Kerinci, iNBrita.com – Masyarakat Desa Lempur, Kecamatan Gunung Raya, Kabupaten Kerinci, Jambi, terus menjaga tradisi Mantau sebagai salah satu warisan budaya leluhur. Tradisi lisan yang berisi lantunan nyanyian dan pantun adat ini menjadi bagian penting dari kekayaan budaya Kerinci yang mendapat julukan Negeri Seribu Budaya.
Masyarakat Lempur mempertahankan Mantau bukan sekadar sebagai pertunjukan seni. Mereka juga menjadikan tradisi ini sebagai sarana untuk menyampaikan pesan moral, petuah kehidupan, serta nilai-nilai adat kepada generasi penerus.
Selain itu, masyarakat setempat masih meyakini bahwa Mantau memiliki nilai sakral. Tradisi ini juga menjadi bagian penting dari Tari Tauh Lempur yang mengiringi berbagai prosesi adat.
Tokoh adat Lempur, Daswarsya, menjelaskan bahwa masyarakat biasanya menampilkan Mantau saat prosesi Kenduri Sko. Acara adat tersebut melibatkan seluruh masyarakat dan memiliki kedudukan penting dalam kehidupan masyarakat Lekuk 50 Tumbi Lempur.
Menurut Daswarsya, Mantau memiliki peran khusus dalam rangkaian Kenduri Sko. Tradisi ini tidak hanya menghibur masyarakat, tetapi juga menyampaikan warisan pemikiran dan nilai kehidupan dari para leluhur.
“Mantau bukan sekadar lantunan pantun biasa. Tapi mengandung pesan moral, petuah kehidupan, serta nilai-nilai adat istiadat yang diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Desa Lempur,” kata Daswarsya saat ditemui, Sabtu (7/11/2026).
Perempuan Memainkan Peran Penting dalam Tradisi Mantau
Dalam setiap pertunjukan, masyarakat mengenal pelantun Mantau dengan sebutan Tukang Mantau. Biasanya, perempuan mengambil peran tersebut karena memiliki kemampuan khusus dalam membawakan pantun dan senandung adat.
Tukang Mantau melantunkan syair adat untuk mengiringi para penari Tari Tauh. Bahkan, mereka dapat terus bernyanyi dan berpantun sepanjang malam selama pertunjukan berlangsung.
“Dalam pertunjukannya, Tukang Mantau melantunkan pantun dan senandung adat, bahkan bisa berlangsung sepanjang malam untuk mengiringi para penari Tari Tauh,” jelas Daswarsya.
Para pelantun Mantau juga memadukan suara mereka dengan iringan alat musik tradisional. Mereka menggunakan redap dan gong untuk menciptakan suasana khas yang memperkuat nuansa adat masyarakat Kerinci.
Perpaduan lantunan pantun, senandung, dan musik tradisional tersebut menjadikan Mantau sebagai pertunjukan yang memiliki karakter tersendiri.
Regenerasi Menjadi Harapan Pelestarian Mantau
Di tengah perubahan zaman, masyarakat Lempur masih berupaya menjaga keberlangsungan tradisi Mantau. Daswarsya mengungkapkan bahwa sejumlah generasi penerus mulai menunjukkan bakat dan kemampuan untuk melanjutkan tradisi lisan tersebut.
Kehadiran generasi muda yang memiliki kemampuan melantunkan Mantau memberikan harapan baru bagi masyarakat. Mereka dapat meneruskan warisan leluhur sekaligus menjaga identitas budaya Desa Lempur.
Karena itu, masyarakat perlu terus mengenalkan Mantau kepada generasi muda. Upaya tersebut penting agar tradisi ini tidak hilang akibat perkembangan zaman.
Mantau sendiri tidak hanya mengandalkan kemampuan seseorang dalam bernyanyi atau menyusun pantun. Tradisi ini juga mengajarkan masyarakat untuk memahami sejarah, menjaga pesan leluhur, dan menghormati nilai-nilai adat.
Maestro Mantau Pernah Mengalami Kesurupan Saat Tampil
Rosnaini, Maestro Mantau generasi ketiga, juga memiliki pengalaman menarik selama menjalankan tradisi tersebut. Ia mengaku selalu menghayati setiap syair dan lirik yang keluar dari lantunannya ketika tampil di hadapan masyarakat.
Penghayatan yang mendalam itu bahkan pernah membuat Rosnaini mengalami pengalaman tidak biasa. Ia mengaku pernah mengalami kesurupan saat membawakan Mantau dalam sebuah pertunjukan.
“Pernah ikut kesurupan saat tampil. Tapi walaupun saya kesurupan, penampilan Mantau mengiringi Tari Tauh tetap berjalan, karena ada pengganti sebagai Mantau,” jelas Rosnaini saat menceritakan pengalamannya.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu cerita unik yang berkembang di tengah masyarakat Lempur. Meski demikian, pertunjukan tetap berlangsung karena pelantun lain dapat menggantikan perannya.
Hingga kini, Mantau tetap menjadi salah satu kekayaan budaya masyarakat Kerinci yang memiliki nilai sejarah, seni, dan tradisi. Masyarakat Lempur terus menjaga warisan tersebut agar generasi berikutnya dapat mengenal dan mempelajarinya.
Dengan mempertahankan tradisi Mantau, masyarakat Lempur tidak hanya melestarikan sebuah pertunjukan seni. Mereka juga menjaga identitas, kepercayaan, serta pesan kehidupan yang telah diwariskan para leluhur selama turun-temurun.
(vvr*)









