Jakarta, iNBrita.com — Amerika Serikat dan Israel kembali menyerang Iran. Kali ini, mereka menargetkan fasilitas nuklir Arak dalam operasi terbaru.
Pertama, pejabat Iran menyebut “musuh Amerika-Zionis” menyerang pabrik di Ardakan, Provinsi Yazd. Ia menyampaikan informasi itu sesaat setelah serangan terjadi.
Selanjutnya, organisasi energi atom Iran menjelaskan bahwa serangan tersebut mengenai fasilitas pengolahan uranium. Mereka juga menegaskan bahwa serangan berlangsung hari ini waktu setempat.
Tidak Ada Korban Jiwa
Selain itu, pejabat Provinsi Markazi menegaskan bahwa pasukan AS dan Israel melakukan serangan tersebut. Namun, ia memastikan tidak ada korban jiwa karena pihaknya telah menjalankan langkah pengamanan lebih awal.
Peringatan Evakuasi dari Israel
Sebelum serangan dimulai, militer Israel terlebih dahulu memperingatkan warga sipil di barat laut Arak dan Zona Industri Khir Abad untuk segera evakuasi. Dengan demikian, warga memiliki waktu untuk menjauh dari lokasi target.
Kemudian, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengumumkan rencana serangan melalui platform X dalam bahasa Farsi. Mereka menyatakan akan menargetkan infrastruktur militer Iran di wilayah tersebut.
Tak lama setelah itu, IDF memastikan bahwa Angkatan Udara Israel mulai menyerang sejumlah target di Iran. Mereka mengklaim serangan dilakukan berdasarkan data intelijen yang akurat.
Status Reaktor dan Kekhawatiran Global
Sementara itu, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyebut reaktor air berat Arak masih dalam tahap pembangunan hingga tahun lalu. Artinya, fasilitas tersebut belum beroperasi sepenuhnya.
Di sisi lain, fasilitas ini telah lama memicu kekhawatiran negara-negara Barat. Pasalnya, air berat dapat menghasilkan plutonium yang berpotensi digunakan untuk membuat senjata nuklir.
Pada 2015, Iran menyetujui kesepakatan nuklir dengan sejumlah negara besar. Dalam kesepakatan itu, Iran berjanji memodifikasi fasilitas Arak untuk membatasi potensi produksi plutonium.
Eskalasi Konflik Berlanjut
Namun demikian, kesepakatan tersebut kini sudah tidak berlaku. Akibatnya, ketegangan di kawasan kembali meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Sebelumnya, pada Juni 2025, Israel juga menyerang reaktor Arak saat konflik berlangsung selama 12 hari. Saat itu, IAEA menyatakan reaktor belum aktif dan tidak mengandung material nuklir.
Akhirnya, serangan terbaru ini menunjukkan eskalasi konflik yang terus berlanjut. Oleh karena itu, situasi kawasan kini semakin tegang dan berisiko memicu konflik yang lebih luas.
(VVR*)














