Home / Nasional

Jumat, 5 Desember 2025 - 12:05 WIB

Ledakan Konten Pendek dan Ilusi Kompetensi Digital

Ilustrasi konten digital.(SHUTTERSTOCK/METAMORWORKS)

Ilustrasi konten digital.(SHUTTERSTOCK/METAMORWORKS)

Jakarta, iNBrita.com — Ledakan konten pendek di media sosial mendorong banyak orang merasa memahami isu kompleks hanya dengan menonton video berdurasi beberapa detik. Algoritma menampilkan informasi sesuai preferensi pengguna dan membentuk filter bubble yang mempersempit sudut pandang. Kondisi ini membuat masyarakat melihat persoalan secara tidak utuh karena mereka hanya menerima informasi yang menguatkan bias pribadi.

Budaya konsumsi micro-content mempercepat perubahan pola pikir pengguna. Banyak orang menggulir video tanpa henti karena platform merancang pengalaman yang memicu kecanduan. Sistem tersebut mengutamakan views dan likes dibandingkan kualitas informasi. Akibatnya, pengguna menyerap potongan informasi secara cepat tanpa memeriksa sumber atau konteksnya. Pola ini mendorong munculnya keyakinan instan yang sering kali tidak akurat dan sulit dikoreksi.

Baca juga :   Garena Rilis Jadwal Turnamen Free Fire 2026

Arus informasi yang serba singkat juga mengaburkan batas antara hiburan, opini, hoaks, dan pengetahuan ilmiah. Video berdurasi 15 detik yang tampil meyakinkan kerap menggeser penjelasan berbasis riset. Fenomena ini melahirkan “pakar instan” yang membentuk opini publik tanpa dasar metodologis. Suara-suara viral kemudian menekan pembuat kebijakan hingga mereka mengikuti tren yang tidak selalu selaras dengan analisis profesional.

Sebagian ahli yang memiliki kredibilitas pun memanfaatkan otoritas mereka untuk kepentingan tertentu. Tindakan tersebut mempercepat penyebaran misinformasi dan melemahkan kualitas perdebatan publik. Banyak orang akhirnya gagal membedakan fakta dari sensasi, sehingga mereka ikut mengikis kedalaman serta ketelitian diskursus yang seharusnya menopang pemahaman masyarakat.

Baca juga :   Pemerintah Siap Sesuaikan Harga BBM Mulai Awal April

Platform digital turut mendorong pengguna terus berinteraksi melalui notifikasi, rekomendasi pribadi, dan aliran konten tanpa jeda. Mekanisme tersebut mengikat perhatian dan meningkatkan waktu layar setiap kali pengguna membuka aplikasi, membuat mereka semakin sulit keluar dari siklus konsumsi cepat.

Laporan Kaspersky “The Digital Illusion” menunjukkan bagaimana ledakan informasi digital memberi rasa aman palsu kepada pengguna yang menganggap sesuatu benar hanya karena tampil di internet. Masyarakat perlu membangun kembali kebiasaan berpikir mendalam agar tidak terperangkap dalam ilusi kompetensi digital.

Berita ini 22 kali dibaca

Share :

Baca Juga

Mesin ATM menyediakan pecahan Rp10.000 dan Rp20.000 menjelang Idulfitri 2026 untuk tarik tunai THR

Nasional

Pecahan ATM Rp10.000 Meningkat Jelang Idulfitri
Ilustrasi Gerhana Matahari Cincin saat fase puncak dengan cincin cahaya mengelilingi Matahari.

Nasional

Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026
Koperasi Desa Merah Putih mengajukan pinjaman ke bank BUMN.

Nasional

Melalui Koperasi Desa Merah Putih Bisa Ajukan Pinjam Rp 3 Miliar
Dirjen GTK Kemendikdasmen Nunuk Suryani berbicara dalam rapat peninjauan UU Guru dan Dosen di Kompleks Parlemen, Senayan.

Nasional

Pemerintah Pusat Ambil Alih Pengelolaan Guru Nasional
Tim SAR mengevakuasi jasad remaja yang tenggelam di Sungai Gung, Tegal, usai membuat konten lompat dari jembatan.

Nasional

Dua Remaja Tegal Tenggelam Saat Bikin Konten
Ilustrasi pendataan bantuan sosial warga dan petugas mencatat data penerima bansos.

Nasional

Pendataan Bansos Kini Lebih Transparan dan Terbuka

Nasional

Kepala RRI Jambi: Kartini RRI Teruslah Exis Maju dan Pemersatu Bangsa
Uang rupiah dan dolar AS di meja sebagai ilustrasi nilai tukar.

Nasional

Rupiah Melemah ke Rp16.601 per Dolar AS