurity meningkat drastis dalam beberapa bulan terakhir.
Firma pencarian eksekutif Heidrick & Struggles mengungkapkan bahwa perusahaan kini mencari posisi keamanan siber hampir setiap minggu. Sebelumnya, mereka hanya membuka pencarian posisi tersebut setahun sekali.
“Kebutuhan perusahaan meningkat sangat cepat,” ujar Austin Cowan, headhunter di Heidrick & Struggles, dikutip dari laporan New York Times.
AI Picu Ancaman Baru
Perusahaan teknologi kini semakin banyak memakai AI untuk membuat kode program secara otomatis. Perusahaan AI seperti Anthropic bahkan memperingatkan bahwa model AI terbaru mereka dapat membantu menemukan sekaligus mengeksploitasi kerentanan sistem digital perusahaan.
Karena itu, perusahaan teknologi hingga korporasi besar kini gencar merekrut pakar keamanan siber demi melindungi infrastruktur digital mereka dari ancaman yang terus berkembang.
Angka tersebut menunjukkan bahwa perusahaan terus meningkatkan kebutuhan tenaga ahli keamanan digital di era AI.
Perusahaan Kesulitan Cari Kandidat
Tidak hanya mencari posisi senior, perusahaan juga mulai merekrut engineer dan spesialis keamanan level menengah. Namun, banyak perusahaan masih kesulitan menemukan kandidat yang sesuai karena jumlah tenaga ahli berkualitas masih sangat terbatas.
“Kami bahkan harus menolak sejumlah permintaan klien karena kandidat yang memenuhi syarat sangat sedikit,” katanya.
Kondisi tersebut membuat persaingan perekrutan semakin ketat. Banyak pakar keamanan siber kini mulai mempelajari AI untuk meningkatkan daya saing mereka di pasar kerja.
Gaji Fantastis Jadi Daya Tarik
Lonjakan permintaan tenaga ahli keamanan siber juga mendorong kenaikan gaji secara signifikan.
Perusahaan kini berani menawarkan paket kompensasi hingga US$7 juta sampai US$8 juta per tahun atau setara Rp124 miliar-Rp142 miliar untuk para eksekutif keamanan.
Ia menjelaskan bahwa perusahaan kini mencari engineer yang tidak hanya memiliki kemampuan teknis tinggi, tetapi juga memahami kompleksitas sistem AI dan infrastruktur digital modern.
(eny)









