Jakarta, iNBrita.com — Badan Pangan Nasional (Bapanas) menjelaskan penyebab harga beras yang masih tinggi. Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan, I Gusti Ketut Astawa, menyebut kenaikan ini terjadi karena harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani sedang tinggi.
Ketut menegaskan bahwa harga beras sangat bergantung pada harga GKP. Saat ini, petani menjual GKP di kisaran Rp7.000–Rp7.500 per kilogram. Dengan kondisi ini, harga beras di pasar sulit turun. Pemerintah sebelumnya menetapkan asumsi Harga Eceran Tertinggi (HET) berdasarkan GKP Rp6.500 per kilogram. Karena harga GKP sudah melampaui angka tersebut, harga beras otomatis ikut naik.
Ketut juga melihat sisi positif dari kondisi ini. Petani kini memperoleh harga yang lebih baik sehingga merasa diuntungkan. Kondisi ini mendorong semangat produksi dan mendukung target swasembada pangan.
Di sisi lain, pemerintah tetap melindungi konsumen. Pemerintah menyalurkan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta bantuan pangan. Pada tahap kedua, pemerintah menargetkan penyaluran bantuan kepada 33,24 juta keluarga penerima manfaat (KPM). Bantuan ini membantu puluhan juta masyarakat memenuhi kebutuhan pangan mereka.
Pemerintah optimistis langkah ini dapat menahan kenaikan harga. Penyaluran bantuan pada Agustus akan langsung menambah pasokan beras di tingkat rumah tangga. Akibatnya, permintaan di pasar akan berkurang dan tekanan harga bisa mereda.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga beras masih tinggi pada pekan kedua Juli 2026. Secara nasional, harga beras mencapai Rp15.499 per kilogram. Meski laju kenaikan tidak besar, masyarakat tetap menanggung harga yang sudah tinggi.
BPS juga mencatat kenaikan harga beras terjadi di 128 kabupaten/kota, lebih banyak dibanding pekan sebelumnya. Selain itu, 29 provinsi mengalami kenaikan harga. Beberapa wilayah seperti Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Banten, Papua Selatan, dan Papua Pegunungan mencatat harga stabil. Sementara itu, Jawa Timur, Sumatera Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat mulai mengalami penurunan harga.
(VVR*)









