Kinerja Ekspor Kakao Terus Menguat
Jakarta, iNBrita.com — Kementerian Pertanian mencatat ekspor kakao Indonesia mencapai 348 ribu ton dengan nilai US$ 2,65 miliar atau setara Rp 44,6 triliun (kurs Rp 16.832).Seiring dengan capaian tersebut, Kementerian Pertanian memproyeksikan nilai ekspor akan terus meningkat karena pelaku usaha dalam negeri akan meningkatkan produksi domestik pada 2026.
Berdasarkan data Statistik Perkebunan, Indonesia menghasilkan 617 ribu ton kakao pada 2024 dari luas lahan 1,37 juta hektare. Selanjutnya, pada 2025 produksi sedikit menurun menjadi sekitar 616 ribu ton. Namun demikian, pada 2026 pemerintah menargetkan produksi kembali meningkat menjadi 635 ribu ton dengan perluasan areal hingga 1,38 juta hektare. Dengan demikian, peningkatan ini diharapkan mampu memperkuat pasokan di tengah tren kenaikan permintaan global.
Fokus Peningkatan Produktivitas dan Hilirisasi
Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah mengarahkan kebangkitan kakao nasional pada peningkatan produktivitas Ekspor Kakao dan percepatan hilirisasi. Untuk itu, pemerintah menjalankan program peremajaan tanaman, mendorong penggunaan benih unggul, serta memberikan pendampingan intensif kepada petani. Selain itu, pemerintah juga memperkuat pembinaan teknis agar hasil panen meningkat secara berkelanjutan.
Amran menambahkan bahwa Indonesia tidak boleh hanya mengekspor bahan mentah. Oleh karena itu, pemerintah mempercepat pengembangan industri pengolahan agar nilai tambah dapat dinikmati di dalam negeri. Dengan kata lain, hilirisasi menjadi kunci dalam meningkatkan daya saing sektor kakao nasional.
Peran Petani dan Sentra Produksi
Sebanyak 99 persen perkebunan kakao nasional dikelola oleh petani rakyat. Artinya, sekitar 1,5 juta kepala keluarga menggantungkan penghidupan pada komoditas ini. Pada saat yang sama, para petani menyumbang lebih dari 616 ribu ton produksi nasional pada 2024. Karena itu, peningkatan harga dan produktivitas sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan mereka.
Dari sisi wilayah, Sulawesi menopang lebih dari 60 persen produksi nasional atau sekitar 378 ribu ton. Sementara itu, Sumatera menyumbang sekitar 164 ribu ton, terutama dari Lampung dan Sumatera Utara. Dengan kontribusi tersebut, kedua wilayah ini memegang peran strategis dalam menjaga stabilitas produksi nasional.
Momentum Harga Global
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, menyatakan harga kakao domestik mengikuti tren penguatan harga global, khususnya untuk biji kakao fermentasi. Akibatnya, pekebun memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan pendapatan. Namun demikian, ia menekankan pentingnya peningkatan kualitas fermentasi agar harga di tingkat petani tetap optimal.
Ke depan, pemerintah terus mendorong penguatan industri pengolahan, mulai dari biji fermentasi, produksi cocoa liquor dan cocoa butter, hingga produk cokelat jadi. Dengan strategi tersebut, Indonesia tidak hanya memperkuat posisinya sebagai produsen bahan baku, tetapi juga sebagai pemain penting dalam rantai pasok kakao olahan dunia.
Strategi Penguatan Ekonomi Daerah
Secara keseluruhan, dengan luas lahan lebih dari 1,3 juta hektare dan jutaan petani yang terlibat, kakao memegang peran strategis dalam memperkuat ekonomi daerah, khususnya di kawasan timur Indonesia. Pada akhirnya, hilirisasi dan peningkatan produktivitas menjadi langkah utama untuk menjaga stabilitas harga, meningkatkan daya saing, serta memperbaiki kesejahteraan pekebun.
(vvr)













