Kelas Menengah RI Menyusut, Bambang Brodjonegoro Soroti Beban Konsumsi Air Kemasan
Jakarta , iNBrita.com – Jumlah masyarakat kelas menengah di Indonesia kembali menyusut. Kondisi ini menunjukkan bahwa banyak rumah tangga masih menghadapi tekanan ekonomi meski pandemi Covid-19 telah berlalu beberapa tahun lalu.
Berdasarkan laporan Demographic Insights: Dinamika Kelas Menengah di 2025 yang diterbitkan Mandiri Institute pada Februari 2026, jumlah penduduk kelas menengah turun menjadi 46,7 juta jiwa pada 2025. Sementara itu, pada 2024 jumlahnya masih mencapai 47,9 juta jiwa. Dengan demikian, Indonesia kehilangan sekitar 1,2 juta penduduk dari kelompok kelas menengah dalam satu tahun.
Tidak hanya itu, porsi kelas menengah terhadap total populasi nasional juga ikut menurun. Jika pada 2024 kelompok ini mencakup 17,1 persen populasi, maka pada 2025 porsinya hanya mencapai 16,6 persen.
Konsumsi Air Kemasan Ikut Gerus Pengeluaran
Ekonom senior sekaligus mantan Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro, menilai bahwa pandemi dan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) bukan satu-satunya penyebab menyusutnya kelas menengah. Di sisi lain, masyarakat juga menjalankan pola konsumsi yang secara perlahan mengurangi kemampuan finansial mereka.
Sebagai contoh, Bambang menyoroti kebiasaan masyarakat yang mengandalkan air minum dalam kemasan, baik galon maupun botol. Menurutnya, kebiasaan tersebut membuat rumah tangga terus mengeluarkan biaya tambahan yang sebenarnya dapat ditekan.
Selain itu, Bambang membandingkan kondisi Indonesia dengan sejumlah negara maju. Di negara-negara tersebut, pemerintah menyediakan fasilitas air minum publik yang mudah diakses masyarakat. Alhasil, warga tidak perlu membeli air minum setiap hari untuk memenuhi kebutuhan dasarnya.
Dengan adanya fasilitas tersebut, masyarakat dapat menghemat pengeluaran rutin. Pada akhirnya, mereka mampu menjaga daya beli dan kondisi keuangan keluarga dengan lebih baik.
Dampak Pandemi Masih Membayangi
Meski demikian, Bambang menegaskan bahwa konsumsi air kemasan bukan faktor utama yang menyebabkan kelas menengah menyusut. Sebaliknya, pandemi Covid-19 menjadi pemicu terbesar yang mengguncang kondisi ekonomi kelompok tersebut.
Selama pandemi berlangsung, banyak perusahaan mengurangi jumlah pekerja sehingga masyarakat kehilangan sumber pendapatan. Tidak hanya itu, banyak pelaku usaha dari kalangan kelas menengah juga menghadapi penurunan omzet yang tajam hingga akhirnya menutup bisnis mereka.
Setelah pandemi mereda, masyarakat kembali menghadapi tantangan baru. Bank sentral di berbagai negara mempertahankan suku bunga tinggi, sementara nilai tukar rupiah melemah terhadap mata uang asing. Akibatnya, harga berbagai kebutuhan ikut meningkat dan menekan kemampuan belanja rumah tangga.
Harga Beras dan Suku Bunga Tinggi Tekan Daya Beli
Di samping itu, fenomena El Nino mendorong kenaikan harga beras dalam beberapa waktu terakhir. Meskipun pemerintah berhasil menjaga inflasi umum pada level yang relatif stabil, lonjakan harga pangan tetap mengurangi daya beli masyarakat.
Karena itu, Bambang menilai kombinasi pandemi, suku bunga tinggi, pelemahan nilai tukar, dan kenaikan harga pangan mendorong sebagian masyarakat turun dari kelompok kelas menengah ke kategori aspiring middle class atau kelas menengah rentan.
Menurutnya, berbagai tekanan tersebut membuat proses pemulihan ekonomi kelompok kelas menengah berlangsung lebih lambat dibandingkan yang diharapkan.
Judi Online Jadi Ancaman Tambahan
Lebih lanjut, Bambang juga mengingatkan masyarakat terhadap bahaya judi online. Menurutnya, aktivitas tersebut sangat cepat menguras pendapatan karena sifatnya yang adiktif dan mendorong pelaku terus mengeluarkan uang.
Oleh sebab itu, Bambang meminta masyarakat mengelola keuangan secara lebih bijak dan mengendalikan pengeluaran yang tidak perlu. Dengan langkah tersebut, masyarakat dapat menjaga stabilitas ekonomi keluarga sekaligus mempertahankan posisi mereka di kelompok kelas menengah.









