Home / Nasional

Kamis, 17 April 2025 - 09:57 WIB

Ketahuan Dokter di Garut Modus USG Gratis Motif Nafsu

Ilustrasi Pelecehan seksual Dokter di Garut (foto screenshot)

Ilustrasi Pelecehan seksual Dokter di Garut (foto screenshot)

Jakarta, inBrita – Dokter kandungan berinisial MSF di garut Jawa Barat,diduga melakukan pelecehan seksual masih terus dalam penyelidikan pihak kepolisian, setelah dilakukan penangkapan MSF diperiksa secara intensif.

Dilansir dari CNN Indonesia,korban aksi pencabulan MSM sejauh ini ditemukan oleh pihak kepolisian baru dua orang.

Polisi mengatakan dokter kandungan berinisial MSF sudah melakukan praktik di wilayah Garut sejak 2023 lalu. Diduga, aksi pelecehan seksual itu terjadi pada rentang tahun 2023-2024.

“Dia itu praktik di Garut itu sejak Januari 2023 sampai Desember 2024. Nah di antara rentang waktu (dia melakukan perbuatannya),” kata Kasat Reskrim Polres Garut AKP Joko Prihatin kepada wartawan, Rabu (16/4), dikutip CNN Indonesia.

Joko juga menyampaikan saat ini pihaknya masih memeriksa intensif, juga akan berkoordinasi dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) untuk mengusut kasus dugaan pelecehan seksual tersebut.

Dari hasil penyelidikan sementara, terungkap dokter kandungan itu mengiming-imingi USG gratis terhadap korbannya.

“Ada yang ditawari USG gratis atau layanan lainnya,” kata Kapolres Garut AKBP M Fajar Gemilang.

Fajar mengatakan layanan itu diberikan dokter tersebut di Klinik Karya Hasta Garut secara personal tanpa tercatat dalam daftar buku pasien.

‘Layanan-layanan lain secara personal sehingga si korban ini tidak terdeteksi di buku resepsionis klinik itu,” ujarnya.

Masih dari pemeriksaan sementara, Fajar menyebut motif pelaku melakukan perbuatan tak senonoh itu karena hasrat seksual pada pasien.

Baca juga :   Resbob Dilaporkan Atas Ucapan Menghina Suku Sunda

“Motif karena nafsu. Karena beliau merasa bangkit, terangsang gitu ya, melihat dari pasien atau korban,” ucap dia.

Buntut kasus ini dokter kandungan berinisial MSF itu kini sudah tak lagi melakukan praktik di klinik maupun rumah sakit di wilayah Garut, Jawa Barat, setelah dilakukan koordinasi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) dengan Dinas PPPA Garut.

“Lelaku sudah tidak praktik di Karya Harsa, Anisa Queen, maupun RSUD Malangbong,” kata Asisten Deputi Penyediaan Layanan Perempuan Korban Kekerasan KemenPPPA, Ratna Oeni Cholifah.

Ratna mengatakan,Kementerian PPPA hingga saat ini masih terus berkoordinasi dengan pihak terkait untuk penanganan kasus ini.

“Pihak Dinkes pun belum bisa memberikan informasi banyak, karena mau disesuaikan dulu dengan dokumen pendukung lainnya,” ujarnya

Universitas Padjadjaran (Unpad) juga membenarkan MFS merupakan alumni program spesialis di Fakultas Kedokteran.

“Khusus berkaitan dengan terduga pelaku pada kasus di Garut yang videonya telah viral saat ini, hasil penelusuran identitasnya menunjukkan memang benar mengarah ke alumni program spesialis di Fakultas Kedokteran Unpad,” kata Kepala Kantor Komunikasi Publik Dandi Supriadi dalam keterangan resmi.

Kendati demikian, Dandi menyebut kasus dugaan pelecehan seksual itu di luar kewenangan kampus. Sebab, MFS sudah lulus dari Unpad. Menurutnya, dugaan pelecehan MFS ini di luar kewenangan Unpad.
Lebih lanjut, Dandi pun menyerahkan kasus ini kepada kepolisian, institusi rumah sakit, dan organisasi profesi setempat untuk melakukan pembinaan

Baca juga :   Wali Kota Alfin Serahkan Bantuan,Warga Merasakan Manfaat

Salah seorang korban pelecehan seksual MFS turut buka suara. Korban mengaku pelecehan yang dilakukan dokter tersebut terjadi pada tahun 2023, saat ia mengandung anak pertamanya.

Korban yang enggan disebutkan namanya ini bukan bagian dari dua korban yang telah didata pihak berwajib. Ia mengaku belum melapor ke polisi atau pihak manapun.

“Yang aku alami, sama dengan video yang viral sekarang,” ungkapnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (15/4).

Korban menceritakan setelah beberapa kali berobat, ia satu kali mendapatkan perlakuan pelecehan seksual dari dokter tersebut.Ia kemudian mengakui tidak langsung melawan atau memberontak , karena ia merasa tertekan dan takut saat dokter tersebut melakukan pelecehan.

“Enggak, enggak bisa berontak soalnya takut banget, takut salah ya. Takutnya emang gitu cara periksanya. Malah aku langsung cerita dan kata suami aku juga gitu. Kayaknya itu periksanya kayak gitu masih positive thinking kita berdua itu,” ungkapnya.

Menurutnya, ia dan suaminya mempercayai dokter tersebut, karena dokter yang dimaksud merupakan spesialis Obgyn atau kandungan.

“Spesialis Obgyn apa gitu kak dia itu, makanya aku berani banget kontrol tiap bulan sama beliau,” ujarnya.

Korban berharap agar MSF mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatannya. Sebab, perbuatan yang dilakukan MSF telah menimbulkan trauma dan berdampak pada mental para korban.(Tim)

Berita ini 81 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Toyota Raize terbaru dengan desain sporty dan fitur terbaru

Nasional

Toyota Luncurkan Raize Terbaru, Harga Mulai Rp240 Jutaan
Mobil listrik Polytron G3 dan G3+ resmi dipasarkan di Indonesia

Nasional

Polytron Lampaui Merek Jepang Lewat Penjualan Mobil Listrik
Ilustrasi SIM yang digunakan dalam layanan perpanjangan online Polri.

Nasional

Perpanjang SIM Online Tahun 2026, Simak Biayanya
Wanita Gen Z duduk di tamu undangan, siap mendampingi suami menikah lagi

Nasional

Wanita Gen Z Dampingi Suami Nikah Lagi Viral
Menteri Agama Nasaruddin Umar berbicara tentang pembentukan Ditjen Pesantren dalam konferensi pers di Jakarta.

Nasional

Presiden Setujui Pembentukan Ditjen Pesantren Mandiri Tahun Ini
Habiburokhman berbicara kepada media di kompleks parlemen saat membahas RUU Penyesuaian Pidana.

Nasional

DPR Bahas RUU Penyesuaian Pidana Pekan Depan
Rajab Hayatullah siswa SMAN 1 Solok Selatan menunjukkan medali Juara 3 Nasional Cabang Olahraga Hapkido di Surabaya.

Nasional

Siswa SMAN 1 Solok Selatan Juara Nasional Cabor Hapkido

Nasional

Hari Ini Hasil Seleksi PPPK 2024 Diumumkan